Di Pondok SVD Koor Paroki St. Yoseph Serap Energi Baru

PANCASARI – Memanfaatkan waktu libur Senin, 12 Mei 2025, Keluarga Besar Koor Paroki St. Yoseph Denpasar melaksanakan rekoleksi dalam rangka menyerap energi dan semangat baru.
Suasana segar di tengah perkebunan yang dipenuhi pohon Anggur Brasil milik SVD di Pancasari (Bedugul), menjadi tempat komunitas koor paroki itu menarik diri sejenak dari rutinitasnya. Sensasi hawa nan sejuk pegunungan Pancasari menjadikan rekoleksi itu sungguh menyenangkan.
Manariknya, sebelum dimulai dan sesudah rekoleksi, anggota koor ini diijinkan untuk memetik sendiri buah anggur yang matang dari pohonnya, langsung dimakan dan gratis. Tapi jika ingin memetik untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh, silahkan petik sendiri lalu ditimbang dan membayar dengan harga yang terjangkau.

Rekoleksi dibimbing oleh RP. Yohanes Nyoman Madia, SVD, Pastor Paroki St. Yoseph Denpasar. Bersama Pater Yan Madia, hadir pula dua pastor Rekan Paroki St. Yoseph Denpasar RP. Laurensius Ketut Supryanto, SVD dan RP. Gery, SVD.
Pater Yan Madia dan Pater Gery, ikut bersama rombongan komunitas koor paroki yang jumlahnya sekitar 40 orang dengan sebuah bus. Berangkat dari jalan Cargo Denpasar pukul 07.30. Perjalanan rombongan ini tidak langsung ke Pondok SVD Pancasari, tetapi mampir ziarah dan berdoa Rosario di Gua Maria Biara Karmel di Baturiti.

Setelah satu setengah jam berada di Biara Karmel, pukul 10.30 rombongan lanjut bergerak ke Pancasari yang ditempuh sekitar 30 menit. Tiba di sana, istirahat sejenak dan coffe break. Ada juga yang memanfaakan berjalan santai di antara pohon anggur, sambil memetik buahnya untuk makan atau sekedar foto-foto. Rekoleksi baru terlaksana pukul 12.30, setelah makan siang.
Pater Yan Madia, sebagai pembimbing mengatakan bahwa rekoleksi itu dari kita, oleh kita dan untuk kita. Maka, sebelum menyampaikan refleksinya terkait posisi/peran paduan suara dalam liturgi gereja, Pater Yan Madia, mempersilahkan anggota koor yang hadir untuk menyampaikan sharingnya terkait koor paroki saat ini.

Beberapa anggota koor paroki lalu menyampaikan isi hati (curhat)nya. Ada keprihatinan seperti kurangnya kehadiran dalam latihan, semangat yang menurun, terkait pelatih tetap yang memiliki komitmen terhadap koor paroki setelah pelatih sebelumnya Adi Purba meninggal dunia.
Lalu hal yang menggembirakan adalah kebersamaan dan kekeluargaan yang tetap terjaga dalam koor paroki. Berbagai harapan ke depan serta kondisi-kondisi lainnya diungkapkan secara terbuka. Intinya, apapun kondisi yang dihadapi koor paroki harus terus jalan.
Fungsi Koor dalam Ekaristi
Setelah mendengar banyak sharing dari beberapa orang yang mewakili suara anggota lainnya, Pater Yan, mengatakan bahwa putaran waktu itu hanya tiga yaitu kemarin, hari ini dan besok.
“Kemarin atau waktu yang lalu itu sudah lewat hanya sebagai sebuah kenangan dan tidak bisa kembali lagi. Besok adalah sesuatu yang belum dalam genggaman kita (belum nyata). Dari ketiganya yang terpenting adalah hari ini sebagai kenyataan yang sedang kita dihadapi,” katanya.

Pater Yan minta supaya fokus dengan kenyataan yang dihadapi saat ini. Jika kondisi dan semangatnya menurun, maka perlu dibenahi dan itu butuh komitmen dan kesetiaan setiap anggota. Contoh kecil yang butuh perhatian dan harus fokus serta perlu komitmen adalah waktu latihan. Itu waktu terpenting sebuah paduan suara paroki/gereja, maka selalu ditekankan latihan dan latihan.
“Koor paroki kita masih dihinggapi penyakit tidak disiplin latihan, tidak fokus. Saat latihan banyak yang masih terusik oleh pikiran-pikiran lain atau tergoda untuk lihat hp. Latihan ini yang menjadi fokus perhatian karena sedang ada di depan kita,” katanya.
Pater Yan menambahkan bahwa dari banyak anggota koor, rasa memiliki koor paroki St. Yoseph masih lemah. Perlu diketehui bahwa di mana-mana koor paroki merupakan bagian dari karya pelayanan gereja. Oleh karena itu adanya koor paroki itu penting, maka perlu komitmen untuk aktif dalam koor paroki, terutama aktif berlatih.
“Koor yang bagus adalah koor yang rutin berlatih. Namun, saya minta koor paroki untuk latihan cukup sekali dalam seminggu, supaya ada kesempatan bagi anggotanya untuk aktif berlatih bersama koor KBG,” imbuhnya.
Pater Yan juga mengingatkan, posisi atau fungsi koor dalam liturgi itu adalah sebagai motor penggerak, model dan teladan bagi umat agar umat juga ikut bernyanyi dengan baik dan benar dalam memuji dan memuliakan Tuhan.
Dengan demikian, koor yang baik harus memilih lagu-lagu yang juga bisa dinyanyikan umat. Kecuali saat komuni, boleh koor memilih lagu komuni yang hanya bisa dinyanyikan koor, itu masih bisa ditolerir, tetapi tetap sesuai aturan liturgi.
“Paduan suara itu dalam perayaan liturgi bukan mau konser dalam gereja sehingga menjadi pusat perhatian. Pusat perhatian itu tetap liturgi atau Ekaristi, sehingga perhatian utama pada misa, bukan pada koor yang menyanyi dengan hebat,” tegasnya.
Pater Yan menambahkan, misa adalah perayaan dalam arti kata yang sebenarnya. Musik dan nyanyian merupakan hal yang sangat penting dalam setiap perayaan liturgi, karena memberikan kehikmatan, martabat dan keindahan pada liturgi, serta memberikan sukacita dan peningkatan rohani bagi semua yang merayakan baik imam maupun umat.
Namun, karena Liturgi khsusnya misa bukanlah sesuatu yang bebas untuk semua orang, melainkan ‘jantung dan pusat seluruh kehidupan bagi Gereja,’ karena itu yang pertama-tama fokus kita adalah pada liturgi terutama saat misa.
Ke Gereja Bukan untuk Penuhi Tugas
Pater Yan, kemudian mengkritik cukup keras bahwa banyak yang bertugas atau ikut pelayanan saat misa hari Minggu atau Hari Raya itu, datang untuk sekedar menunaikan tugas atau pelayanan termasuk petugas koor, bukan datang untuk ikut misa.
“Apapun tugasmu dalam perayaan di gereja, pertama-tama kamu hadir untuk misa, maka hatimu sungguh mengarahkan kepada Liturgi secara keseluruhan, tidak sibuk hanya berpikir tentang koor, sekarang lagu apa, setelah ini lagu apa lagi. Kamu datang dalam perayaan Ekaristi bukan untuk memenuhi tugasmu, tetapi datang misa, jangan kamu habiskan waktu untuk sibuk urus koor, rugi besar itu. Demikian juga petugas-petugas liturgi lainnya, tidak sekedar datang untuk memenuhi tugas, lalu misa diabaikan,” katanya.
Sebagai pastor paroki, Pater Yan, selalu mendukung koor paroki, karena itu sekali lagi dimintanya supaya setiap anggota punya komitmen, rasa memiliki dan setia serta tekun berlatih.

Dalam kesempatan itu, Pater Yan, juga miminta Ibu Gek, selaku Koordinator Koor Paroki, untuk melanjutkan tugasnya serta meminta beberapa orang untuk menjadi tim pelatih dan dirigen. Sebelum menutup rekoleksi, koordinator menanyakan setiap anggota yang hadir mengenai komitmennya untuk koor paroki dan semua mengatakan siap.
Akhir rekoleksi, semua sukacita. Sebelum kembali ke Denpasar, diberi kesempatan kepada yang mau membawa pulang buah Anggur Brasil yang segar dipersilahkan petik sendiri, tapi jangan lupa ditimbang dan membayar, ada juga memanfaatkan kesempatan untuk lanjut foto-foto.

Tepat pukul 15.30 semua tinggalkan Pondok/Kebun SVD dan kembali ke Denpasar dengan membawa energi dan komitmen baru untuk koor paroki*
Hironimus Adil


