LINTAS PERISTIWA

BAK Bekali Pemberdayaan Keluarga yang Solid, Solider dan Ekologis Se-Dekenat Baltim

DENPASAR – Bidang Aksi Kemasyarakatan (BAK) Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar melaksanakan pembekalan untuk pemberdayaan keluarga yang solid, solider dan ekologis bagi umat se-Dekenat Bali Timur (Baltim).

Paroki-paroki yang termasuk dalam Dekenat Bali Timur dan hadir dalam pembekalan ini yakni Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar, Paroki St. Yoseph Denpasar, Paroki Yesus Gembala Yang Baik Denpasar, Paroki St. Petrus Denpasar, Paroki St. Maria Ratu Rosari Gianyar, Paroki St. Fransiskus Asisi Amlapura dan Stasi (mandiri) St. Sisilia Klungkung.

Pembekalan ini berlangsung sehari di Catholic Center Denpasar, Kamis (17/9/2026). Giat yang sama telah dilakukan BAK di zona lainnya, seperti Dekenat NTB, Bali Barat, Bali Tengah. Khusus Bali Barat masih menyisakan satu zona lagi yaitu Paroki Singaraja dan Tabanan yang rencananya digelar di Singaraja akhir pekan ini.

Kegiatan diawali dengan mencairkan suasana (ice breking) yang di pandu Kristin dan Lorens dari BAK. Dilanjutkan doa pembuka yang dipimpin RD. Agustinus Sugiyarto. Kemudian acara pembukaan yang diisi sambutan Deken Bali Timur RP. Lauresius Ketut Supriyanto, SVD.

Deken Bali Timur RP. Laurensius Ketut Supriyanto, SVD

Deken Bali Timur dalam sambutannya mengajak peserta supaya iman Katolik tetap tumbuh, dan membawa keluarga-keluarga ke arah yang baik dan benar.

“Kita diajak supaya iman katolik terus bertumbuh. Kita juga diajak untuk berjalan bersama, dan membawa keluarga kita ke arah yang baik,” katanya.

Menurut Pater Ketut, tugas Gereja bersama para imam, biarawan, biarawati untuk membawa keluarga-keluarga ke arah yang benar. Oleh karena Gereja peduli terhadap keluarga sehingga pembekalan ini dilaksanakan.

“Gereja selalu berusaha untuk mendampingi keluarga, antara lain lewat kegiatan seperti ini untuk mewujudkan keluarga yang solid dan solider serta bersemangat ekologis. Gereja mendampingi keluarga, karena Gereja peduli supaya kehidupan keluarga teratur dan berakar pada Kristus,” imbuhnya.

Kegiatan ini dibuka oleh Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey. Vikjen yang juga Ketua Komisi Komsos (salah satu komisi dalam rumpun BAK), memaparkan materi Keluarga Sekolah Pertama Kehidupan.

Sebagai sekolah pertama, menurut Rm.Babey, keluarga menjadi sekolah iman, sekolah moral, dan sekolah kemanusiaan. Pendasarannya adalah terang Kitab Suci, Dokumen Gereja dan ajaran Paus Leo XIV.

Menurut Rm. Babey, banyak didikan yang salah di sekolah pertama (keluarga) kepada anak-anak. Seperti kebiasaan melarang anak-anak supaya jangan main keluar rumah di sore hari karena banyak setan. Hal ini menyebakan anak menjadi takut keluar malam karena banyak setan. Atau saat anak menerima pemberian orang dengan tangan kiri, orang tua langsung bilang jangan terima dengan tangan setan.

“Itu maksudnya baik, bahwa dalam tradisi orang Timur biasa terima dengan tangan kanan karena lebih sopan, tapi salah menyampaikan,” katanya.

Lebih lanjut Direktur Puspas ini juga menegaskan, keluarga adalah sekolah pertama dan orang tua adalah pendidik utama. Sebagai orang tua, perlu menyadari bukan apa yang diberikan kepada anak-anak, tetapi manusia macam apa yangs edang dibentuk untuk melalui kehidupannya dalam keluarga.

Peserta pembekalan

Keluarga menurut Rm. Babey, ada dalam rencana Allah, anak adalah gambar Allah, bukan milik orang tua untuk dibentuk sesuka hati (bdk. Kaj: 1:27). Lalu, Iman juga diajarkan berulang-ulang. Katekese pertama anak adalah kehidupan nyata orang tuanya, cara berdoa, mamafkan dan memperlakukan sesama (bdk. Ul 6: 6-7). Ini butuh keteladanan ortu.

Kemudian mendidik berarti membantu anak menemukan jalan yang Tuhan kehendaki, bukan memuaskan impian orang tua (bdk. Amsal 22:6). Keluarga Katolik juga diajak bertumbuh, seperti keluarga nazaret, anak bertumbuh utuh menjadi manusia seutuhnya, jasmani, intelektual, emosional, sosial dan spiritual (Luk. 2: 51-52).

Tiga Pilar

Romo Babey juga menjelaskan tiga pilar sekolah pertama: Sekolah Iman, Sekolah Moral dan Sekolah Kemanusiaan. Mulai dari keluarga anak-anak mengenal iman, diajarkan moral yang benar dan tempat perama menyambut kehidupan, berbagi dan mencintai kemanusiaan.

Vikjen RD. Herman Yoseph Babey9

Dengan demikian, keluarga diajak untuk menghidupkan tiga pilar itu di rumah dengan praktik iman seperti doa keluarga secara teratur dan membaca Kitab Suci. Lalu, praktik moral seperti teladan kebenaran, berani mengatakan yang benar walau sulit. Dan praktik kemanusiaan, menyadarkan anak bahwa manusia tidak hidup sendirian, perlu mengembangkan kepeduliaan pada saudara, tetangga, orang miskin dan mereka yang berbeda.

Romo Babey juga mengingatkan Lima Krisis Keluarga di Zaman Digital: krisis relasi, krisis kehidupan, krisis kemunikasi, krisis identitas, krisis nilai. “Anak-anak kita hidup di tengah tiktok, AI, deepfake dan algoritma,” imbuhnya.

Romo Babey juga sekilas menyampaikan Pesan Paus Leo XIV pada Hari Komunikasi Sosial 2026 dan Ensilk Magnifica Humanitas yaitu menjaga wajah dan suara asli yang sangat relevan dengan kehidupan keluarga

Dikatakan Rm. Babey, orang tua bukan sekadar sebagai pengawas. Orang tua harus menjadi pendamping, pendengar, teladan dan pendidik hati Nurani.

Keluarga juga sebagai ruang wajah dan suara. Maka penting wajah yang saling memandang, suara saling mendengar. Jangan sampai anak memiliki ribuan teman digital, tetapi tidak memiliki satu orang pun di rumah yang mau mendengarkannya.

Model 5 M

Romo Babey menawarkan kepada peserta mengembangkan Model keluarga yang dicita-citakan yaitu 5 M: Memandang, Mendengarkan, Mengasihi, Mengarahkan dan Mengutus.

Disampaikan juga 10 kebiasan yang perlu diperhatikan dalam keluarga Katolik, antara lain doa bersama setiap hari, makan bersama tanpa kehadiran hp, berbicara dari hati ke hati, membaca perikop Kitab Suci bersama, berani saling meminta maaf, menyebutkan satu hal yang disyukuri, melayani orang lain, dan mempunyai waktu khusus bebas dari layar.

“Anak-anak akan kokoh jika kita membekali mereka dengan akar iman, akar kasih, akar moral, akar kemanusiaan, akar keluarga dan akar Kristus,” tegasnya.

Sebagai penutup Romo Babey mengingatkan bahwa keluarga bukan sekadar menghasikan anak yang pintar dan sukses, tetapi anak yang bijaksana, bermakna, berakar dalam Tuhan dan menemukan panggilannya untuk mengasihi dan melayani.

Tiga kelompok Simulasi Katekese Keluarga sebagai Sekolah Iman, Sekolah Moral dan Sekolah Kemanusiaan

Usai materi, acara dilanjutkan dengan simulasi katekese keluarga sebagai sekolah iman, sekolah moral dan sekolah kemanusiaan yang dipandu oleh pengurus BAK Puspas sebagai fasilitator.

Materi berikutnya disampaikan oleh Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro dengan topik ‘Ekologi Kelurga Integral dalam Keluarga.’ *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button