Kaderisasi Kepemimpinan OMK Se-Bali: Mengolah Rasa, Guna, Aksi

BABAKAN- Sebanyak 60-an orang muda Katolik dari seluruh paroki dan satu stasi mandiri di Bali selama dua hari, 1 – 2 Mei 2026, berkumpul di Paroki Roh Kudus Babakan. Mereka live in di rumah-rumah umat di paroki itu.
Kehadiran orang-orang muda penuh semangat ini dihadirkan oleh Komisi Kepemudaan Keuskupan Denpasar, untuk mengikuti ‘Kaderisasi Kepemimpinan OMK’. Kegiatan ini merupakan program unggulah Komisi Kepemudaan tahun 2026.
Ketua Komkep Keuskupan Denpasar RD. Rony Alfridus Bere Lelo, mengungkapkan bahwa kaderisasi ini berangkat dari harapan yang tercetus saat rapat pleno Keuskupan Denpasar, akhir tahun 2025, agar orang-orang muda khususnya para Pengurus Orang Muda Katolik (OMK) paroki perlu diasah dan ditingkatkan kapasitas kepemimpinannya, sekaligus sebagai upaya regenerasi kepemimpin dalam tubuh OMK.

“Kaderisasi ini bagian dari Formasi Pengurus OMK. Makna formasi bagi OMK yaitu mengalami kasih Allah secara pribadi. OMK sebagai rasul masa kini dan depan. OMK dipangigil untuk mengenal kasih Allah, berani bersaksi, terlibat dalam misi Gereja,” ungkap Rm. Rony.
Tahun 2026 ini Keuskupan Denpasar memang memberikan perhatian lebih pada orang muda. Hal ini selaras dengan tema umum karya pastoral Keuskupan Denpasar yaitu “Bangkit dan Bergerak Bersama Mewujudkan Gereja Sinodal Melalui Keluarga, Sekami, OMK dan KBG yang Solid dan Solider.”
Dari tema ini, OMK merupakan salah satu subyek bina yang mendapat perhatian serius Gereja. Selain Kaderisasi Kepemimpinan OMK, tahun 2026 ini Komkep bersama Komisi-komisi dalam Bidang Pendidikan Umat (BPU) juga akan melaksanakan Jumpa Orang Muda Katolik. Ada juga Nusra Youth Day pada Juli 2026 di Maumere, di mana OMK Keuskupan Denpasar juga akan berpartisipasi dalam kegiatan tingkat regio itu.
Kaderisasi Kepemimpinan OMK se-Bali di Babakan ini merupakan sesi kedua dilakukan Komisi Kepemudaan. Sesi pertama dilaksanakan untuk para pengurus OMK paroki se- Dekenat NTB, telah dilaksanakan Paroki St. Yohanes Maria Vianey Donggo pada 19-20 Maret 2026 lalu.

Sama seperti di Dekenat NTB, di Babakan peserta juga melakukan live in di rumah-rumah umat. Melalui live in, peserta diajak untuk beradaptasi dan merasakan suasana baru dengan keluarga barunya, berinteraksi dengan keluarga baru serta bisa belajar hal-hal baru juga. Hidup bersama umat juga mendorong OMK keluar dari zona nyaman, mau terlibat, menjumpai dan membangun relasi nyata serta mengasah kesetia-kawanan, peduli dan membangun persaudaraan.
Intinya, para peserta mengalami ‘experiential learning’ (belajar dari pengalaman langsung), yang tentunya sangat berguna untuk membangun karakter kepemimpinan dan siap menggerakan orang muda melalui aksi nyata.
Fix Mindset ke Grow Mindset
Kaderisasi kepemimpian yang mengangkat tema: Rasa, Guna, Aksi, dibuka oleh Ketua BPU Keuskupan Denpasar RD. Flavianus Endi. Romo Vian, demikian akrab disapa, di hadapan para pengurus dan beberapa pendamping OMK yang menjadi peserta kegiatan ini mengajak supaya memanfaatkan kesempatan ini sebagai peluang untuk menempa diri sekaligus mengasah keterampilan memimpin dan mengubah mindset.

“Kesempatan kaderisasi kepemimpinan ini dapat mengubah mindset kalian, beralih dari fix mindset ke grow mindset. Kemudian melaui live in kalian dapat beradaptasi dengan situasi baru, berproses sesuai rutinitas mereka,” kata Rm. Vian, sambil berpesan untuk menjaga kedisiplinan dan tertib selama di rumah live in.
Rasa, Guna, Aksi
Setelah dibuka secara resmi oleh Ketua BPU, selanjutnya Ellen dari Tim Kerja Komkep Keuskupan Denpasar, menyampaikan orientasi kegiatan. Ellen juga menjelaskan tentnga tema yang diusung dalam kaderisasi ini yaitu Rasa, Guna, Aksi.
Dijelaskan, Rasa bukan sekadar perasaan, tetapi kepekaan hati yang terlatih. OMK dipanggil untuk hadir secara utuh—mendengar tanpa menghakimi, memahami tanpa tergesa menyimpulkan, dan menangkap kebutuhan yang sering kali tidak terucapkan.

“Rasa membentuk empati, memperhalus nurani, dan menuntun OMK untuk melihat sesama bukan sebagai objek pelayanan, tetapi sebagai pribadi yang harus dihargai dan dikasihi,” kata Ellen.
Guna adalah kemampuan untuk mengolah apa yang dirasakan menjadi sesuatu yang bernilai. OMK hadir dengan daya pikir yang jernih, kemampuan membaca situasi secara bijak, serta keberanian merumuskan solusi yang relevan dan kontekstual. Guna bukan hanya soal pintar, tetapi tentang bagaimana pengetahuan, iman, dan pengalaman diolah oleh OMK menjadi keputusan yang tepat dan berguna bagi banyak orang.
Sedangkan Aksi adalah perwujudan nyata dari rasa dan guna. OMK tidak berhenti pada wacana atau niat baik, tetapi melangkah dalam tindakan konkret yang berani demi perubahan. Aksi menuntut keteguhan, tanggung jawab, dan komitmen dari OMK untuk tetap setia berjalan, bahkan ketika tidak mudah. Di dalam aksi, iman OMK menjadi hidup—karena apa yang diyakini sungguh diwujudkan dalam pelayanan yang berdampak positif bagi Gereja dan sesama.
Selama dua hari, para peserta dibekali dan berproses bersama para fasilitator antara lain Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, Ketua Komkep RD. Rony Alfridus Bere Lelo, Sekretaris Komkep Hironimus Adil dan Tim Komkep: Heldy, Fame, Ellen, Merry, Koming Medy, Amanda dan Berdy.

Materi kaderisasi, dimulai dari Who Am I; Spiritualitas Kepemimpinan OMK; OMK Solid Solider: Membangun Kerjasama dalam Tim; Solidaritas dan Peran Sosial OMK; Managemen Program Terstruktur; dan Dinamika Kelompok (Outbond) ‘Digital Experiential Learning.’
Vikjen, dalam paparan materi mengatakan OMK perlu membangun spiritualits sebagai cara hidup yang berakar dalam Kristus dan nyata dalam keseharian. Rm. Babey mengajak peserta untuk menjadi OMK yang berdampak, dengan menegaskan 3 hal yang perlu bagi orang muda yaitu Dekat dengan Tuhan; Aktif komunitas; Berani jadi Saksi.
Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya diisi dan dijejali materi, tetapi mereka juga diberi kesempatan untuk memahami situasi dan kondisi kebangsaan maupun lokal Bali yang aktual lalu mendiskusikannya dalam kelompok serta mengemukakan pendapat mereka sekaligus berani untuk menemukan solusi yang dapat dilakukan secara pribadi maupun komunitas untuk mengadvokasi situasi yang terjadi.

Ada juga sesi dabat yang dipandu Heldy Ardyansah, Tim Kerja Komkep. Tema debat adalah tentang masalah sosial kontkestual dan biasa bersentuhan dengan orang muda, seperti pro kontra tentang demo untuk mengkritisi masalah tertentu, dan debat tentang pro kontra reklamasi.
Peserta juga diajak untuk bersyukur dan merasakan kekuatan Tuhan melalui perayaan Ekaristi (pembukaan bulan Maria dan pentahtaan Sakramen Mahakudus) serta Ekaristi Penutup. Tim Komkep juga mengajak peserta untuk refleksi, dituntun untuk bertanya pada diri sendiri dan menjawabnya secara jujur dalam hati. Peserta juga diajak untuk pengendapan materi.

Ada juga penugasan hari pertama, supaya peserta berani menuliskan refleksi harian, terkait proses yang telah mereka lewati selama sehari, diajak untuk berani mengungkapkan secara jujur pengalaman bersama keluarga baru di rumah live in. Lalu ada evaluasi kegiatan, sosialisasi JOMK 2026 dan seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan Ekaristi *
Hironimus Adil



