Mlampah Ziarah Kuta – Tuka, Mengenang Jejak Sejarah Awal Mula Katolik di Bali

KUTA – Hari masih gelap. Jarum jam menunjukan pukul 05.00 WITA pada Minggu, 13 September 2026. Halaman Gereja Fransiskus Xaverius Kuta mulai kedatangan peserta Mlampah Ziarah.
Totalnya 45 orang berkumpul, 17 di antaranya datang dari luar Bali. Mereka mau ambil bagian dalam perjalanan iman (Mlampah ziarah) tersebut.
Mereka menapaki perjalanan sejauh 22 kilometer dengan berjalan kaki, dari Gereja St. Fransiskus Xaverius Kuta menuju Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka.
Sebelum perjalanan dimulai, tepat pukul 06.00 WITA, RD Ardianus Marlianto, yang akrab disapa Romo Ardi, selaku pastor rekan Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta, memimpin doa pembukaan. Diawali dengan doa Angelus, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Suasana pagi itu terasa khidmat sekaligus penuh semangat.
Mlampah Ziarah dimulai dengan menyusuri pesisir Pantai Jerman Tuban, Pantai Kuta, Legian, Seminyak, hingga Kayuaya. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan melalui Jalan Petitenget, sebelum kembali menyusuri pesisir Pantai Batubelig hingga Pantai Berawa. Kemudian melewati Gereja Babakan, hingga akhirnya rombongan tiba di Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka sekitar pukul 12.30 WITA.
Bukan sekadar perjalanan fisik, langkah demi langkah menjadi ziarah iman, kebersamaan, dan kerinduan untuk semakin dekat dengan Tuhan.Sekaligus ketekunan umat dalam mengikuti jejak perjalanan iman Katolik di Bali.
Mlampah ziarah berpuncak dengan Misa Kudus di Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka yang dipimpin oleh Romo Paskalis Nyoman Widastra, SVD.
Perjalanan Iman
Dalam homilinya, Romo Paskalis menegaskan bahwa hidup adalah sebuah ziarah dari dunia fana menuju kehidupan kekal bersama Tuhan. Waktu terus berjalan, dan setiap langkah kehidupan menjadi bagian dari perjalanan iman.
Romo Paskalis menceritakan sekilas pengalaman ketika retreat di Pulau Batam, dan bertemu rekannya Romo Kris Ratu SVD. Dikatakan kemajuan teknologi, pembangunan, dan kesibukan dunia tidak menghilangkan kerinduan manusia akan Tuhan. Di tengah segala kemajuan, iman tetap hidup dan umat tetap haus untuk dekat dengan-Nya.

Dikisahkan juga saat perjalanan ke Pulau Galang, mengingatkan pada sejarah penderitaan para pengungsi Vietnam akibat perang dan perbedaan ideologi. Indonesia membuka Pulau Galang sebagai tempat perlindungan bagi mereka, dengan dukungan PBB dan pendampingan Gereja Katolik.
“Dalam penderitaan dan ketidakpastian, mereka tidak kehilangan iman. Justru, iman mereka semakin kuat. Mereka percaya bahwa Bunda Maria dan Tuhan senantiasa menyertai serta menuntun perjalanan mereka,” kata Rm. Paskalis.
Menurut Rm. Paskalis, Jalan Salib, kapel, dan berbagai peninggalan di Pulau Galang menjadi kesaksian bahwa perjalanan mereka bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah ziarah iman yang penuh air mata, penderitaan, dan harapan.
Mereka kehilangan harta dan orang-orang terkasih, tetapi tidak kehilangan iman. Bahkan, dari perjalanan itu lahir panggilan-panggilan baru menjadi imam, biarawan, dan biarawati.
“Pulau Galang menjadi saksi bahwa penderitaan, ketika diserahkan kepada Tuhan, dapat menjadi jalan untuk meneguhkan iman dan melahirkan harapan,” imbuhnya.
Lebih lanjut Romo Paskalis mengungkapkan bahwa hidup adalah sebuah ziarah iman. Dalam Injil, Yesus mengajarkan umat-Nya untuk mengampuni tanpa batas: bukan hanya tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali. Pengampunan adalah obat yang menyembuhkan luka dan membebaskan hati.
“Seperti bangsa Israel di padang gurun, perjalanan hidup kita juga penuh ujian, kelelahan, kekecewaan, dan cobaan. Namun, melalui semua itu Tuhan membentuk dan menguatkan iman kita.,” katanya.
Dalam Gereja, sambunganya, akan menemukan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan. Ekaristi adalah oase rohani yang menyegarkan dan meneguhkan kita. Karena itu, ziarah ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan iman menuju tujuan sejati, Tanah Terjanji: kehidupan kekal dan kebahagiaan abadi bersama Tuhan.
“Mari terus saling menguatkan, menjaga iman, dan setia melangkah hingga sampai pada tujuan akhir yang Tuhan janjikan,” pesannya.
Tuka Betlehem-nya Bali
Ketika mengakiri Misa, Romo Paskalis menegaskan bahwa Tuka adalah Betlehem-nya Bali, tempat lahir dan berkembangnya iman Katolik di Bali. Sejak 1936, iman Katolik dari Tuka menyebar ke berbagai wilayah hingga membentuk komunitas-komunitas umat di Bali.
Menurut Romo Paskalis, perkembangan itu tidak lepas dari pengorbanan para pendahulu, termasuk Pater Simon Bois,SVD dan umat yang rela berpindah serta membangun kehidupan baru di Palasari. Dari pengorbanan itu lahirlah gereja, sekolah, klinik, biara, dan komunitas iman.
“Ziarah iman mengingatkan kita bahwa iman yang kita terima adalah warisan perjuangan para pendahulu. Karena itu, tugas kita adalah menjaga, menghidupi, dan mengembangkan iman tersebut agar terus bertumbuh. Sekali lagi, terima kasih banyak atas kunjungan komunitas Mlampah Ziarah,” pungkas Romo Paskalis.
Penulis: Fransiskus Ari Irawan-Umat Paroki Katedral
Editor: Hiro/KomsosKD



