LINTAS PERISTIWA

Gereja Sayang Anak dan Jalan Baru Pendampingan Kelompok Remaja

DENPASAR – Rapat kerja Karya Misioner Kepausan Indonesia (Raket KMKI) Regio Nusra yang berlangsung di Bali, 6 – 9 Oktober 2025, kemarin memasuki hari kedua.

Mengawali hari kedua, para peserta mendengarkan sharing dari Dirdios Ruteng RD. Benediktus Gaguk tentang program Gereja Ramah Anak yang sedang dikembangkan di Keuskupan Ruteng.

Menurut Rm. Beben, demikian RD. Benediktus biasa disapa, mereka lebih akrab menyebutnya Gereja (Paroki) Sayang Anak, karena lebih bersifat pastoral dan lebih menyentuh personal.

RD. Benediktus Gaguk, Dirdios KMKI Ruteng (kanan) dan RD. Asno (kiri) moderator

Saat memulai program ini, katanya, muncul pertanyaan, mengapa diperlukan lagi Paroki Sayang Anak, bukankah selama ini perhatian terhadap anak-anak sudah cukup memadai mulai dengan pembaptisan yang menandai mereka sah sebagai anggota Gereja, anak-anak juga masuk dalam kelompok pastoral kategorial melalui Sekami, Sekar, PPA serta terlibat dalam pelbagai even gereja, dan sebagainya.

Pertanyaan reflektif di atas, tentu tidak salah. Namun disadari bahwa apa yang dibuat oleh Gereja Keuskupan Ruteng selama ini lebih berfokus pada pembinaan iman terutama melalui Sekami.

“Kalaupun aspek-aspek lain disentuh, misalnya bakat dan kreativitas, hal tersebut masih bersifat  ‘spontan’, tanpa didesign secara sadar yang bersifat ‘holistik dan integral’,” kata Rm. Beben.

Rm. Beben menjelaskan, setelah bermitra dan berdiskusi dangan Wahana Visi Indonesia (WVI), pendampingan yang holistik dan integral dapat dikembangkan melalui program ‘Pemenuhan Hak Dasar dan Perlindungan Anak,’ yang mesti didesign secara terstruktur, akuntabel dan berkelanjutan.

“Hal-hal itu yang menjadi tekanan utama dalam gerakan Gereja (Paroki) Sayang Anak,” ungkap Rm. Beben, seraya menguraikan 4 hak dasar anak yang harus dipenuhi yaitu hak hidup, hak tumbuh kembang, hak partisipasi dan hak perlindung dari kekerasan, bencana, ancaman perang, teroris, dll.

Suasana Raker KMKI Regio Nusra 2025

Lebih jauh Rm. Beben, menerangkan, Gereja (Paroki) Sayang Anak merupakan persekutuan umat Allah yang mendukung anak-anak bertumbuh kembang dalam cinta kasih kristiani, berpartisipasi dalam kehidupan Gereja, terlindungi dan terwujud martabatnya di bawah penggembalaan seorang imam yang dipercayakan uskup.

Romo Beben juga menjabarkan tentang 13 indikator Paroki Sayang Anak. 13 indikator itu antara lain, adanya Tim PSA yang terdiri atas pelayanan pastoral yang terhubung dengan isu anak: Seksi dan Pembina Sekami, Seksi Keluarga, Seksi Katekese, Seksi JPIC dan Seksi Pendidikan.

Lalu adanya SK, Pengukuhan Tim, dan Deklarasi menuju Paroki Sayang Anak. Kemudiam, adanya kebijakan pemenuhan Hak Anak dan Perlindungan Anak dalam 4 bidang Pelayanan Gereja, adanya Protokol Perlindungan Anak Paroki dan Sistem Pelaporan.

Indikator berikutnya adalah adanya kebijakan keuangan untuk mendukung pastoral anak, Pastor paroki, DPP, Ketua KBG dan umat mengetahui dan memahami isu pemenuhan dan perlindungan anak, dan seterusnya hingga tersedianya sarana dasar di paroki dan kesempatan anak disapa Gereja.

Dari 13 indikator itu masing-masing memiliki aktivitas/kegiatannya, juga setiap indikator dicantumkan peran Pastor Paroki sebagai penanggung jawab utama di tingkat paroki.

Pendampingan Kelompok Remaja

Sharing berikutnya dari Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Weetebula mengenai pendampingan kelompok remaja.

Disadari, dalam Gereja ada Sekami dan OMK sebagai wadah pembinaan anak-anak dan orang muda. Sementara para remaja (sekitar usia SMP-SMA) belum ada wadah pembinaan khusus. Sehingga para remaja ini ada yang tetap aktif di Sekami, ada juga yang sudah bergagung ke OMK.

Bahkan ada yang mengalami kebingungan, mau tetap aktif di Sekami rasanya sudah bukan anak-anak lagi, jika ke OMK merasa masih terlalu muda atau lompatannya cukup jauh. Dalam situasi seperti ini, pilihan terbaik sebagian dari mereka adalah vakum sementara dari kegiatan pembinaan.

Untuk mengisi ruang kosong pembinaan bagi Kelompok Remaja tersebut, Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Weetebula berbagi pengalaman mereka dalam forum Raker tentang wadah yang sudah mereka kembangkan khusus untuk Kelompok Remaja.

Tanya jawab mendalami materi yang dibahas

Di KA. Ende, menurut Direktur KMKI RD. Ayub Ninung, memiliki wadah yang namanya Jadi Pendampin Adik yang disingkat JPA. JPA adalah pendampingan khusus untuk remaja berusia SMP dan SMA. Sedangkan Sekami khusus untuk anak SD. Sehingga jenjangnya ada Pendamping, JPA dan Sekami.

Diakon Ferdianus, RD. Josinto, Ibu Gabriela Nio dan RD. Ayub

Sekretaris KMKI KA. Ende, Ibu Gabriela Nio menambahkan, Tim KMKI KA Ende melayani PAUD, Sekami dan JPA.  Namun, modul dan metode pendampingan antara JPA dengan Sekami berbeda.

Kegiatan JPA yaitu sosialisasi modul, katekese, camping rohani dan jambore tingkat Keuskupan.

“JPA kelompok yang sangat penting di Ende untuk pendampingan remaja. Saat ini, JPA mulai dari Kelompok Umat Basis (KUB), Lingkungan dan Paroki,” ungkap Rm. Ayub Direktur KMKI KA. Ende.

Sementara di Keuskupan Weetebula, wadah pembinaan untuk para remaja ini diberi nama TARUK. Diakon Ferdianus, utusan dari Keuskupan Weetebula dalam penjelasannya, nama Taruk terinspirasi dari makna Taruk (KBBI) yang artinya tunas tumbuhan (pohon, rumput); daun dan ranting (pucuk) yang tumbuh pada cabang dahan atau batang kayu.

Dasar biblis wadah ini juga terdapat dalam Kitab Yesaya. “Suatu tunas akan keluar dari tunggul isa, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah” (Yesaya 11:1)

Dikatakan Diakon Ferdianus, relevansi (konteks)nya bahwa Taruk merupakan symbol remaja (muda, penuh potensi, tumbuh jadi kuat dan berbuah).

“Kami percaya, meski ada kesulitan, Allah bisa menumbuhkan harapan baru, sebab kita dipanggil untuk menjadikan remaja Taruk yang berbuah: iman, harapan, kasih,” kata Diakon.

Taruk, lanjutnya, sudah berjalan dengan baik di paroki-paroki di Keuskupan Weetebula dan menjadi wadah yang pas saat ini dalam membina kelompok remaja berusia SMA.

“Taruk melayani semua anak Katolik yang berusia SMA. Kita wajibkan mereka masuk TARUK. Pembinaan di Taruk selama tiga tahun, tahun pertama tentang pengenalan komunitas, lalu peningkatan kapasitas (tahun kedua) dan tahun Misi (tahun ketiga),” lanjut Diakon Ferdianus.

Dirdios KMKI Keuskupan Weetebula RD. Josinto B.O.C. Anin, yang jadi moderator dalam sesi ini menambahkan, penting sekali para remaja dididik secara baik dan benar saat usia SMA itu.

“Kami melihat, Taruk sebagai kelompok strategis. Tapi mereka yang di Tarruk itu tidak memisahkan 100% dari OMK, mereka tetap bebas ikut kegiatan OMK, tapi ada pendampingan khusus bagi usia mereka dengan tiga tahun pendampingan tadi. Ini sebagai Jalan baru untuk Pendampingan Kelompok Remaja,” kata Romo Josinto.

Menanggapi pembinaan dalam Gereja menurut usia, Koordinator KMKI Regio Nusra sekaligus Dirdios KMKI Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, menjelaskan sebelum tahun 1996 pembinaan iman anak oleh KKI disebut Sekar (Serikat Kepausan Anak dan Remaja).

Tetapi saat Pernas KKI di Bali, ketika Mgr. Petrus Turang menjabat Dirnas KKI, ada perubahan nama dari Sekar menjadi Sekami. Batasan usianya, kalau dari Karya Kepausan, Sekami 0-14 thun. OMK 15-35 tahun dan belum menikah.

“Tetapi usia ini bisa berbeda untuk setiap keuskupan tergantung kebijakan setempat. Dan dengan perkembangan sekarang yang banyak dipengaruhi oleh teknolgi, bisa saja menggeser batasan usia ini,” katanya.

TSOM

Sesi berikutnya, RP. Petrus Suparman,OCD yang akrab disapa Romo Maman dari Dewan Nasional KMKI, memaparkan tentang TSOM (Teens School Of Mission), sebuah model sekolah pendampingan iman anak usia remaja.

TSOM, menurut Rm. Maman, merupakan program lanjutan setelah Jambore Nasional Sekami 2018 di Pontianak, yang dibuat dan difasilitasi oleh Dewan Nasional KMKI.

P. Petrus Suoarman, OSC, Dirdios KMKI Bandung

TSOM sudah empat kali dilakukan, dan akan segera digelar TSOM kelima. Pengalaman TSOM pertama di Sumba, kata Rm. Maman, dapat membakar semangat remaja sehingga kegiatan TSOM ini dapat berjalan terus.

Selain pembinaan iman, melalui TSOM para remaja juga belajar banyak hal, termasuk melatih kemandirian dan tanggung jawab. Setiap TSOM, para remaja ini juga bisa berlajar atau beriteraksi dengan alam dan beragam kegiatan lainnya.

Dikatakan Rm. Maman, TSOM dilaksanakan secara bergilir dari Keuskupan ke Keuskupan. TSOM pertama dibuat di Keuskupan Weetebula-Sumba, lalu TSOM kedua, karena dalam suasana pandemi TSOM dilaksanakan bersamaan Pernas di Bali (Keuskupan Denpasar). TSOM ketiga dilaksanakan di Mentawai Keuskupan Padang, dan TSOM keempat di Keuskupan Manado. Sedangkan TSOM kelima akan segera dilakasanakan di Keuskupan Sibolga.

Suasana animasi disela-sela Raker KMKI Regio NUSRA

“Lewat TSOM ini, target kita adalah para remaja bertumbuh dalam iman, kuat, tangguh. Remaja memiliki iman yang benar. Lebih dari itu remaja dapat mengelola emosi dan ini bisa pelajari dari pengalaman mereka saat TSOM pertama di Sumba,” kata Rm. Maman yang juga Dirdios KMKI Keuskupan Bandung. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button