LINTAS PERISTIWA

Fungsionaris Pastoral Keuskupan Denpasar Berjumpa di Catholic Center

DENPASAR – Seluruh fungsionaris pastoral Keuskupan Denpasar, mulai dari Bapak Uskup, para Kuria Keuskupan, para Ketua Bidang dan Ketua Komisi berikut Sekretaris-sekretaris Komisi pada Pusat Pastoral, plus pastor paroki dan pastor rekan se-Keuskupan Denpasar, saat ini berkumpul di Catholic Center Denpasar.

Hadir pula undangan dari pemerintah yang diwakili Pembimas Katolik Provinsi Bali Robert Bilarminus Suryanta dan Pembimas Katolik Provinsi NTB Kordi Gadur, serta utusan dari Ikatan Biarawati Keuskupan Denpasar (IBKD) dan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).

Kehadiran para fungsionari pastoral dan sejumlah undangan itu dalam rangka Sidang Pleno Dewan Pastoral Keuskupan (DPK) Denpasar 2025, yang berlangsung selama beberapa hari 24-28 November 2025. Kegiatan ini telah dibuka secara resmi oleh Bapak Uskup Denpasar Mgr. DR. Silvester San, Senin (24/11/2025).

Sidang ini diawali dengan misa pembukaan yang dipimpin oleh Bapak Uskup, didampingi dua imam konselebrasi yaitu Vikjen/Direktur Puspas RD. Herman Yoseph Babey dan Sekretaris/Ekonom Keuskupan Denpasar RD. Agustinus Sugiyarto.

Bapak Uskup Denpsar Mgr. Silvester San (tengah) didampingi Vikjen RD. Herman Yoseph Babey dan Sekretaris Uskup RD. Agustinus Sugiyarto, saat memimping Misa Pembukaan Sidang Pleno DPK 2025 di Kapela Catholic Center

Bapak Uskup, dalam pengantar misa mengungkapkan “Kita awali sidang dalam rangka laporan dan evaluasi karya pastoral 2025 dan menyusun program pastoral 2026 ini dengan memohon kekuatan Tuhan lewat perayaan Ekaristi.”

Terinspirasi oleh bacaan Injil tentang persembahan janda miskin yang memberi dari kekurangannya, dalam homilinya Bapak Uskup mengungkapkan, Yesus memuji nilai pengorbanan dari janda miskin yang memberi dari kekurangannya.

“Bukan soal besarnya persembahan yang dia berikan. Tetapi dari kekurangannya dia telah berkorban dan memberi diri,” kata Mgr. San.

Kepada para fungsionaris pastoral Keuskupan Denpasar, menurut Bapak Uskup, untuk melaksanakan program pastoral dengan baik, perlu memberi diri dan pengorbanan. “Kita memberi diri bukan untuk mendapatkan pujian, tetapi demi kemuliaan Allah dan kebaikan umat kita,” imbuh Bapak Uskup.

Para fungsionaris pastoral keuskupan mengikuti misa pembukaan: menimba kekuatan Roh Kudus

Bapak Uskup juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh fungsionaris pastoral baik di tingkat keuskupan maupun paroki. “Saya menyampaikan apresiasi kepada semua fungsionaris pastoral yang telah berjalan bersama saya sepanjang tahun 2025 ini untuk merealisasikan program-program yang telah kita tetapkan bersama,” ungkap Bapak Uskup.

Acara pembukaan dilakukan setelah misa yang diisi sambutan dari Direktur Puspas RD. Herman Yoseph Babey dan pengarahan Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San.

Romo Babey, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya rapat pleno Dewan Pastoral Keuskupan Denpasar untuk mengevaluasi kegiatan pastoral 2025 dan merancang bangun program pastoral Keuskupan Denpasar tahun 2026 dengan menekankan semangat sinodalitas dan memperhatikan situasi serta tantangan zaman.

Evaluasi kegiatan pastoral tahun 2025, ungkap Rm. Babey, merupakan suatu tindakan pastoral yang penting sebagai wujud nyata tugas perutusan di tengah dunia.

“Pengalaman berpastoral yang baik perlu disyukuri, sedangkan hal yang kurang baik harus diperbaiki. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan pelayanan pastoral dan mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk program pastoral tahun pastoral 2026, dengan fokus pada tema pastoral tahun 2026: ”Bangkit dan Bergerak Bersama Mewujudkan Gereja Sinodal melalui Keluarga, Sekami, OMK dan KBG yang Solid dan Solider,” katanya.

Sementara Bapak Uskup, dalam pengarahannya menyampaikan secara umum tentang perjalanan karya pastoral tahun 2025 yang diwarnai dengan beberapa peristiwa iman maupun gerakan pastoral baik tingkat keuskupan, regional dan nasional.

Acara pembukaan: Bapak Uskup memberikan pengarahan didampingi Vikjen/Direktur Puspas Keuskupan Denpasar

Bapak Uskup juga mengapresiasi pelaksanaan program pastoral tahun 2025 yang telah berjalan dengan baik oleh Puspas melalui setiap bidang dan komisi-komisi. Bapak Uskup juga menekankan agar evaluasi karya pastoral baik tingkat dekenat maupun keuskupan perlu disampaikan apa kekuatan dan kekurangan dari setiap program yang telah dijalankan sebagai evaluasi untuk pelaksanaan program tahun berikutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bapa Uskup menyampaikan tentang partisipasi Keuskupan Denpasar dalam Perpas Nusra XII dan SAGKI 2025. Diharapkan hasil dari Perpas dan SAGKI 2025 dapat menjadi tolah ukur bagi bagi seluruh fungsionaris pastoral dalam sidang pleno ini dalam menyusun program pastoral tahun 2026.

Di akhir pengarahannya, Bapak Uskup mengapresiasi semua pihak yang telah memberi diri, berjuang dan berjalan bersama dalam tugas perutusan dan pelaksanaan program pastoral Keuskupan Denpasar tahun 2025.

Selepas acara pembukaan, sidang melangkah ke agenda berikutnya yaitu orientasi acara sidang pleno yang disampaikan oleh Direktur Puspas RD. Herman Yoseph Babey.

Dalam menyampaikan orientasi acara, Rm. Babey, mengungkapkan sidang pleno terbagi dalam dua bagian utama yaitu evaluasi karya pastoral 2025 dan merancang program pastoral 2026, baik tingkat Dekenat maupun Pusat Pastoral (Puspas).

Menurut Rm. Babey, fokus evaluasi pastoral 2025, dilakukan secara sistematis, obyektif dan dialogis dengan mengedepankan prinsip keterbukaan dan kebersamaan.

Sementara untuk menyambut tahun 2026, Rm. Babey menjelaskan arah penyusunan karya pastoral 2026 antara lain melihat hasil evaluasi tahun berjalan, agar hal-hal baik perlu dilanjutkan dan ditingkatkan, hal-hal yang kurang untuk diperbaiki.

Pembukaan Sidang Pleno: para fungsionaris pastoral Keuskupan Denpasar mendengarkan sambutan Direktur Puspas dan Arahan Bapak Uskup

Dalam penyusunan program, Direktur Puspas mengingatkan supaya memperhatikan arah dasar karya pastoral Keuskupan Denpasar hasil Sinode V serta konteks sosial budaya masyarakat Bali, Lombok dan Sumbawa.

Di samping itu, dalam penyusunan program karya pastoral 2026 juga perlu memperhatikan rekomendasi pastoral Gereja Universal seperti Sinode para Uskup Sedunia dan dokumen lainnya, SAGKI 2025 dan Perpas Regio Nusra.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan program 2026, menurut Vikjen Keuskupan Denpasar ini adalah semangat sinodalitas agar setiap langkah pastoral tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dan saling menguatkan. Juga berjalan bersama sebagai satu tubuh Gereja dengan mendengarkan pengalaman, kebutuhan dan harapan umat.

Rm. Babey juga menyampaikan harapan pastoral yakni supaya rumusan kebijakan pastoral lebih terarah dan berkesinambungan, serta peningkatan kualitas koordinasi dan komunikasi antar dekenat-paroki/stasi dan Puspas.

Sebagai catatan akhir,dalam menyusun program 2026, Rm. Babey mengingatkan supaya memperhatikan partisipatif, reflektif dan strategis pastoral dan pada gilirannya menghasilkan pedoman pastoral yang jelas, kontekstual, dan memiliki dampak nyata bagi pertumbuhan iman umat dan martabat umat beriman. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button