Dalam Dukacita, Hatiku Bersukacita

Catatan kecil seorang umat, 45 Tahun Imamat Opa Bartho dan 30 Tahun Paroki Santo Yohanes Pemandi Praya serta Perutusan Fr. Rio Bara, setelah selesai TOP
Minggu, 6 Juli 2025, Gereja Santo Mikael Kompi Bantuan TNI AD Pringgabaya merasakan cinta Tuhan yang tak terperi. Ijinkan saya menyampaikan catatan kecil ini.
Kenapa saya pribadi mengungkapkan hal ini, sudah barang tentu, berkarya di Paroki Santo Yohanes Pemandi Praya ini adalah karya pewartaan layaknya Santo Yohanes Pemandi sendiri, sebagai pelopor, sebagai akar rumput, suatu tugas dan karya yang tidak mudah.
Tentang Opa Tercinta
Dalam konteks pengalaman yang saya rasakan secara pribadi ini, pengalaman dukacita berkarya di Paroki ini tidak sampai melumpuhkan seluruh daya semangat hidup Opa Bartho (panggilan khas umat untuk RD. Bartolomeus Bere, Pastor Paroki Praya-Selong-red).
Sudah barang tentu pengalaman yang mungkin tidak menyenangkan, bisa mendatangkan warna kelabu bahkan warna kelam dalam sanubari hidup, tetapi warna kelabu atau bahkan kelam tersebut tidak sampai mematikan percikan pengharapan yang ada dalam hati dan budi Opa Romo dan Frater.
Saya sangat meyakini bahwa kita semua bisa menembus hingga melampaui batas-batas kabut tebal yang menyelimuti hati yang duka, selalu ada harapan dan tentunya masih ada harapan, ada sosok yang peka dan memberi tanggapan, yakni Bunda Gereja kita dan tentunya Ia yang bersabda “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi aku? “
Di sinilah saya pribadi merasakan, bahwa iman, harapan dan kasih, adalah satu hal yang tak terpisahkan, karena kasih opa kepada kami, kami boleh berpengharapan, boleh ber-iman dalam saat sukacita plus dukacita, dan tentu saja, pengharapan dalam Allah tidak akan mengecewakan.

Satu waktu dalam perjalanan Turney, pernah ku goda, bertanya pada Opa, “Opa, kita akan jalan ke Pringgabaya, apa Opa Kuat?” Opa dengan santai menjawab “tenang saja, mungkin saya kelihatan lemah pak Jon, tidak apa terlihat lemah, tapi kita ke sana (akan) membawa misa, misa adalah harapan, harapan itu adalah kekuatan dan anugerah Tuhan sendiri.” Di situ saya sadari, cinta Opa bukan 45%, tapi selalu 100% tidak terbantahkan.
45 Tahun sudah usia imamat Romo, telah menjadi homili yang hidup kepada para umat, homili yang tidak hanya di atas altar, namun homili yang dihidupi melalui kesederhanaan, ketaatan dan cinta, saat ini pula kami memahami bahwa homili yang baik bukan dari siapa yang memberikan homili, bukan pada konteks homili, namun pada akhirnya adalah “perbuatan-cinta-salib apa yang dipikul dari homili itu sendiri”.
Tentang Frater Bara terkasih
Tiada perpisahan, tanpa perjumpaan, ada kutipan yang mengatakan “Jika cukup berani untuk mengucapkan selamat tinggal, hidup akan menghadiahimu dengan ‘Perjumpaan’ yang baru.
Frater, limpah terima kasih untuk cinta yang besar selama 2 tahun ini, komitment untuk menjalani pilihan hidup religius memerlukan pengorbanan, pastilah ada tantangan, pastilah ada ujian, kiranya seperti dalam kisah perjamuan malam terakhir dalam Injil Yohanes, Rasul Yohanes bersandar dekat dengan Yesus, untuk mendengarkan setiap perintah yang akan diberikan, menurut saya, ini adalah ungkapan bahwa Frater tetaplah bersandar pada Tuhan sendiri dan saat bersamaan membawa pesan kebaikan Tuhan dalam setiap Langkah.

Kami mendoakan setiap langkah dan seluruh pengorbanan Frater adalah cinta yang tak pernah padam hingga tiba saatnya kembali lagi ke Keuskupan Denpasar untuk menjadi Diakon dan akhirnya mempersembahkan misa, menjadi Imam bagi kami para umat. Proficiat dan jabat erat!
Di tulis pada pesta Santo Thomas, namun d selesaikan tanggal 7 juli 2025.*
Penulis: Wastuwijaya
Editor: Hiro/KomsosKD


