SOMA Bagi Pendamping Sekami Se-Pulau Lombok dan Bali

DENPASAR – Komisi Karya Kepausan Indonesia (KKI) Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar, kembali menyelenggarakan SOMA bagi para Pendamping Sekami.
School Of Missionary Animators (SOMA) adalah program unggulan Komisi KKI dan merupakan gelombang ketiga tahun 2025. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur KKI Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey.
SOMA gelombang ketiga ini diikuti oleh para pendamping maupun calon pendamping Sekami dari paroki-paroki se-Pulau Lombok-NTB dan Bali. Dilaksanakan di Griya Bakti Pastoral (Catholic Centre) Keuskupan Denpasar, Jumat – Minggu, 9 – 11 Mei 2025. Total peserta 51 orang.

Menurut Rm. Babey, demikian Direktur KKI biasa disapa, SOMA gelombang pertama juga dilaksanakan di Catholic Centre, diikuti oleh para pendamping Sekami paroki-paroki se-Bali.
Kegiatan yang sama untuk gelombang kedua dilaksanakan di Bima-Dekenat NTB, pada pekan ketiga Maret 2025, khusus untuk pendamping/calon pendamping Sekami dari 4 paroki di Pulau Sumbawa yaitu Sumbawa Besar, Dompu, Donggo dan Bima.
Motivasi
Para peserta yang mengiktui SOMA memiliki motivasi tersendiri dalam mengikuti kegiatan ini. Sesaat sebelum kegiatan dimulai, beberapa peserta diminta tentang motivasi, harapan dan komitmennya mengikuti SOMA.
Peserta dari Paroki St. Yoseph Denpasar (Dekenat Bali Timur), Margaretha Sastri, yang mengaku baru pertama kali mengikuti SOMA, hadir dalam kegiatan ini kerena termotivasi untuk meningkatkan pelayanan serta keterampilannya dalam pendampingan adik-adik Sekami di parokinya.

Dia berkomitmen, setelah mengikuti SOMA ini dapat menjadi teladan bagi adik-adik Sekami di parokinya. Dia berharap melalui SOMA ini akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru tentang pendampingan Sekami. Sastri mengaku telah menjadi pendamping Sekami Paroki St. Yoseph selama dua tahun.
Michael Abraham Geloranto yang akrab disapa Ibam, dari Paroki St. Theresia Tangeb (Dekenat Bali Tengah), juga mengaku baru kali ini mengikuti SOMA. Motivasinya adalah menjadi pelayanan Kristus lewat pendamping Sekami demi pertumbuhan iman mereka.

Dia berharap dengan mengikuti SOMA akan menjadi pendamping Sekami yang lebih baik lagi untuk adik-adik yang didampinginya di paroki.
Motivasi serupa diungkapkan Angel dari Paroki St. Maria Immaculata Mataram (Dekenat NTB). “Saya menjadi pendamping Sekami baru beberapa bulan. Motivasi saya mengikuti SOMA supaya bisa menjadi pendamping yang lebih baik lagi bagi adik-adik Sekami di paroki saya,” kata Angel.

Angel berharap sekaligus berkomitmen, dalam SOMA yang pertama kali diikutinya ini, mendapatkan materi dan keterampilan tentang pendampingan Sekami dan dapat menerapkan materi-materi yang dapatkan dalam pendampingan adik-adik Sekami di Paroki Mataram.
Sementara Intan dari Paroki St. Maria Immaculata Tabanan (Dekenat Bali Barat) mengakui sudah 6 tahun menjadi pedamping Sekami tetapi baru kali ini memiliki kesempatan mengikuti SOMA.
Motivasinya dalam mengikuti SOMA, supaya ada hal-hal baru yang didapat dalam SOMA ini yang bisa dilakukan di parokinya dalam pendampingan anak-anak Sekami.

“Setelah mengikuti SOMA, saat balik ke paroki, saya dan teman-teman akan sharing tentang materi yang kami dapatkan kepada adik-adik Sekami. Harapan saya ke depannya, lebih banyak lagi kaum muda yang menjadi pendamping Sekami,” katanya.
Sebagai pemanasan, mengawali kegiatan SOMA hari pertama, para peserta diajak melakukan animasi berupa lagu dan gerak khas Sekami.
Pengarahan Uskup
Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, hadir untuk memberikan pengarahan sekaligus membuka SOMA. Dalam arahannya, Bapak Uskup mengatakan SOMA merupakan salah satu bentuk pembinaan, pendampingan, dan kaderisasi bagi remaja.

“Dulu kalian mungkin sebagai anggota Sekami, sekarang siap menjadi Pendamping Sekami. Boleh dikatakan kalian naik tingkat dari anak sekami menjadi pendamping Sekami,” ungkap Bapak Uskup.
Dalam pembinaan SOMA, menurut Bapak Uskup, para peserta akan mengasah iman Katolik, kedewasaan kepribadian, kecerdasan intelektual, kepedulian sosial, dan jiwa kerasulannya agar makin matang sebagai rasul-rasul muda pembawa kabar sukacita lnjil, khususnya bagi anak-anak Sekami yang akan kalian dampingi nanti.
Bapak Uskup mengapresiasi KKI Keuskupan Denpasar yang telah membina Sekami di paroki-paroki sehingga menjadi hidup dan kegiatan berskala besar seperti Kemah 1000 Anak Sekami rutin dilaksanakan dalam tiga tahun sekali.
“Kita harus bersyukur karena SEKAMI di Keuskupan Denpasar di bawah pendampingan Romo Herman Yoseph Babey ini sungguh hidup dan regenerasi pendampingannya pun berjalan dengan sangat baik. Banyak kegiatan dilaksanakan untuk membekali para pendamping Sekami, hingga kegiatan berskala besar untuk anak-anak Sekami juga diselenggarakan, seperti halnya kemah 1000 anak Sekami yang diprogramkan setiap tiga tahun sekali,” kata Bapak Uskup.

Kegiatan-kegiatan bagi anak-anak Sekami, tambah Bapak Uskup, tentu sangat positif untuk membekali anak-anak agar memiliki iman yang tangguh serta diharapkan menjadi Generasi Penerus yang handal dan militan bagi Gereja dan bangsa ini. Lebih-lebih anak-anak di zaman modern dan globalisasi ini menghadapi berbagai tantangan yang hebat.
Selesai arahan, RD. Herman Yoseph Babey, selaku moderator, memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya kepada Bapak Uskup. Beberapa dari pendamping muda ini pun mengajukan beberapa pertanyaan dan dijawab Bapak Uskup dengan baik.
Selanjutnya Direktur KKI RD. Herman Yoseh Babey, menjelaskan tentang orientasi SOMA selama tiga hari ini, 9 – 11 Mei 2025. Selanjunya Romo Babey bersama Tim KKI Keuskupan Denpasar berproses bersama peserta selama SOMA berlangsung*
Hironimus Adil


