102 Tahun Berkarya, Puncak HUT WKRI Gelar Sarasehan Pertobatan Ekologis

KUTA –Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), sudah 102 tahun hadir dan berkarya untuk Gereja dan Bangsa melalui peran-perannya yang khas. Organisasi ini menjadi salah satu organisasi kemasyarakatan (Ormas) Katolik tertua di Indonesia.
Puncak HUT ke-102 WKRI jatuh pada 26 Juni 2026. Untuk WKRI DPD Bali-NTB, perayaan ulang tahun ke 102 dilaksanakan sehari setelahnya, yaitu Sabtu, 27 Juni 2026, di aula Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta.

Perayaan itu dihadiri sekitar 170 anggota WKRI yang datang dari hampir semua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) WKRI di pulau Bali. Acaranya, tidak hanya seremonial, tetapi ada sarasehan ‘Pertobatan Ekologis’ sehingga perayaan ini lebih bermakna bagi para anggota yang dapat ditindaklanjut dengan kegiatan kongkret di cabangnya masing-masing.
Selain utusan dari DPC-DPC se-Bali dan pengurus WKRI DPD Bali-NTB, acara ini dihadiri juga oleh Penasehat Rohani DPC WKRI F.X. Kuta RD. Evensius Dewantoro beserta pengurus DPP Paroki Kuta, undangan dari Badan Kerjasana Organisasi Wanita (BKWO) Provinsi Bali serta Tim Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Provinsi Bali.

Setalah dibuka dengan doa, acara diawali sambutan singkat dari RD. Evensius Dewantoro selaku Penasehat WKRI DPC Kuta sekaligus tuan rumah perayaan. Romo Venus, demikian biasa disapa, mengapresiasi WKRI yang tetap bertahan dan eksis hingga mamasuki usia 102 tahun. “WKRI bertahan sampai hari ini dan tetap eksis. Kita bersyukur kepada Tuhan,” ungkap Rm. Venus.
Romo Venus mengajak segenap anggota WKRI untuk menghadirkan Gereja di tengah dunia yang penuh tantangan saat ini melalui karya-karya WKRI. Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini, adalah persoalan sampah khususnya di Bali dan kerusakan lingkungan. Sehingga sarasehan tentang pengelolaan sampah dan pertobatan ekologi yang digelar WKRI dalam menyambut HUT ke-102 ini sangat relevan.
Sementara itu Ketua WKRI DPD Bali-NTB, dr. Nisa Setiati, dalam sambutannya mengungkapkan tema HUT ke-102 WKRI yaitu “Melanjutkan karya harapan; Merawat Rahim Kehidupan demi Mewujudkan Perempuan Berdaya dan Anak Terlindungi.”
Tema tersebut, kata dr. Nisa, relevan dengan kegiatan sarasehan yang mengangkat masalah sampah dan pertobatan ekologi. “Rahim kehidupan tidak hanya dari seorang wanita, tetapi juga lingkungan hidup kita yang sedang tersiksa,” katanya.

Persoalan lingkungan, lanjut dr. Nisa,sangat kompleks. Karena itu, WKRI merasa terpanggil membantu pemerintah Bali untuk ikut dalam pengelolaan sampah bersumber basis (PSBS) yang sedang digalakan pemerintah Bali.
“Sarasehan ini kiranya bermanfaaat tidak hanya bagi WKRI tetapi juga dirasakan masyarakat umum. Saya berharap (ibu-ibu) WKRI tidak hanya cantik berseragam tetapi juga cantik dalam karya yang bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat, tidak terbatas hanya untuk Gereja dan WKRI,” tegasnya.
Selanjutnya perayaan dilanjutkan dengan agenda utama yaitu sarasehan pengelolaan sampah dan pertobatan ekologis. Namun, sebelum sarasehan didahului seremonial pemotongan kue ulang tahun yang oleh pengurus presidium WKRI DPD WKRI Bali-NTB didamping Romo Venus selaku Penasehat Rohani WKRI Cabang Kuta. Sarasehan dilaksanakan setelah seremonial ini.
PSBS dan Pertobatan Ekologis
Saresehan ini seyogyanya dihadiri oleh dua narasumber yaitu Ibu Putri Koster, selaku duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) Provinsi Bali yang hendak mensosiliasi lebih lanjut tentang PSBS dan RD. Evensius Dewantoro selaku Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar yang mengajak peserta untuk melakukan Pertobatan Ekologis. Namun, Ibu Putri Koster berhalangan hadir sehingga materi sarasehan hanya diisi oleh Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar.
Romo Venus, dalam pengantarnya memperkenalkan ‘Eco Pastoral (Pastoral Care)’ yaitu bentuk pelayanan atau tugas penggembalakan Gereja yang berfokus pada kepedulian terhadap lingkungan hidup atau merawat bumi sebagai tempat tinggal kita bersama.

“Kita semua sebagai Gereja adalah tanda keselamatan dan tanda kehadiran Gereja. Setiap kita termasuk WKRI bisa menjadi sakramen yang membawa keselamatan bagi dunia, maka WKRI harus menjadi pembawa perubahan, termasuk dalam menyelamatkan lingkungan hidup,” kata Rm. Venus.
Rm. Venus, menegaskan ensiklik Ladato Si dan Laudato Deum dari Paus Fransiskus, menekankan tentang kepedulian terhadap rumah kita bersama (bumi). Paus Fransiskus mengingatkan bumi harus dilihat sebagai rumah tinggal bersama, bumi dilihat sebagai ibu dan saudari kita. Merawat bumi, juga sebagai panggilan iman.
Eco pastoral Gereja, lanjut Ketua PSE ini, menggiring umat agar makin peduli pada lingkungan hidup sehingga bumi seisinya tetap menjadi ‘baik adanya’ bagi kehidupan, terlebih di tengah bumi yang memanas (global warming & climate change).
Bicara pertobatan ekologis, kata Rm. Venus, lebih pada perubahan hati dan cara hidup untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah, sesama dan seluruh ciptaan. “Ini selaras dengan konsep Tri Hita Karana di Bali, yaitu membangun hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan lingkungan,” imbuhnya.
Rm. Venus menegaskan, pertobatan ekologis bukan sekedar menjaga kebersihan, tetapi ia adalah perubahan hati dan cara hidup, serta merawatnya adalah ibadah. Bisa dimulai dari hal kecil misalnya memilah sampah, mengurangi sampah plastik, hemat energi, menanam di pekarangan, dsbnya.

Bagi orang Katolik, perobatan ekologis sebagai sebuah kewajiban sebab bumi adalah rumah bersama, ibu atau saudari yang perlu dijaga dan dirawat. “Umat Katolik dipanggil menjadi sahabat bumi, bukan penguasa atas bumi. Maka, kerusakan lingkungan adalah dosa terhadap ciptaandan generasi mendatang,” tegasnya.
Sekretaris Komisi PSE Keuskupan Denpasar, Kustati Tukan menambahkan tentang pentingnya pemilahan sampah organik dan anorganik. Kemudian, Ibu Kustati bersama Tim PSE mempraktikan membuat eco enzyme di hadapan peserta. Dijelaskan juga mengenai banyak maanftaan eco enzyme bagi kesehatan manusia maupun untuk perawatan bumi.
Ketua WKRI DPD Bali NTB dr. Nisa Setiati, kepada media ini, disela-sela acara menjelaskan bahwa dalam rangka menyambut HUT ke 102 ini, selain acara puncak yang diisi sarasehan, juga ada lomba membuat video tentang pengelolaan sampah berbasis sumber. Sehingga memuncaki acara HUT ada pengumumuman pemenang lomba video. Humas WKRI DPD dr. Setyawati, menambahkan lomba tersebut dikuti 13 DPC.

Pemenang lomba video adalah sebagai berikut: Juara I DPC WKRI St. Petrus Negara, Juara II Ibu Yuliana Dau dari Cabang Sumbawa dan Juara III WKRI Cabang Pecatu. “Ada 4 DPC sebagai juara harapan yaitu Cabang Kuta (2 kelompok), Cabang St. Yoseph Denpasar dan Cabang Babakan,” pungkas dr. Nisa. *
Hironimus Adil



