Gereja Katolik Pelopori Live In Pelajar Lintas Agama

NUSA DUA – Gereja Katolik Keuskupan Denpasar melalui Komisi Hubungan Antar-agama dan Kepercayaan (HAK) memelopori sekaligus memfasilitasi pertemuan pelajar lintas agama dengan mengadakan Live In selama dua hari, Sabtu-Minggu (3-4 Mei 2025) di SDK Soverdi, Jimbaran-Nusa Dua, Badung.
Tahun-tahun sebelumnya, Komisi HAK juga menyelenggarakan hal serupa di tempat berbeda dengan melibatkan para pelajar dari beragam agama. Bahkan kegiatan serupa yang melibatkan orang muda dari berbagai agama pernah dilaksanakan di Dompu dan Sumbawa Besar Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Para pelajar lintas agama yang ikut adalam kegiatan bertajuk “Bersama orang muda lintas agama merewat toleransi dan kerukunan dalam keberagaman” kali ini, merupakan utusan dari tiga sekolah swasta yang ada di Badung dan Denpasar, yakni SMA Swasta Katolik (SMAS-K) Soverdi, SMAS-K St. Thomas Aquino dan SMAS-K St. Yoseph Denpasar.

Latar belakang agama para pelajar ini ada Katolik, Islam, Hindu, Protestan dan Budha. Sementara Konghucu tidak ada.
Kegiatan live in pelajar lintas agama ini merupakan program unggulan Komisi HAK Keuskupan Denpasar 2025.
Dua hari kegiatan ini akan diisi dengan agenda utama yaitu Seminar Moderasi Beragama, Pentas Seni (Malam Kerukunan), serta Anjangsana (kunjungan) ke lima tempat ibadah di Puja Mandala Nusa Dua, sekaligus berdialog dengan para pimpinan Agama di tempat itu.

Agenda penting lainnya adalah renungan malam berupa doa bersama yang dipimpin oleh masing-masing perwakilan agama.
Dibuka Vikjen
Pembukaan acara ini didahului dengan tarian nusantara persembahan dari gadis-gadis cilik SDK Soverdi Jimbaran. Disusul suara indah dan merdu dari Glory (pelajar SDK Soverdi lainnya) yang menyanyikan lagu perdamaian.
Dalam acara pembukaan, selain diikuti seluruh peserta, juga dihadiri beberapa tokoh yang juga memberikan sambutan dalam acara itu, antara lain Vikjen/Direktur Puspas Keuskupan Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Badung I Nyoman Suwendi, Sekretaris FKUB Kabupaten Badung I Wayan Sukaria dan Ketua Komisi HAK RP. Paskalis Nyoman Widastra, SVD
Hadir pula Kepala Sekolah dari tiga sekolah yang berpartisipasi serta guru pendamping siswa, para panitia dan Kepala SDK Soverdi Jimbaran yang menjadi tuan rumah.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Vikjen Keuskupan Denpasar, RD. Herman Yoseph Babey. Dalam sambutan sebelum membuka kegiatan, Rm. Babey, demikian akrab disapa, mengungkapkan bahwa para pelajar lintas agama ini dapat berkumpul karena digerakan oleh Roh Tuhan.
“Gerakan Roh Tuhan menyatukan kita yang datang dari beragam tempat dan beragam komunitas iman untuk berjumpa di tempat ini. Saya mengajak kita untuk melihat yang lain sebagai bagian hidup kita,” ajak Rm. Babey.
Romo Babey juga mengatakan apresiasi kepada Komisi HAK Keuskupan Denpasar dalam kolaborasi dengan 3 sekolah untuk menyelenggarakan kegiatan penting ini.

Vikjen berharap agar para pelajar dari berbagai agama ini dapat menjadi pejuang ketangguhan toleransi di Indonesia dan dapat menjadi duta toleransi dan siap diutus ke mana saja membawa Kasih Tuhan yang diimani masing-masing.
“Ini adalah ruang perjumpaan iman, perjumpaan budaya dan segala bentuk perbedaan. Peran orang muda sangat penting karena orang mudalah yang membawa semangat toleransi ini ke masa depan,” harap Rm. Babey.
Sementara Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Badung I Wayan Sukaria, dalam sambutannya mengajak “Kalau mau rukun maka kita jangan jauh-jauh.”
Wayan Sukaria, menjelaskan tentang moderasi yang bermakna moderat atau jalan tengah, tidak terlalu ekstrim/fanatik dan juga tidak terlalu bebas. Menurut dia, ada 4 prasyarat moderasi beragama yaitu toleransi, komitmen kebangsaan, anti kekerasan dan menghargai kearifan lokal (local genius).
Sekretaris FKUB mengharapkan agar para pelajar lintas agama yang ikut dalam live in ini menjadi orang muda yang diandalkan sebagai duta-duta yang merawat toleransi dan kerukunan.
Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Badung I Nyoman Suwendi, mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh Gereja Katolik ini dalam menciptakan generasi muda yang toleran.
“Kegiatan ini sebagai spirit hidup bersama dan ruang penguatan orang muda. Untuk peserta, semoga kegiatan ini menjadi ajang belajar bagaimana hidup bersama dengan yang lain,” katanya.
Ketua Komisi HAK Rm. Paskalis Nyoman Widastra, SVD, menekankan bahwa pendidkan itu bukan hanya formal di sekolah tapi juga didapat dari dinamika dalam masyarakat, termasuk kegiatan informal seperti acara ini.
Menurut Rm. Paskalis, orang muda termasuk para pelajar perlu adanya pemahaman modereasi beragama baik secara teoritis yang akan diperoleh dalam seminar moderasi beragama maupun secara praktis dalam bentuk pentas seni dan kunjungan ke rumah ibadah agama-agama.
Di sisi lain, Rm. Paskalis mengingatakan “Kita hidup di Indonesia, sebuah negara Pancasila di mana semua agama diakui eksistensinya. Kita juga hidup di Bali, di sini ada kearifan lokal ‘Tri Hita Karana’ yang bermakna bagaimana kita mampu membangun hubungan harmonis dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan harmonis dengan alam.”
Ketua Panitia Ni Putu Udayati (Kepala SMAS-K Santo Thomas Aquino), melaporkan dalam kesempatan sebelum sambutan, bahwa peserta kegiatan berjumlah 100 orang terdiri dari 40 laki-laki dan 60 perempuan. Namun, 4 orang di antaranya berhalangan, sehingga yang hadir 96 orang.

Tujuan kegiatan ini, kata Ibu Udayati, supaya orang muda lebih mampu menghargai kerukunan dan toleransi, memliki jiwa inklusif sehingga diterima dalam konteks keberagaman.
Dia juga menjelaskan, pelajar SMA dipilih sebagai subyek sasaran kegiatan ini karena mereka sudah mulai dewasa dan bisa berpikir kritis terhadap keadaan.

“Anda adalah pribadi yang terpilih, ikutilah kegiatan ini dengan bahagia bersama teman-teman, harap saling menghargai dan menghormati,” pesannya.
Harapan
Sesaat sebelum kegiatan dimulai pada Sabtu (3/5) petang, tiga orang pelajar dari tiga sekolah berbeda menyampaikan harapan dan kesannya dalam mempersiapkan diri mengikuti kegiatan ini.
Ni Putu Maya Astari, pelajar dari SMAS-K Tuban, Badung, merasa senang bisa mengikuti kegiatan ini, walaupun persiapan untuk hadir dalam live in hanya seminggu. Dia berharap agar kegiatan seperti ini kalau boleh dilaksanakan setiap tahun sehingga adik-adik kelasnya dapat merasakan pula kegiatan yang sama.

“Pastinya kegiatan ini sangat seru dan bermanfaat terutama dalam membina kerukunan antara pelajar lintas agama,” katanya.
Sementar Arvin Singgih Pangestu dari SMAS-K St Yoseph Denpasar, mengatakan bahwa untuk bisa hadir dalam acara ini dia mempersiapkan diri dengan menjaga Kesehatan. Kemudian bersama teman-teman sekolahnya menyiapkan drama musical yang akan dipentaskan dalam acara pentas seni pada Sabtu malam.

“Saya senang sekali diberi kesempatan untuk ikut kegiatan ini. Kegiatan ini pasti memberi wawasan dan juga mendapat kenalan (teman) baru dari sekolah lain. Kami berharap supaya dibuat lagi tahun depan untuk adik-adik di bawah kami,” harapnya.
Sama seperti dua sahabatnya, Yoga dari SMAS-K Thomas Aquino memiliki perasaan senang yang sama unntuk mengikuti kegiatan ini.

“Perasaan saya senang karena bisa bertemu teman dari sekolah lainnya dan berbeda agama. Semoga setelah kegiatan ini kami semua lebih toleransi dan hidup rukun dengan sesama,” ujarnya. *
Hironimus Adil



