Misa Krisma di Katedral, Ungkapan Kesatuan Para Imam dengan Uskup

DENPASAR – Jelang Tri Hari Suci 2026, Misa Krisma kembali digelar di Gereja Roh Kudus Katedral Denpasar. Misa Krisma merupakan momen istimewa sebagai ungkapan kesatuan para imam dengan Uskup sebagai pimpinan Gereja Lokal.
Hampir seluruh imam yang berkarya di Keuskupan Denpasar, terutama yang berkarya di Bali hadir dalam perayaan yang berlangsung Selasa (31/3/2026) petang hingga malam. Sementara para imam di NTB tidak bisa bergabung karena terpisah jarak.
Kekhasan Misa Krisma antara lain para imam membarui janji imamat dihadapan Uskup dan disaksikan umat Allah yang hadir. Kekhasan berikutnya adalah pemberkatan minyak-minyak suci yaitu Minyak Krisma, Minyak Orang Sakit dan Minyak Katekumen, yang kemudian digunakan para imam dalam pelayanan Sakramen kepada umat.

Misa berlangsung khidmat dan agung, dipimpin Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, selaku Selebrant Utama, didampingi puluhan imam yang hadir. Barisan para imam itu tidak semua berada di panti imam, sebagian harus menempati bangku umat tiga deret paling depan bagian tengah.
Dalam pengantar misa, Bapak Uskup mengajak umat untuk senantiasa mendukung para imam dengan doa yang tulus.
Sementara dalam homilinya, Bapak Uskup menegaskan bahwa Yesus datang ke dunia untuk membawa pembebasan bagi orang miskin dan yang tertindas. Tugas perutusan Yesus ini hendaknya diteladani oleh seluruh pengikutNya, baik kaum tertahbis (para imam) maupun para terbaptis (umat Allah).
Bapak Uskup mengatakan, dari bacaan suci dalam misa itu, terutama bacaan Injil, Yesus mengungkapkan visi dan misi perutusan-Nya sebagaimana diramalkan Nabi Yesaya (dalam bacaan pertama Yes: 61:1-3. 6a. 8b-9) tentang diriNya.

Dalam Injil Lukas dilukiskan bahwa ketika hendak membaca Alkitab, kepadaNya diberikan Kitab Nabi Yesaya dan ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta; untuk membebaskan orang-orang tertindas, dan untuk memberitahukan bahwa tahun Rahmat Tuhan telah datang,” (bdk. Lukas 4:16-21).
Lebih lanjut dalam nas itu dikisahkan, Yesus mulai mengajar dan mengatakan “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”
Menurut Bapak Uskup, ramalan Nabi Yesaya tentang diri-Nya, dipakai Yesus untuk ‘berpidato’ setelah dilantik (baptis) BapaNya di Sungai Yordan mengenai visi dan misi perutusanNya di dunia, bahwa Dia datang membawa kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi para tawanan dan orang-orang tertindas atau terpinggirkan, yang buta dapat melihat, dan sebagainya.
Dikatakan Bapak Uskup, kotbah Yesus tentang visi, misi sekaligus program kerja-Nya sebagaimana tertulis dalam Kitab Nabi Yesaya itu, tentu berbeda dengan pidato-pidato para pemimpin dunia. Umumnya setelah dilantik, para pemimpin dunia entah Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, dan lain-lain, menyampaikan pidato tentang dirinya maupun visi, misi dan program kerja mereka. Namun pidato mereka masih sebatas gambaran umum, janji-janji dan harapan.

Sementara Yesus, ketika Dia mengungkapkan visi, misi perutusan-Nya, Dia sudah melakukan semua itu, dan berjuang bersama mereka yang miskin, tertindas, para tawanan, mereka yang dikucilkan dari masyarakat, dan terutama orang-orang berdosa untuk pembebasan mereka dari segala belenggu itu.
Memang situasi yang dihadapi Yesus pada waktu itu, lanjut Bapak Uskup, berada di tengah masyarakat yang umumnya adalah orang-orang miskin dan tertindas karena penjajahan Romawi. Sementara orang Yahudi di sekitar mereka, tidak peduli dan kurang berminat pada masalah sosial, mereka lebih berminat pada ritual dan hukum taurat.
Oleh karena itu Yesus menegaskan visi dan misiNya untuk membebaskan orang-orang kecil dan terpinggirkan, serta para pendosa, serta berjuang bersama mereka agar memperoleh pembebasan.
“Yesus tidak hanya mewartakan kabar baik, tapi berjuang bersama mereka untuk melawan kemiskinan, melawan struktur masyarakat Yahudi yang membelenggu orang-orang miskin, tertindas dan menderita,” tegas Bapak Uskup.
Pembebasan yang dilakukan Yesus, lanjut Bapak Uskup, juga terutama membebaskan manusia dari dosa, sebab dosalah akar dari segala kejahatan dan penindasan.

Bapak Uskup kemudian menarik sebuah penegasan bahwa tugas perutusan Yesus tersebut terus dilaksanakan Gereja sepanjang masa. Gereja terus berjuang untuk membebas manusia dari buta huruf melalui pendidikan, pembebasan dari sakit penyakit lewat karya kesehatan seperti pendirian klinik dan rumah sakit, pembebasan dari penindasan melalui suara kenabian dan pembebasan dari kemiskinan lewat upaya pemberdayaan ekonomi dan bantuan sosial karitatif.
“Gereja bukan hanya imam atau klerus tetapi seluruh umat Allah. Wajib bagi kita semua sebagai Gereja untuk menjalankan misi atau tugas perutusan Yesus ini. Kita semua dipanggil untuk mengentaskan kemiskinan baik secara material atau jasmani, maupun kemiskinan moral seperti membrantas judol, narkoba, pencurian, korupsi, penipuan, dan kejahatan lainnya,” harap Bapak Uskup.
Sebelum mengakhiri homili Bapak Uskup mengungkapkan, “Sore ini di hadapan Allah dan seluruh umat beriman, para imam yang berkarya di Keuskupan Denpasar akan membaharui janji imamat. Kita berdoa, semoga para imam tetap setia pada janji imamat dan tulus melayani umat. Bersama umat juga terlibat dalam perjuangan untuk membebaskan mereka dari miskin secara jasmani maupun moral, bebas dari ketertindasan dan dari dosa.”
Pembaruan janji imamat, imbuh Bapak Uskup, untuk menyadarkan bahwa dalam menjalankan imamat, tidak selalu berjalan baik dan mulus, maka perlu pembaharuan untuk kembali menimba kekuatan Tuhan.
Usai homili, lanjut dengan pembaharuan janji imamat. Seluruh imam yang hadir berdiri mengelilingi altar dan berhadapan dengan Bapak Uskup. Setelah itu, dilanjutkan upacara pemberkatan minyak-minyak kudus.
Sebelum berkat penutup, selaku tuan rumah, Pastor Paroki Roh Kudus Katedral RP. Yosef Wora, SVD mengucapkan terima kasih kepada Bapak Uskup, seluruh imam serta para biarawati, Frater dan umat yang hadir. Rm. Yosef, sekaligus mengundang seluruh imam, biarawati, frater dan petugas liturgi untuk perjamuan bersama dengan DPP Katedral di aula paroki.

Misa Krisma dimeriahkan oleh koor gabungan siswa seminari dan para biarawati dari berbagai kongregasi. Tampak juga umat yang hadir mengikuti misa itu memenuhi ruangan gereja.
Bapak Uskup mengucapkan proficiat kepada para imam yang terlah membaharui janji imamat. Tterima kasih juga kepada seluruh petugas liturgi dan semua umat yang hadir mendukung para imam.
Bapak Uskup ingat bahwa selama 17 tahun menjadi Uskup Denpasar, sudah 16 kali Misa Krisma dilaksanakan dan hanya sekali Misa Krisma ditiadakan karena Covid. “Selama 16 kali Misa Krisma, kehadiran umat seperti ini saja, tidak lebih dan tidak kurang, jumlahnya hampir selalu sama. Semoga ke depan lebih banyak umat yang hadir,” harap Mgr. San.
Usai misa, lanjut foto bersama Bapak Uskup dan para imam. Kemudian menuju aula untuk makan malam bersama. Selamat memasuki Tri Hari Suci*
Hironimus Adil



