Pintu Suci di Gereja Katedral Denpasar Resmi Ditutup

DENPASAR – Misa ke-4 pada Minggu, 28 Desember 2025 petang di Gereja Roh Kudus Katedral Denpasar cukup meriah. Misa dipimpin oleh Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San.
Imam konselebrasi yang ikut mendampingi Bapak Uskup berjumlah 7 orang. Jumlah yang tidak biasa untuk misa biasa, kendatipun itu perayaan wajib Pesta Keluarga Kudus Nazareth.
Kehadiran para imam konselebrasi khususnya dari luar Paroki Katedral, ternyata tidak semata-mata untuk merayakan Pesta Keluarga Nazareth. Tetapi diundang oleh Paroki Roh Kudus Katedral, sebab misa Minggu petang itu mendampingi Bapak Uskup melakukan penutupan secara resmi Pintu Suci (Porta Sancta) di Gereja Katedral Denpasar yang dibuka selama Tahun Yubileum 2025.

Para imam konselebrasi yang ikut dalam perayaan itu antara lain P. Paskalis Widastra, SVD-Pastor Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, RD. Ferdy Panggur-Pastor Rekan Paroki Nusa Dua, RD. Andri-Pastor Rekan Paroki Kuta, RD. Yulius Kehi-Pastor Rekan Paroki Gianyar, RD. Firgi Botu-Pastor Rekan Paroki St. Petrus Denpasar, serta Pastor Paroki dan Pastor Rekan Paroki Katedral P. Yosef Wora, SVD dan RD. Iwan Karwayu.
Seperti biasa, Misa Minggu petang di Gereja Katedral selalu dipadati umat. Demikian pula pada misa yang dirangkai dengan penutupan Pintu Suci ini, umat tidak hanya memadati bangku-bangku di dalam gereja termasuk di atas balkon, tetapi aula paroki yang terletak di basement gereja juga terisi.
Masih dalam suasana sukacita Natal, perayaan itu sungguh agung dan meriah, diiringi koor dari Lingkungan Arnoldus Jansen yang menyanyikan lagu-lagu liturgi dengan begitu indah dan memukau. Sebagian besar adalah lagu-lagu bernuansa Natal.

Dalam pengantar Misa, Bapak Uskup mengungkapkan, “Bersamaan Pesta Keluarga Kudus, kita mengikuti perayaan Ekaristi dalam rangka Penutupan Tahun Yubileum, di mana pintu-pintu suci di seluruh Gereja Katedral di dunia hari ini ditutup termasuk di Katedral Denpasar.”
Sementara disela-sela homilinya, Bapak Uskup juga mengumumkan berakhirnya Tahun Yubileum di berbagai keuskupan di dunia seraya berharap agar rahmat Tahun Yubileum tetap menyertai setiap umat beriman dan keluarga-keluarga.

Bapak Uskup juga berharap agar Tahun Yubileum 2025 yang bertema ‘Peziarah Pengharapan’, kiranya memberikan rahmat ketekunan dan ketabahan iman, serta rahmat pertobatan sungguh dialami umat di seluruh dunia termasuk umat Keuskupan Denpasar.
Bapak Uskup juga mengajak umat untuk terus menyalakan pengharapan pada Tuhan, karena pengharapan tidak pernah mengecewakan.
“Terima kasih kepada para imam dan seluruh umat yang hadir, atas partisipasinya dalam penutupan Pintu Suci di Tahun Yubileum ini, yang berlangsung dalam perayaan Pesta Keluarga Kudus Nazareth,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama Bapak Uskup juga menerangkan bahwa ada 4 Pintu Suci yang dibuka di Keuskupan Denpasar selama Tahun Yubileum 2025. Selain di Gereja Katedral Denpasar, juga dibuka di Gereja Paroki Mataram, Gereja Paroki Sumbawa Besar dan Gereja Paroki Bima.

“Empat Pintu Suci di wilayah Keuskupan Denpasar, sore ini juga semua pintu itu resmi ditutup,” kata Bapak Uskup, seraya menambahkan bagi umat yang masih ingin melewati Pintu Suci bisa datang langsung ke Roma.
Bapak Uskup menyampaikan bahwa di Roma Pintu Suci (Porta Sancta) baru akan ditutup tanggal 6 Januari 2026 sekaligus penutupan Tahun Yubileum 2025, bertepatan dengan Pesta Penampakan Tuhan.

“Kalau bapak-ibu mau ke Pintu Suci di Roma masih diberi kesempatan,” kata Bapak Uskup, seraya mengucapkan terima kasih kepada umat yang sudah memanfaatkan Pintu Suci yang tersedia dalam rangka pertobatan dan selalu berharap kepada Tuhan.
Keluarga Nazareth
Homili Bapak Uskup pada Pesta Keluarga Kudus Nazareth dan dalam rangka penutupan Pintu Suci itu, dimulai dengan cerita tentang keluarga miskin tapi bahagia.
Secara garis besar kisahnya seperti berikut. Ada sebuah keluarga miskin yang tinggal di gubuk reot. Pekerjaan sang suami sehari-hari adalah menggergaji kayu. Kendatipun dia letih karena pekerjaannya, tapi setiap hari dia sering bersenda gurau, bernyanyi dan selalu gembira.
Seorang sultan yang berlimpah harta, yang sering lewat dekat pondok mereka merasa jengkel, karena melihat keluarga itu selalu bergembira. Si Sultan sering menggerutu, bagaimana mungkin orang miskin bisa bergembira setiap hari, sementara dalam istananya tidak pernah ada sukacita dan kegembiraan walaupun segalanya ada.
Suatu hari sultan ingin menyelidikinya, karena itu dia mengirim orangnya untuk bertemu keluarga miskin tadi dan membawa pesan supaya esok pagi pergi menemui sultan di istananya dengan membawa serbuk kayu dengan jumlah yang sangat banyak dan tidak masuk akal. Jika tidak dipenuhi maka keluarga itu diancam akan dibunuh.

Menghadapi ancaman sultan, keluarga miskin ini tentu ketakutan, tapi suaminya tidak gentar, malah mengajak istrinya untuk tetap gembira seperti biasa sebelum dibunuh. Suaminya berkata ‘Seperti biasa kita tetap bernyanyi dan bergembira sebelum besok dibunuh.’
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ada yang datang dan mengetok pintu gubuk mereka. Dengan penuh pasrah mereka membuka pintu dan benar yang datang adalah orang-orangnya sultan. Namun, orang yang datang itu berkata, “Jangan takut, sultan sudah meninggal dunia tadi malam karena serangan jantung.”
Menurut Bapak Uskup, hal yang sama dialami keluarga Nazareth. Tidak sedikit kesulitan, tantangan dan penderitaan hidup yang bahkan dari sejak awal mula mau membentuk keluarga. Tantang pertama, Maria tiba-tiba mengandung padahal belum menikah dengan Yusuf. Tapi Tuhan menguatkan Yusuf melalu Malaikat dalam mimpi untuk tidak takut menjadikan Maria sebagai istri.
Lalu, saat mau melahirkan Yesus, tidak ada tempat bagi mereka di Betlehem, sehingga Yesus harus lahir di kendang hewan. Saat masih bayi pun, nyawa kanak-kanak Yesus terancam karena Herodes ingin membunuh-Nya.
“Meski memiliki tantangan, kesulitan dan penderitaan, Maria dan Yusuf tidak pernah ada niat sedikit pun untuk bercerai, justru mereka tetap gembira dan bahagia,” kata Bapak Uskup.
Bapak Uskup melanjutkan, kesulitan, tantangan dan penderitaan akan selalu ada dalam setiap keluarga. Tidak ada keluarga yang tidak punya persoalan, tapi bagaimana keluarga menghadapi setiap persoalan, tantangan dan kesulitan yang ada dengan tidak mudah menyerah, tetap menghadapinya dengan gembira dan bahagia.

Bapak Uskup mengajak supaya keluarga-keluarga Katolik meneladani Keluarga Kudus Nazareth, yang selalu tekun dan tabah serta tetap gembira dan bahagia dalam menghadapi berbagai tantangan, kesulitan dan penderitaan hidup. Kuncinya, selalu berserah diri dan terus membangun pengharapan pada Tuhan sang penyelamat kehidupan.
“Orang yang tekun dan tabah dalam penderitaan dan tantangan serta menyerahkan diri secara total kepada Tuhan akan bahagia dan selamat,” pungkas Bapak Uskup. *
Hironimus Adil



