
XXVIII
Dayu masih duduk di teras rumahnya. Lamunannya melayang-layang kepada sosok Agas dan Maria. Tetapi lamunannya itu buyar ketika handponnya kembali berdering. Seperti biasa Dayu memeriksa nama penelponnya. Ternyata nomor baru.Ada keengganan untuk meresponnya.Karena itu Dayu biarkan saja terus berdering.
Tante Kristin nongol di teras tempat Dayu duduk dan memintanya menerima telpon kalau berdering lagi.Tante Ririn katakan mungkin dari orang yang selama ini dirindukan.
Handpon kembali berdering.Juga dari nomor yang sama. Kode wilayahnya lokal Bali. Itu berarti yang menelpon Dayu orang yang tinggal di Bali. Atas desakan tante Ririn Dayu menerima telpon tersebut.
“ Halo, dengan siapa?”
“ Dik Dayu, ini aku.”
Dayu sangat mengenal suaranya.Suara yang tersangkut dalam ingatan puluhan tahun. Suara yang menjadi bagian dari hidupnya.Suara yang selama bertahun-tahun ia rindukan.
“ Mas Agas di mana sekarang?”
“ Aku di bandara Ngurah Rai.Pesawat yang kutumpang baru saja mendarat.Jemput aku dik.”
“ Ya Tuhanku.Terima kasih.Mas Agas tunggu.Aku akan jemput mas Agas.”
“ Aku tunggu dik Dayu di pintu kedatangan internasional.”
Di pintu kedatangan internasional Dayu memandang sosok tubuh seorang laki-laki yang nyaris tak dikenali lagi.Rambutnya gondrong dan telah beruban.Namun tubuhnya masih kekar seperti dulu.Yang masih ia kenal kental adalah tatapan mata dan senyumnya. Juga warna suaranya.
Pada jarak sekitar lima meter Dayu meneriakkan namanya.Agas berlari ke arah Dayu dengan kedua tangan terbuka.Agas bersimpuh di depan Dayu.Tak diduga ia bersujud dan mencium kaki Dayu.
“ Jangan lakukan ini mas Agas.”
“ Aku telah berdosa kepada Tuhan dan kepadamu dik Dayu.”
Dayu membantunya untuk berdiri.Agas berdiri di depan matanya.Kedua pasang mata mereka berpagutan.Momentum saling berpagut pandang itu selalu mereka lakukan sebelum Agas ke Australia.Kini seolah lahir kembali.Agas kembali memeluk Dayu.Lalu ia membisikkan kata-kata.
“ Maafkan aku dik Dayu. Aku mengecewakanmu.Aku menyia-nyiakan Maria anakku.”
“ Aku telah memaafkanmu sejak duabelas tahun lalu.”
“ Aku bukan suami yang bertanggung jawab.”
“ Sudah mas Agas.Jangan curhat di sini.Ayo kita pergi.Kita punya rumah.Rumah kita yang dulu.Rumah kita yang tak berubah dari dulu sampai sekarang.”
Mereka melangkah menuju tempat mobil diparkir.Agas tidak memiliki koper besar.Ia hanya memiliki sebuah ransel.Agas menggenggam tangan Dayu berjalan menyelinap antara ratusan orang yang datang dari bandara dan pergi ke bandara. Lalu mobil meluncur melewati jalan tol Bali Mandara.Agas terheran-heran karena di Bali sudah ada jalan tol di atas laut.
Sampai di rumah Penatih Dangin Puri tepat jam enam sore.Mereka tak segera turun dari mobil. Agas mengajak Dayu untuk berdoa Angelus.Dayu bersyukur kebiasaan Agas untuk berdoa Angelus masih terpelihara.Dayu yakin Agas dapat bertahan hidup di penjara selama duabelas tahun karena kekuatan doa.Itu Dayu tahu juga dari pak Gunadi.
Dayu dan Agas segera menghampiri teras di lantai dua.Tempat itu telah ditinggalkan Agas hampir duabelas tahun.Mereka duduk menghadap ke laut Bali.Hal pertama yang Agas tanyakan adalah Maria.
“ Di mana Maria?” Agas menatap Dayu.
“ Maria di Yogyakarta.”
“ Dia masih kuliah?”
“ Maria sudah menyelesaikan kuliahnya.Ia menyandang gelar sarjana ekonomi.”
“ Maria bekerja di Yogyakarta?”
“ Dua tahun lalu Maria memutuskan menjalani kehidupan di biara.Ia bergabung dengan sebuah kongregasi suster.”
“ Jadi Maria calon suster?”
“ Betul sekali mas Agas.Bila tak ada halangan Maria akan menerima busana biarawati pada 8 September.Hari itu adalah pesta kelahiran Santa Perawan Maria.Hari itu ulang tahun Maria.Dan hari itu ulang tahun perkawinan kita.”
“ Tuhan yang Maha Rahim aku menyesal atas dosa-dosaku.”
Agas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Ia merasa berdosa karena telah membiarkan Maria tumbuh kembang sendiri.
“ Aku berdosa pada Tuhan dan padamu dik Dayu. Aku berdosa pada putriku Maria.Aku tahu Maria mungkin tak bisa memaafkan dosaku.”
Agas mendekati pigura foto Maria yang tergantung di dinding. Foto Maria dalam balutan busana adat Bali.
“Dia cantik sekali.Cantik seperti ibunya.Terima kasih dik Dayu. Engkau berhasil menuntun Maria di jalan yang Tuhan kehendaki.”
Mungkin Agas benar mengatakan Dayu berhasil menuntun Maria di jalan yang Tuhan kehendaki. Sumber inspirasi hidup Dayu adalah kitab suci. Begitu banyak ayat alkitab yang memberinya semangat bagaimana harus bertindak.Termasuk dalam mendidik Maria. Dayu ingat ayat-ayat dari kitab Amsal 29:7. Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu,dan mendatangkan sukacita kepadamu.
Dayu tahu bagaimana peran sebagai ibu mendidik Maria untuk berjalan di jalan Tuhan. Menuntun Maria agar dalam pertumbuhannya tidak menyimpang dari jalan yang dikehendaki Tuhan. Amsal 22:6 menulis; Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.
Hampir setiap kesempatan Dayu manfaatkan untuk memperkenalkan Maria kepada hal-hal yang baik.Memberinya contoh bagaimana bersikap dan berperilaku kepada sesama.Dayu sangat terinspirasi ayat dari kitab Ulangan 6:7; Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan,apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
Ketakutan Agas memang beralasan. Ia meninggalkan Maria di usia baru duabelas tahun.Saat ini Maria akan merayakan ulang tahun ke duapuluh empat pada 8 September.Tapi Dayu meyakinkan Agas bahwa Maria sangat merindukannya.
“ Maria sangat merindukanmu.”
“ Aku juga sangat merindukannya.Namun aku masih ragu.Apakah Maria tulus menerima kehadiranku?”
Dayu mengatakan pada Agas bahwa Maria telah diperkenalkan dengan alkitab. Diperkenalkan ayat-ayat yang sangat berkaitan dengan ketaatan seorang anak terhadap orang tuanya. Misalnya dari Surat Kepada Umat di Efesus 6:1-3; Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu-ini adalah suatu perintah yang penting,seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
Sebagai ibu Dayu telah menanamkan pemahaman yang benar kepada Maria bagaimana seharusnya ia memperlakukan orang tuanya dan semua orang yang lebih tua darinya.Kitab Amsal 6:21 menulis;Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu.
Agas menatap Dayu dengan sangat mendalam.Bibirnya bergetar mengucapkan kata-kata.
“ Aku bangga padamu.Juga sangat malu padamu.”
“ Mengapa mas Agas mengatakan itu?”
“ Karena imanmu jauh lebih dewasa dibandingkan aku.Engkau berhasil mendidik anak kita sesuai janji di depan altar saat kita menikah.Aku yang telah gagal.”
“ Selama di penjara mas Agas berdoa untuk istri dan anakmu?”
“ Ya,hampir setiap kesempatan.”
“ Jika aku bisa melakukan yang terbaik untuk Maria itu berkat doa mas Agas juga.Aku tidak sendiri.Mas Agas telah mendidik Maria dengan cara tekun dalam doa.”
Agas tak mampu lagi membendung air mata harunya.Ia memeluk Dayu. Bagi Dayu inilah momentum yang ia rindukan.Sebab dengan kehadiran Agas karunia pernikahan sakramental yang telah mengikat mereka dipulihkan kembali.
Dayu percaya pada kekuatan doa.Dayu merasakan doa-doanya terkabulkan. Kehadiran kembali Agas di kehidupannya merupakan bukti kekuatan doa novena tiga kali Salam Maria itu. Bukti nyata Tuhan menjawab semua doanya dalam rentang waktu hampir dua belas tahun. Matius 21:22 mengatakan; Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya. Dayu telah menerima kembali harta yang hilang. Kini Agas di depan matanya. ***bersambung
