LINTAS PERISTIWA

TIGA MATERI EDUKASI

Kemah Remaja Misioner Dekenat Bali Barat

Hari kedua, Sabtu (4/7), peserta Kemah SEKAMI Dekenat Bali Barat yang berlangsung di Palasari (3-5/7), mendapatkan tiga materi edukatif untuk menempa para peserta menjadi pribadi yang misioner, solid dan solider seturut tema yang diangkat dalam kemah. Materi-materi ini diharapkan dapat menumbuhkan jiwa misioner, meneguhkan iman kepada Tuhan dan menggugah kepedulian terhadap sesama dan alam semesta.
Materi-materi tersebut dibawakan langsung oleh para imam yang melayani dan berdomisili di wilayah Dekenat Bali Barat yakni Romo YB. Komang Suryana (Deken Bali Bali Barat) RD. Benediktus Deni Mary (Pastor Paroki St. Petrus Negara dan RD. Yohanes Made Mahastra (Pastor Rekan Paroki St. Paulus Singaraja)

 

Demi mendukung efektivitas pembelajaran, para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok yang menempati ruangan berbeda yakni di Bale Banjar, Gereja dan Aula Paroki. Sementara itu, para narasumber bergiliran berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya.
Dengan metode penyampaian yang interaktif dan komunikatif, para imam berhasil mengajak anak-anak terlibat aktif dalam setiap pembahasan. Suasana belajar menjadi menyenangkan. Di sela-sela materi, kakak-kakak pendamping turut menghadirkan berbagai animasi dan permainan ringan yang semakin menyemarakkan suasana serta membantu peserta tetap fokus dan bersemangat.
Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga semakin diteguhkan dalam semangat misioner, persaudaraan, dan kecintaan mereka kepada Gereja.

RD. Benediktus Deni Mari: Remaja dan Kitab Suci


Romo Benediktur Mary Pastor Paroki St. Petrus Negara mengawali materinya dengan menanyakan hal-hal ringan seputar kitab Suci. Apa itu Kitab Suci? Terdiri dari berapa Kitab? Kapan terakhir membaca Kitab suci?
Dalam pemaparannya, imam yang akrab disapa dengan subutan Romo Deny itu, mengajak para peserta jujur merefleksikan relasi mereka dengan Kitab Suci. Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi remaja saat ini adalah semakin menjauhnya mereka dari Sabda Tuhan oleh pengaruh media digital
Banyak remaja memiliki Kitab Suci, namun jarang membacanya. Sebaliknya, sebagian besar waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk media sosial, permainan digital, dan berbagai bentuk hiburan lainnya.
Kapan terakhir kali kalian membaca Kitab Suci?” Tanya Romo Deni. Beberapa jawaban yang muncul cukup mengejutkan. Ada peserta yang mengaku terakhir membaca Kitab Suci setahun yang lalu bahkan ada yang menjawab tidak pernah membaca KS.
Ketika ditanya berapa lama waktu yang dihabiskan setiap hari untuk media sosial, sebagian peserta menjawab antara tiga hingga lima jam. Fakta ini menunjukkan betapa besar tantangan yang dihadapi remaja dalam membangun kebiasaan berjumpa dengan Sabda Tuhan.
Melalui refleksi tersebut, Romo menegaskan bahwa menjauh dari Kitab Suci bukan sekadar kehilangan kebiasaan membaca. Lebih dari itu, seseorang dapat kehilangan arah hidup sebab Firman Tuhan adalah pedoman hidup umat beriman.
Karena itu, para peserta diajak untuk menjadikan Kitab Suci sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Mengutip sabda Yesus dalam Matius 4:4, Romo Deni mengingatkan bahwa, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Menurutnya, melalui Kitab Suci, remaja dapat menemukan identitas dirinya, mengenal Yesus secara lebih pribadi, memperoleh kekuatan dalam menghadapi kecemasan dan ketidakpastian masa depan, serta memiliki pegangan hidup yang kokoh.
Mengakhiri sesinya, Romo yang dikenal ramah dan sederhana ini memberikan pesan mendalam kepada seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa Kitab Suci bukanlah sekadar kumpulan aturan, melainkan surat cinta Allah kepada manusia. Sabda Tuhan tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungkan dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Remaja yang akrab dengan Kitab Suci akan semakin mengenal Kristus, bertumbuh dalam iman, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan bijaksana.


Sebagai penutup, ia mengajak peserta untuk menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidup dengan mengingat kata-kata Pemazmur: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105). Pesan tersebut menjadi undangan bagi setiap peserta untuk kembali menyalakan semangat mencintai Sabda Tuhan dan menjadikannya sahabat dalam perjalanan hidup dengan cara dibaca, direnungkan dan dihayati.

RD Yohanes Made Mahastra:
REMAJA DITENGAH DUNIA DIGITAL


Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat menjadi perhatian khusus dalam Kemah SEKAMI Dekenat Bali Baret.
Materi edukasi lainnya adalah “Remaja Tetap Manusia di Era AI”, diberikan oleh RD. Yohanes Made Mahastra. Materi ini bertujuan membekali remaja Katolik agar mampu menggunakan media digital secara bijaksana dan bertanggung jawab, memahami manfaat sekaligus risiko AI serta menjaga martabat manusia di tengah kemajuan teknologi, serta menjadi saksi Kristus di dunia digital.
Dengan gaya penyampaian yang energik dan komunikatif, Romo Made demikian saapan akrabnya, mengawali materinya dengan menegaskan bahwa dunia digital saat ini merupakan ruang misi yang baru. Menurutnya, media sosial bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga tempat membangun relasi, berbagi nilai-nilai kebaikan, dan mewartakan Injil.
“Remaja dipanggil menjadi garam dan terang dunia, termasuk di ruang digital,” ungkapnya. Karena itu, setiap unggahan, komentar, maupun pesan yang dibagikan hendaknya mencerminkan identitas sebagai murid Kristus.
Mengajak peserta berefleksi, Romo Made mengajukan beberapa pertanyaan sederhana namun mendalam. Siapa yang punya Tiktok,? Istagram? hampir semua menjawab, punya. Apakah unggahanmu membawa orang semakin dekat pada kebaikan? Apakah unggahan kalian membangun sesama atau justru melukai orang lain?” Berapa jam kalian bermedia sosial dalam sehari? Jawaban variatif ada yang tiga jam, empat jam dan lima jam.
Pertanyaan tersebut mengundang peserta untuk menilai kembali cara mereka menggunakan media digital dalam kehidupan sehari-hari.
Berbicara mengenai kecerdasan buatan, Romo kelahiran Tuka Bali itu, menegaskan bahwa AI adalah alat yang dapat membantu manusia, bukan pengganti manusia. AI harus membuat kita menjadi cerdas bukan sebaliknya menjadikan kita bodoh dan malas.
Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, mencari informasi, membuat desain, hingga mengembangkan kreativitas lainnya. Namun, ia mengingatkan bahwa AI tidak memiliki hati nurani, empati, kasih, maupun kebijaksanaan moral.
“Martabat manusia tetap lebih tinggi daripada teknologi apa pun, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah,” tegasnya. Oleh sebab itu, teknologi harus ditempatkan sebagai sarana yang melayani manusia, bukan sebaliknya membuat manusia kehilangan kebebasan dan jati dirinya.
Mengacu pada Ensiklik Magnifica Humanitas yang dikeluakan oleh Paus Leo XIV baru-baru ini, Romo Made mengingatkan bahwa di tengah era Artificial Intelligence (AI), remaja harus tetap menjadi pribadi yang utuh: bijaksana, empatik, dan memiliki karakter yang kuat. Kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.


Sebagai bekal praktis dalam bermedia sosial, ia memperkenalkan prinsip THINK sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu di dunia digital. T berarti True (benarkah informasi tersebut?), H berarti Helpful (bermanfaatkah bagi orang lain?), I berarti Inspiring (menginspirasikah?), N berarti Necessary (perlukah dibagikan?), dan K berarti Kind (disampaikan dengan kasihkah?).
Pada bagian akhir sesi, Romo Made mengajak para peserta menjadi misionaris digital di era AI. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan cara membagikan pesan-pesan inspiratif yang bersumber dari Kitab Suci, menyebarkan semangat persaudaraan, memanfaatkan media sosial untuk pelayanan, serta membangun budaya komunikasi yang sopan, santun, dan penuh kasih.
Melalui materi ini, para peserta diajak menyadari bahwa remaja Katolik tidak dipanggil untuk menjauhi teknologi, melainkan menggunakannya secara bijaksana demi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama.
Kemajuan teknologi yang semakin canggih hendaknya tidak membuat manusia kehilangan hati nurani. Sebaliknya, remaja Katolik dipanggil untuk tetap berakar dalam Kristus, bijak bermedia, kritis terhadap perkembangan AI, dan menjadi garam dan terang di tengah dunia digital sebagaimana diamanatkan Yesus dalam Matius 5:13-16.

 

RD. YB Komang Suryana: Remaja Sekami Misioner, Solid dan Solider


Pemateri lainnya adalah RD. YB. Komang Suryana membawakan materi Remaja Sekami Misioner, Solid dan Solider. Romo Komang tidak banyak berteori saat menyamaikan materi ini.

Ia mengajak anak-anak merefleksikan diri dengan bantuan menonton tayangan film pendek yang menggambarkan bentuk kepedulian kecil yang mendatangkan berkat bagi yang menerimanya.

Dari kisah itu, kemudian Romo bertanya, apa yang mengesan dari kisah tadi? Beberapa anak menjawab: Seorang nenek yang sudah renta diberi pisang oleh orang yang tidak dikenalnya. Jawabab lain, ada orang yang melihat tanaman kering, tergerak hati lalu menyiramnya dan tanaman itu tumbuh subur. Ada yang menjawab, di tengah jalan ada yang melihat anjing kelaparan lalu mmeberinya makan.

Dari kisah film pendek dan jawaban anak-anak, lalu Romo Komang menyimpulkan “itulah arti Misioner, Solid dan Solider. Ketika kamu peduli dan tergerak hati untuk memberi itulah misoner dan solider. Tindakan misoner dan solider adalah buah dari iman yang solid.”

Satu nilai lagi yang ditanamkan oleh Romo Komang adalah tindakan misioner dan solider itu bukan jauh-jauh, tetapi dari dekat yakni di tengah keluargamu. Konkritnya mau mendengar nasihat orang tua dan melaksanakannya, belajar rajin, suka membantu orang tua: bersih-bersih, cuci pring, merapikan tempat tidur dsb.

Romo yang sesekali bercanda itu, juga mengajak anak-anak memiliki hati yang jujur. Jujur adalah sebuah nilai untuk memperkuat integritas pribadi, membangun kepercayaan diri, menciptakan kedamaian batin.

Agar mampu menjadi pribadi yang jujur, misioner, solid dan solider, sebagai orang Katolik harus tekun berdoa, merayakan Ekaristi, membaca firman Tuhan, merenungkan, menghayati dan mengamalkannya.

 

Mengakhiri materinya Deken Bali barat itu meminta anak-anak mendiskusikan firman Tuhan dari injil Matius 6:33: “Tetapi carilah dahulu Kerjaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Terinspirasi dari Firman ini, Romo Komang mengajak anak-anak menjadikan kehendak Tuhan dan kebenarannya sebagai prioritas utama dalam hidup, maka Allah akan mencukupkan segala kebutuhan kita, tegas Romo Komang yang diaminkan anak-anak. Chrsitin***

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button