WKRI Hadirkan Putri Koster Sebagai Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber

DENPASAR – Istri Gubernur Bali, Ni Luh Putu Putri Suastini Koster, memenuhi undangan WKRI DPD Bali-NTB, dalam rangka sosialisasi pengelolaan sampah berbasis sumber, di Aula St. Yoseph, Gereja Yesus Gembala Yang Baik, Ubung, Denpasar, Sabtu (5/7/2025).
Kehadiran Ny. Putri Koster, demikan biasa disapa, dalam kapasitasnya sebagai Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Palemahan Kedas (PSBS PADAS). Turut hadir mendampingi Ny. Putri Koster adalah Pokja Pembatasan Plastik Sekali Pakai Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSP PSBS).

Sosialisasi pengelolaan sampah tersebut, terselenggara sebagai rangkaian kegiatan HUT ke-101 WKRI dan diikuti ratusan anggota WKRI dan undangan lainnya.
Ketua WKRI DPD Bali-NTB dr. Nisa Setiati, dalam sapaan kasihnya, menerangkan bahwa tahun ini organisasi WKRI secara nasional merayakan usia 101 tahun.
Menyambut usia satu abad satu tahun, WKRI mengusung tema: Wanita Katolik RI Berjalan Bersama dalam Pengharapan Mewujudkan Kesejahteraan Perempuan dan Anak. Dalam semangat ‘lahir kembali’ organisasi ini, salah satu tekadnya adalah menjaga lingkungan hidup, sebagai implementasi Ensiklk Laudato Si dari Paus Fransiskus, yang isinya mengajak dunia untuk mencintai lingkungan.

“Kami siap bersinergi dengan pemerintah Provinsi Bali dalam gerakan Bali Bersih Sampah. Juga mewujudkan kesejateraan perempaun dan anak melalui Bali bersih,” kata dr. Nisa.
Kelola Sampah di Sumbernya
Ny. Putri Koster, dalam kesempatan itu mengatakan pengelolaan sampah berbasis sumber, dimaksudkan sampah-sampah yang ada langsung diolah di sumbernya, seperti sampah rumah tangga harus diselesaikan di rumah, sampah sekolah selesaikan di sekolah, demikian pula sampah-sampah yang ada di pasar, tempat usaha dan sebagainya.
Ny. Putri mengisahkan, pada era tahun 1980-an, sampah rumah tangga biasanya diolah di rumah masing-masing dan lebih banyak sampai organik. Memasuki tahun 1990-an, mulai mengambil sampah di rumah, lalu dibuang ke TPA Suwung, yang sekarang sudah menjadi gunung sampah.

“Kalau hanya dibuang, akan menjadi bom waktu. Sekarang ribut soal sampah yang menumpuk. Apa yang dilakukan dengan mengambil, mengakut dan membuang sampah ke TPA itu ternyata keliru. Sampah yang menumpuk, menimbulkan banyak masalah termasuk penyakit,” katanya.
Menurut dia, Gubernur Wayan Koster, sejak periode pertama menjabat sudah memiliki program pengelolaan sampah melalui Pergub no. 97 tahun 2018, tentang pembatasan sampah plastik sekali pakai. Bahan plastik seperti kresek, sedotan, sterofoam, dll, susah hancurnya dan itu berbahaya.
Lalu, munyusul Pergub no. 47 tahun 2019, tentang pengelolaan sampah berbasis sumber. Poin penting dari Pergub ini, menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya seperti rumah tangga, tempat usaha dan fasilitas umum lainnya. Dalam Pergub 47 tahun 2019, mewajibkan untuk pemisahan sampah antara sampah organik dan sampah pelastik.

“Ibu-ibu, bisa menyelesaikan persoalan sampah rumah tangga di rumah masing-masing. Sampah organik, seperti sisa makanan atau potongan sayur yang tidak terpakai diolah dan diselesaikan di rumah. Sedangkan sampah an-organik seperti plastik dikumpulkan dan ini menjadi peran dan tanggung jawab desa untuk diolah atau diangkut ke TPS3R,” katanya.
Lebih lanjut Ny. Koster, mengatakan, saat Gubernur memasuki periode kedua, ternyata aturan yang dibuat tidak jalan semestinya, sampah tetap bermasalah. Dengan demikian PSBS ini merupakan Program Super Prioritas Mendesak saat ini yang dicanangkan Gubernur Bali Wayan Koster, apalagi di TPA Suwung, sampahnya sudah menggunung dan semakin kesulitan menampung sampah yang ada.
Untuk itu, Ny. Koster, menegaskan supaya mengubah mindset, menggunakan keserdasan untuk mengelola sampah. Jika selama ini sampah dikumpulkan, angkut dan buang, sekarang saatnya ‘pilah dan kelola.’
“Kita di Bali harus menggunakan kecerdasan kita, seperti para penglingsir dulu yang menggunakan kecerdasan mereka untuk mengelola kehidupannya tanpa merusak lingkungan,” katanya.

Ny. Koster kwatir jika sampah tidak dikelolal dengan benar, Bali bisa jadi suatu waktu hanya menjadi tumpukan sampah. “Tapi kita jangan putus asa, kita terus berjuang untuk mengelola sampah kita. Mulai dari ibu-ibu, kelola sampah di rumah, demikian pula di sekolah, di pasar, dsbnya,” ajaknya.
Kepada ibu-ibu WKRI dan undangan lain yang hadir dalam sosialisasi itu, Ny. Koster, menyarankan mulai menyediakan tong bernama Komposter di rumah untuk mengolah sampah dapur.
Dikatakan, sampah dapur dimasukan ke Komposter, nanti diisi dengan microba cair. Fegmantasi dari sampah dapur itu, cairannya nanti berfungsi sebagai pupuk. Sedangkan sampah halaman rumah, perlu dibuatkan lobang berdiameter 2 x 1 meter dan masukan sampah organik seperti dedaunan kering dalam lobang.
“Kita yang bikin sampah, kita juga bertanggung jawab atas sampah yang kita buat. Jangan pernah membakar sampah, karena bisa menghasilkan racun terutama dari sampah plastik. Bila sampah organik kita kelola sendiri, maka 65% masalah sampah kita terselesaikan, karena 65% sampah kita organik,” katanya.
Diinformasikan juga bahwa mulai Agustus 2025, TPA Suwung tidak lagi menerima sampah organik, dan pada tahap selanjutnya akan ditutup karena sudah tidak layak. Diingatkan pula, sampah itu menimbulkan kekotoran alam dan alam akan marah dan membalikan sampah itu kepada manusia dalam bentuk penyakit, atau racun-racun.
“Jadi ibu-ibu harus antisipasi, sekarang sisihkan uang kita untuk membeli komposter, atau segera buat lubang di halaman rumah,” dia mengingatkan.
Buat ibu-ibu WKRI, Ny. Putri Koster mengingatkan, ketika lahir kembali, gunakan mindset baru, “Sampahku adalah urusanku, sampahmu urusanmu.”
Dia menambahkan, siapapun dia yang hidup di tanah Bali, harus bisa mewariskan kecerdasan para leluhur Bali agar jangan merusak alam. “Hiduplah kamu dengan jerih payahmu sendiri, jangan serakah apalagi merusak alam. Ini dipegang teguh oleh orang tua dulu,” imbuhnya.
Dalam sosialisai ini, juga mendengarkan paparan anggota Pokja PSP PSBS Prof. Ni Luh Kartini, yang menjelaskan tentang dampak pencemaran lingkungan sebagai akibat dari pengelolaan sampah yang yang tidak benar. Prof. Luh Kartini juga menjelaskan tentang penggunaan komposter dengan memaanfaatkan eco enzyme yang saat ini cukup banyak diproduksi.
“Dengan tidak meracuni alam berarti kita sudah menyelamatkan kehidupan,” pesan Prof. Luh Kartini, seraya mengingatkan persoalan plastik sama berbahayanya dengan pupuk kimia dan pestisida.
Dalam kegiatan sosialisasi itu, selain anggota WKRI, juga dihadiri Camat Denpasar Utara, Kepala Desa Ubung Kaja, Kepala Dusun Uma Sari dan PKK Desa Ubung Kaja, serta undangan lainnya. *
Hironimus Adil


