
SUMBAWA – JOMK Dekenat NTB yang belangsung di Paroki Sumbawa Besar, 24-27 Juni 2025, mengusung tema “Membangun Iman yang Militan bagi Generasi Stroberi.”
Pada Rabu (25/6), peserta dibekali dengan berbagi materi sebagai bekal dan pencerahan untuk OMK. Salah satunya disampaikan Deken NTB. RD. Martinus Emanuel Ano, dengan topik ‘Penguatan Generasi Stroberi yang Militan di Tengah Tantangan dan Peluang Zaman.’
Menurut Deken NTB, kata penguatan menjadi kunci, karena mengandaikan ada pelemahan, artinya sadar ada kelemahan tapi dibiarkan. Dalam konteks ini, kelemahan dari generasi stroberi antara lain mudah rapuh dan menyerah, tidak kuat dalam tantangan dan tekanan. Maka, perlu penguatan sehingga generasi yang dikenal kreatif ini menjadi militant, menjadi generasi yang kuat, kokoh dan tidak mudah rapuh.

“Generasi stroberi itu ibarat buah stroberi, kelihatan indah dari luar tapi ketika dipegang rapuh dan lembek, rasanya pun tidak selalu manis terkadang banyak yang kecut,” ungkapnya.
Menurut Rm. Eman, sapaan akrabnya, penguatan yang perlu dilakukan supaya tidak lemah lunglai seperti stroberi, pertama-tama harus memiliki karakter pribadi yang kuat, dengan berakar pada iman yang tangguh dan militan.
“Banyak OMK sekarang cenderung mengambil jalan pintas dengan membunuh diri karena tidak mampu menahan tekanan yang ada. Dan ini bisa bisa kita lihat dan baca dalam pemberitaan maupun lewat medsos-medsos,” katanya.
Romo Eman, melanjutkan, mental generasi stroberi itu sangat labil, diterpa sedikit langsung layu dan loyo. Berbeda dengan mental seorang yang militant, makin ditantang makin menyala.
Dikatakan Romo Eman, Gereja Katolik, khususnya Keuskupan Denpasar, tentu tidak tinggal diam dalam melihat fenomena ini. Gereja bersikap proaktif dalam pendampingan dan pembinaan orang muda, antara lain lewat JOMK seperti ini maupun kegiatan lainnya. Bahkan OMK juga masuk dalam struktur DPP, diberi ruang untuk berkespresi baik bersifat rohani maupun jasmani.

Lantas, Romo Eman menerangkan tentang tantangan dan peluang generasi stroberi. Tantangan bisa dari dalam diri sendiri dan keluarga, juga datang dari luar, antara lain perubahan zaman yang berpengaruh pada kehidupan orang muda.
Peluang yang dimiliki oleh orang muda saat ini antara lain perhatian Gereja yang memberikan ruang ekspresi yang luas dengan aneka kegiatan, sehingga ada harapan yang tidak mengecewakan.
Harapannya, OMK semakin berbuah dengan gaya hidup dan sikap hidup sesuai nilai Injil, berakar dalam keluarga dan iman Katolik serta membangun diri dengan karakter melalui jati diri OMK yang jelas.

Di akhir paparannya, Rm. Eman, mengajak “OMK, anda boleh saja berbuah bak stroberi, tapi pastikan akar dan batangmu tetaplah seperti kelapa. Sangat diharapkan anda berbuah seperti anggur, tapi ingat tetap sebagai buah anggur yang bercarang pada dan bercabang sebagai ranting Kristus.”
Pelukan Mengubah Dirimu
Pemateri berikutnya adalah seorang Psikolog yang datang dari Jakarta, Veronica Adesla, M.Psi. Kak Veronica, panggilannya, kembali berbicara tentang generasi stroberi dari sudut pandang psikologi klinis, dengan tujuan menemukan kekuatan dalam kerentanan. Topik yang dibahas “Generasi Strawberry-kah Aku?”

Dalam materi ini, Kak Veronica, lebih banyak mengajak peserta untuk menemukan dirinya melalui refleksi dan introspeksi diri, juga tentang perasaannya saat ini, situasi dan pengalaman hidup yang pernah dan sedang dihadapi dan sebagainya.
Mulanya, Kak Veronica mengajak peserta untuk saling berpelukan (sesama jenis kelamin tentunya), kemudian menanyakan perasaan peserta setelah mendapat pelukan hangat temannya. Di antara peserta menjawab ada rasa aman, bahagia, tenang, meneguhkan, dan sebagainya.
Di hadapan peserta, Kak Veronica menerangkan bahwa manusia itu membutuhkan pelukan setiap harinya. “Kita membutuhan 4 pelukan setiap hari untuk bertahan hidup, membutuhkan 8 pelukan setiap hari untuk pemeliharaan diri, dan membutuhkan 12 pelukan setiap hari untuk pertumbuhan diri,” katanya, seraya mengajak OMK untuk menjadi sahabat bagi teman-temannya.

Selepas itu, diputarkan video singkat mengenai pendapat orang muda sendiri tentang generasi stroberi. Dari video yang diputar menemukan banyak jawaban yang intinya hampir sama bahwa generasi stroberi adalah generasi yang kraetif, namun mudah rapuh, cepat tersinggung, gampang menyerah dan tidak kuat menghadapi tantangan dan tekanan.
Dari jawaban mereka, kemudian ditegaskan kembali oleh narasumber bahwa karakter umum dari gen stroberi antara lain rapuh dan daya resiliensi rendah, mudah menyerah dan tidak tahan banting, sulit menerima kritik/teguran, baperan, ingin cepat sukses, lebih memilih zona nyaman, tingkat kreativitas tinggi dan terbuka dengan ide baru, fokus pada Kesehatan mental dan work-life balance.

Disela-sela penjelasannya tentang karakter gen stroberi, lalu kepada peserta diberikan kertas kecil untuk menulis dengan jujur, dari sekian karakter itu, dirinya termasuk dalam karakter yang mana?
Hal berikut yang tidak kalah penting, Kak Veronica, mengajak peserta untuk refleksi diri masing-masing. Peserta dapat bertanya pada diri sendiri ‘apakah saya pernah stress, pernah dendam/menyimpan amarah, pernah ingin menyerah, pernah mengalami situasi tidak tahu harus bagaimana, pernah merasa takut atau terancam. Secara terbuka, beberapa peserta mengangkat tangannya ketika ini ditanyakan secara umum.

Tidak hanya melulu teori, Kak Veronica juga mengajak peserta untuk berdiskusi dalam kelompok menjawab beberapa pertanyaan penuntun yang disiapkannya, yaitu bagaimana kelompok melihat gambaran dunia atau kondisi di sekitar saat ini? Lalu, bagaimana kelompok ikut terlibat dengan dunia dan untuk dunia atau lingkungan sekitar saat ini? Kemudian, bagaimana masing-masing anggota kelompok melihat gambaran dirinya sendiri?
Kak Veronica, mengambil waktu dua sesi dengan total waktu sekitar 3 jam, untuk menjelaskan materinya dan selalu diselingi dengan diskusi dan aktivitas lainnya di sela-sela menjelaskan materi.
Bagian lain yang dijelaskan oleh Psikolog asal Jakarta itu adalah tentang ‘Resiliensi Diri’, yaitu suatu proses dan hasil dari keberhasilan menyesuaikan diri dengan pengalaman hidup yang sulit atau menantang, terutama melalui fleksibilitas mental, emosional dan prilaku serta penyesuaian terhadap tuntutan eksternal dan internal.
Kak Veronica juga mengajak peserta untuk memahami kemampuan regulasi emosi, dengan cara: terima emosi perasaan yang dimiliki, tenangkan diri, pola pikir positif untuk selalu bertumbuh dan berkembang, serta bercerita, beriskusi dengan orang lain yang dipercaya dan kompeten.
Kemudian dia juga mengajak orang muda itu untuk membiasakan diri dengan pola hidup sehat, antara lain perhatikan makanan, tidur secukupnya, biasakan olahraga dan jangan lupa merawat diri.

Berikutnya mengatur waktu untuk bersosilisasi secara nyata, waktu untuk bekerja/belajar/berlatih, waktu untuk berdoa/beribadah, waktu untuk beristirahat, waktu melakukan hal positif dan menyenangkan diri sendiri dan waktu untuk melakukan kegiatan sosial.
Panggilan Kekudusan
Setelah dibekali tiga orang narasumber dari pagi sampai sore, setelah makan malam peserta masih mengikuti materi berikutnya dengan tema panggilan kekudusan.
Dalam materi ini menghadirkan tiga orang suster dari kongregasi SSpS, Abdi Kristus (AK) dan SJMJ. Para biarawati ini, lebih pada materi promosi panggilan, di mana mereka secara bergantian memperkenalkan biara mereka masing-masing.
Materi hari kedua ini ditutup dengan ‘panggilan hidup berkeluarga’ yang disampaikan pasutri Ukky dan Enny. Pasutri ini menjelaskan tentang realita hidup berkeluarga pada zaman modern ini, di mana ada gap antara orang tua dengan generasi Z.
Menurut Ukky dan Enny, orang tua sekarang perlu memahami anak-anak terutama mereka yang masuk dalam Gen Z, dan anak-anak juga perlu pengertian terhadap orang tua. Maka, mau tidak mau orang tua perlu cemplung pada dunia anak-anak serta membangun kolaborasi, sehingga gap antara keduanya tidak terlalu lebar.
“Orang tua juga perlu belajar memahami teknologi digital bila tidak mau tertinggal dan ditinggalkan anak-anaknya,” kata mereka.

Pasutri Ukky-Enny, banyak sharing tentang kehidupan keluargannya, di mana mereka memiliki dua orang anak yang tergolong Gen Z. Lewat rekaman video, kedua anak mereka (Perempuan dan Laki-laki) menceritakan pengalamannya bagaimana membangun relasi dalam keluarga antara mereka yang lahir sebagai Gen Z, dengan orang tua mereka yang tergolong Gen X.*
Hironimus Adil



