LINTAS PERISTIWA

Jadikan Keluarga Sekolah Pertama Membentuk Habitus Mencintai Lingkungan Hidup

DENPASAR – Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro mengajak keluarga Katolik untuk menjadi sekolah pertama membentuk habitus (kebiasaan) mencintai lingkungan.

Ajakan tersebut disampaikan Rm. Venus, demikian biasa disapa, saat tampil sebagai narasumber pada pembekalan umat se-Dekenat Bali Timur di Catholic Center Denpasar, Kamis (17/9/2026) petang.

Pembekalan tersebut diselenggarakan oleh Bidang Aksi Kemasyarakatan Pusat Pastoral (BAK Puspas) Keuskupan Denpasar. Ada tiga komisi dalam rumpun BAK yang mengkordinir kegiatan ini yaitu Komisi Keluarga, Komisi PSE dan Komisi Komsos.

Tema yang diusung dalam pembekalan itu adalah Keluarga sebagai Sekolah Iman, Moral, Kemanusiaan dan Ekologis.

RD. Evensius Dewantoro, Ketua Komisi PSE sekaligus Ketua BAK Keuskupan Denpasar

Romo Venus, tampil pada sesi kedua dengan judul materi ‘Ekologi Integral dalam Kehidupan Keluarga.’ Sementara sesi sebelumnya adalah Ketua Komisi Komos Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey dengan judul materi ‘Keluarga sebagai Sekolah Pertama membentuk iman, moral, kemanusiaan dan ekologis di era digital.’

Di awal pemaparannya Rm. Venus langsung dengan pertanyaan ‘Mengapa ekologi integral itu penting?’ Ekologi integral, lanjutnya, menyatukan dimensi: lingkungan hidup, sosial dan ekonomi, budaya dan spiritualitas serta kehidupan sehari-hari.

Romo menegaskan keluarga dan paroki dipanggil untuk merawat bumi (lingkungan hidup) sebagai rumah kita bersama. Dalam Laudato Si Paus Fransiskus mengajak semua umat beriman (termasuk umat non Katolik) untuk mendengar jeritan bumi dan jeritan kaum miskin.

Peserta diajak ice breaking untuk meregangkan otot supaya tetap semangat

“Ketika bumi itu rusak, wajah Tuhan ikut rusak karena rusaknya keutuhan ciptaan,” katanya.

Lebih lanjut Romo Venus menegaskan bahwa keluarga adalah tempat pertama membentuk kebiasaan merawat lingkungan. Anak-anak diajarkan menghargai makanan, menggunakan lkistrik dan air secukupnya, memilah dan mengelola sampah, mencintai alam sebagai ciptaan Allah, mau hidup sederhana dan berbagi.

Pertobatan Ekologis

Di sisi lain, Rm. Venus juga mengharapkan selain sebagai sekolah pertama membentuk habitus mencintai lingkungan, keluarga kristiani juga harus menjadi sekolah pertama pertobatan ekologis.

“Kerusakan ekologi bagian dari tantangan iman, sebab krisis lingkungan adalah persoalan spiritual, sosial dan moral. Oleh sebab itu, perlu pertobatan ekologis jika menginginkan lingkungan atau bumi rumah kita bersama ini pulih kembali. Merawat bumi sama dengan mewujudkan iman,” tegasnya.
Romo Venus juga mengingatkan tentang karya pastoral sosial Gereja. Gereja hadir, katanya, bukan hanya untuk bangun sesaat, tetapi membangun perubahan berkelanjutan.

Romo kemudian menjelaskan tentang karya pastoral sosial gereja antara lain karitatif, pemberdayaan dan advokasi, perubahan struktur dan pembentukan habitus.

RD. Venus menyiapkan materi: Ekologi Integral dalam Kehidupan Keluarga

Karitatif itu itu berupa batuan langsung bagi yang membutuhkan; Sementara pemberdayaan dan advokasi adalah mendampingi masyarakat agar mandiri dan bersuara; Lalu perubahan struktur adalah upaya mengubah sistem agar lebih adil dan berkelanjutan; dan pembentukan habitus dengan membangun kebiasaan sebagai budaya hidup bersama.

“Habitus itu dimulai dari kesadaran menjadi kenyataan. Tindakan nyata yang diulang secara berkesinambungan menjadi kebiasaan sosial dan budaya publik. Habitus bukan sekedar kata-kata tetapi tindakan yang membentuk hidup bersama,” imbuhnya.

Salah satu tekanan Romo Venus terkait habitus ini adalah kesadaran tentang masalah sampah. Pemilahan dan pengelolaan sampah yang benar, termasuk upaya mengurangi atau menghemat sampah, menjadi sarana kongkret membentuk ekologis bersama.

“Sampah adalah masalah mendesak bagi semua orang. Masalahnya bukan hanya sampahnya, tapi juga cara pandang kita. Jika mindset berubah, kebiasaan berubah, masa depan pun berubah,” katanya.

Romo Venus, mengingatkan meninggalkan sampah atau menumpuk sampah adalah dosa ekologi, maka perlu merubah mindset, merubah kebiasaan dan pasti merubah masa depan.

Diingatkan, sampah yang tidak dikelola dengan baik berdampak langsung pada Kesehatan, ekologi, dan kehidupan sosial.

Tanggung jawab semua orang dalam pengelolaan sampah, dan ini bisa dibuat oleh Gereja. Misalnya, mengurangi sampah dari sumbernya, menaruh sampah pada tempatnya, memilah dan mengolah sampah secara benar.

Tiga Kelompok Diskusi untuk pendalaman materi

“Habitus merawat bumi termasuk pengelolaan sampah harus dimulai dari keluarga. Keluarga menjadi sekolah pertama membentuk habitus mencintai lingkungan hidup. Pembentukan habitus secara pastoral butuh waktu panjang dan berkelanjutan,” pungkas Ketua BAK Puspas ini.

Usai pemaparan materi, peserta dibagi dalam tiga kelompok untuk diskusi pendalaman materi dengan mendiskusi pertanyaan penuntun yang telah disedikan tim BAK.

Seluruh rangkaian pembekalan ini diakhiri dengan doa oleh RP. Ubaldus,OCD, Pastor Paroki Amlapura serta ditutup secara resmi oleh Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button