PUSAT PASTORAL

Pembekalan Pendamping Keluarga Menuju Keluarga Katolik yang Solid dan Solider

DENPASAR – Komisi Keluarga Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar menggelar “Pembekalan bagi para Pendamping Keluarga” khusus dari 4 paroki di Kota Denpasar, Minggu (22/2/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Turba (turun ke bawah) Komisi Keluarga dan sudah dilaksanakan dari zona ke zona sejak tahun 2025 lalu.

Empat paroki di Kota Denpasar: Roh Kudus Katedral, St. Yoseph, Yesus Gembala Yang Baik dan St. Petrus dengan total peserta sekitar 100 orang, adalah zona terakhir sekaligus menutup seluruh rangkaian Turba komisi ini.

Peserta serius mendengarkan pemaparan narasumber

Pembekalan untuk 4 paroki tersebut dilaksanakan di Catholic Center, dengan narasumber Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, Ketua dan Sekretaris Komisi Keluarga, RD. Adianto Paulus Harun dan Laurensius Sogen.

Ketika membuka kegiatan itu, Ketua Komisi Keluarga RD. Adianto Paulus Harun, mengungkapkan bahwa pembekalan ini tujuan utamanya untuk saling berjumpa dan sharing karya pastoral keluarga mulai dari KBG, Lingkungan dan Paroki. Oleh karena itu, peserta yang dihadirkan dalam acara ini tidak hanya sebatas utusan Seksi atau Pendamping Keluarga tingkat Paroki tetapi juga Pendamping Keluarga di Lingkungan sampai KBG.

Materi kegiatan ini, kata Rm. Adi, sebenarnya tidak baru bahkan mungkin sering diterima, tetapi penting juga sebagai penyegaran dan suntikan semangat baru dalam mendampingi keluarga-keluarga terutama untuk mewujudkan Keluarga yang solid dan solider selaras tema karya pastoral Keuskupan Denpasar tahun 2026.

Peserta pembekalan: mewujudkan keluarga yang solid dan solider

“Kita bangun tekad bersama untuk membangun keluarga-keluarga kita. Keluarga adalah Gereja rumah tangga dan sel masyarakat. Kami menghaturkan penghargaan luar biasa kepada bapak-ibu yang telah mendampingi keluarga selama ini,” kata Rm. Adi.

Tampil pada sesi pertama dalam giat ini adalah Sekretaris Komisi Keluarga Laurensius Sogen, yang memaparkan materi ‘Keluarga Katolik Berjalan Bersama Menuju Bahagia dan Peziarah Harapan.’

Dia menegaskan keluarga Katolik hidup sebagai komunitas iman yang bersemangat, dan berjuang bersama menuju tujuan akhir Kerajaan Allah, sekaligus terpanggil menjadi berkat dan saksi Kristus di tengah masyarakat serta senantiasa mencari kehendak Allah.

Sekretaris Komkel Laurensius Sogen sedang mempresentase materi di hadapan peserta

“Sebagai peziarah harapan, tujuan hidup keluarga Katolik adalah menuju Kerajaan Allah. Keluarga Katolik juga harus berjuang dengan harapan untuk masa depan yang baik dengan memaafkan, berbelas kasih dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya,” katanya.

Menurut Laurens Sogen, keluarga juga terpanggil dalam karya misioner untuk menjadi wajah Kristus, terlibat dalam pelayanan sosial dan menunjukkan kasih Kristus kepada sesama, serta mendidik anak dalam iman.

Laurens, lantas menjelaskan ‘Lima Pilar Pastoral Keluarga’ yaitu pastoral perjumpaan, pastoral rutin dan eventual, pastoral pendampingan, pastoral advokasi dan Kerja sama dengan komunitas dan asosiasi keluarga. “Lima pilar ini menjadi tugas seluruh pendamping keluarga,” katanya.

Peserta meregangkan otot sebagai selingan

Sementara Ketua Komisi Keluarga RD. Paulus Harun, yang tampil pada sesi berikutnya, dalam pembekalan itu menjelaskan ‘Sakramen Perkawinan dan Panggilan Hidup Berkeluarga.’

Sakramen Perkawinan, menurut Rm. Adianto, merupakan tanda yang menghadirkan keselamatan Allah bagi manusia melalui dua pribadi yang membentuk keluarga atas dasar perjanjian cinta yang tak terputuskan.

Perkawinan, lanjutnya, merupakan panggilan menjadi satu yaitu satu tubuh, satu daging. “Perkawinan adalah persatuan yang utuh dan integral: sehati sepikir, satu rumah tinggal/ tidur bersama dan satu tujuan yaitu kebahagiaan, kesejahteraan, keselamatan bersama dalam satu iman,” tegasnya.

Ketua Komisi Keluarga RD. Adianto Paulus Harun

Dikatakan Ketua Komisi Keluarga, dasar perkawinan Katolik adalah cinta kasih Kristus, total tanpa pamrih, sahabat, berkorban, mengampuni dan perjanjian yang tak terputuskan. Oleh karena itu, sifat perkawinan Katolik adalah monogam: satu laki-laki dengan satu perempuan; dan tak terceraikan seumur hidup: tidak boleh diceraikan oleh siapa pun dan apa pun, kekal tak terbatas.

Lebih jauh diterangkan tentang panggilan hidup berkeluarga, terutama panggilan dasar keluarga Katolik yaitu menyambut dan mencintai kehidupan yang terarah pada kelahiran anak; menjadi pendidik utama dan pertama anak-anak dalam iman dan nilai-nilai kehidupan; terlibat dalam panggilan dan misi Gereja; serta terlibat dalam kehidupan masyarakat.

Romo Adi juga menguraikan tentang tantangan keluarga Katolik di antaranya egoisme dan ketidaksetiaan. Kiat menghadapi tantangan itu, yakni sikap saling mengampuni, kejujuran, komunikasi dan pola hidup yang tepat guna.

Keluarga Solid dan Solider

Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, tampil pamungkas dalam pembekalan ini dengan memaparkan materi ‘Menjadi Keluarga Solid dan Solider.’

Menurut Rm. Babey, tahun 2026 ini Gereja Katolik Keuskupan Denpasar ingin bangkit dan bergerek bersama mewujudkan Gereja Sinodal dengan salah satu fokus perhatian adalah keluarga Katolik yang solid dan solider.

“Kelurga menjadi fokus karena merupakan Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica) yang menjadi rumah tempat pertama anak mengenal Tuhan. Jika keluarga kuat, Gereja akan kuat,” ungkap Rm. Babey.

Vikjen RD. Herman Yoseph Babey, memaparkan ‘Menjadi Keluarga yang Solid dan Solider’

Dalam Sinode V Keuskupan Denpasar, menurut Rm. Babey, Gereja melihat perubahan zaman yang cepat seperti teknologi, gaya hidup. Lalu meningkatnya individualisme, kerapuhan relasi dalam keluarga modern dan pengaruh teknologi digital yang memisahkan. Semua ini menjadi tantangan keluarga yang kompleks.

Sementara realitas lainnya, orang tua sibuk, anak-anak pun sibuk dengan gadget, komunikasi dan doa bersama menjadi berkurang; satu rumah, tapi hati terasa jauh.

Sesi tanya jawab, tampak dua peserta sedangan menanggapi materi narasumber

Dalam situasi zaman yang penuh tantangan dan realitas kehidupan keluarga yang demikian, Gereja Katolik Keuskupan Denpasar melalui Komisi Keluarga memiliki tanggung jawab moral untuk memerhatikan secara serius pendampingan keluarga yang merupakan unit terkecil sekaligus fondasi Gereja agar menjadi Keluarga yang solid dan solider.

“Keluarga Solid (kuat ke dalam), artinya keluarga yang memiliki akar iman kuat, komunikasi terbuka, dan setia dalam doa. Keluarga Solider (peduli keluar) adalah keluarga yang peka terhadap sesama dan terlibat aktif dalam pelayanan Gereja,” urai Rm. Babey.

Usai memberikan materi, Rm. Babey kemudian memimpin perayaan Ekaristi bersama di Kapel Catholic Center, sekaligus menutup giat sehari itu. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button