LINTAS PAROKI

Hadirkan RP. Eko Wahyu, OSC, Paroki Sumbawa Besar Gelar Seminar Keluarga

SUMBAWA – Menyambut Tahun Pastoral 2026 yang mengusung semangat mewujudkan Gereja Sinodal yang militan melalui keluarga, Seksi Keluarga Paroki Sang Penebus Sumbawa menggelar seminar akbar bertajuk “Bangkit Menuju Keluarga Bahagia, Sehat, dan Sejahtera.” Seminar ini, mengahadirkan RP. Eko Wahyu, OSC sebagai narasumber.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 2 – 4 Desember 2025 ini, menjadi magnet bagi umat di paroki-paroki se-Pulau Sumbawa. Tercatat sebanyak 490 peserta memadati Gereja Sang Penebus Sumbawa Besar.

Mereka terdiri dari pasangan suami istri (Pasutri), OMK, anggota TNI, hingga perwakilan dari Stasi Alas, Maluk, Tanjung Menangis, Empang, bahkan juga dari Mataram. Turut hadir mendampingi umat, RD. Laurensius Maryono, RD. Hyoga, RD. Danan, dan Frater Rafael.

Memulai Seminar diawali perayaan Ekaristi pada pukul 16.30 Wita di hari pertama. Selepas misa, dilakukan pemukulan gong sebanyak tujuh kali oleh Pastor Paroki, RD. Laurensius Maryono, tanda seminar dibuka secara resmi.

Dalam sambutannya, Romo Maryono menyebut kehadiran narasumber, Romo Eko Wahyu, OSC sebagai rahmat yang menyegarkan umat di tengah himpitan kesibukannya.

“Seminar ini adalah puncak Tahun Yubelium sekaligus persiapan batin menyongsong Natal 2025. Tujuannya memulihkan semangat hidup berumah tangga agar bangkit menjadi keluarga yang bahagia,” ujar Romo Maryono.

Perkawinan Adalah Proyek Allah

Dalam sesi seminar, Romo Eko menekankan teologi dasar bahwa perkawinan Katolik sejatinya adalah “Proyek Allah”, sebuah inisiatif Ilahi untuk menyatukan pasangan yang sepadan.

Dalam keluarga, kata Rm. Eko, penting bangun komunikasi hati dan pengampunan. Hal merefleksikan kisah Perkawinan di Kana.

Romo Eko juga mengingatkan bahwa sukacita perkawinan bisa memudar seiring waktu, terutama di usia pernikahan 10-15 tahun. “Solusinya adalah mengubah pola komunikasi dari adu argumen
(head to head) menjadi dari hati ke hati (heart to heart),” imbuhnya.

Lebih jauh, Rm. Eko menegaskan, karena dasar perkawinan adalah Allah yang setia, pasutri diajak mempertahankan pernikahan seumur hidup meski rasa cinta tinggal tersisa 1%.

Romo Eko menutup dengan pesan kuat tentang pentingnya pengampunan untuk mencegah “kedekilan hati” yang meracuni relasi.

Mengutip ajaran Bapa Paus dan St. Teresa dari Kalkuta, Romo Eko mengingatkan “Pelajaran pertama mencintai adalah harus bisa memaafkan.”

Pencerahan Rm. Eko dalam seminar tersebut memberikan kesan mendalam bagi peserta, salah satunya Martins Antonio, guru SMAK St. Gregorius Sumbawa.

“Kami disadarkan kembali bahwa hubungan suami-istri adalah suci karena Allah sendiri yang menguduskannya. Keluarga bukan sekadar tempat mencari bahagia, melainkan jalan resmi menuju keselamatan,” ungkap Martins.

Seminar ini diharapkan menjadi titik tolak pembaruan iman keluarga-keluarga di Sumbawa. Seminar ini di tutup dengan adorasi. *

Penulis: Made Suryani-Komsos Paroki Sumbawa
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button