Panca Windu Imamat RD. Johannes Handrijanto Widjaja, Persembahkan Kenangan Spesial Monstran Bunda Maria
NUSA DUA– Monstran cantik berwujud Bunda Maria merupakan persembahan istimewa dari RD. Johannes Handrijanto Widjaja untuk Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Nusa Dua.

Romo Hans, demikian akrab disapa, memesan monstran indah itu dan menjadi kenangan spesial pada perayaan Panca Windu (40 tahun) Imamatnya untuk paroki di mana dia sedang bertugas.
“Empat puluh tahun perjalanan imamat saya sangat tergantung pada belas kasih Tuhan. Sebagai wujud syukur kepada Tuhan sekaligus kenangan khusus saya dalam perayaan Panca Windu ini, saya ingin mempersembahkan sesuatu yaitu Monstran Bunda Maria untuk paroki di mana saya sedang bertugas saat ini. Saya sangat tertarik dengan monstran ini karena Bunda Maria itu tabernakel pertama yang menyimpan Tuhan Yesus di dalam tubuhnya saat mengandung Yesus. Ini kenangan 40 tahun imamat saya untuk Paroki MBSB Nusa Dua,” katanya.

Moment istimewa itu dilakukan Romo Hans dalam perayaan Ekaristi syukur atas 40 tahun (Panca Windu) Imamatnya di Gereja Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua, Sabtu, (13/1/2024) petang.
Pada akhir tahun 2023 lalu, Romo Hans memang memasuki usia imamat ke-40, tepatnya pada 30 Desember 2023. Namun, perayaan syukur Panca Windu Imamat imam senior Keuskupan Denpasar ini baru dapat terlaksana pada Sabtu, 13 Januari 2024.

Di sela-sela misa yang dipimpin oleh Gembala Keuskupan Denpasar Mgr. Silvester San, tepatnya sesaat setelah homili Uskup, Romo Hans meminta waktu sejenak untuk menyampaikan hal di atas sekaligus memohon kepada Uskup untuk memberkati Monstran itu sebelum diserahkan secara resmi kepada paroki MBSB.
Perayaan Panca Windu Romo Hans dilaksanakan secara sederhana. Tidak ada acara yang wah. Hanya ada acara resepsi setelah misa di aula 1 Paroki MBSB untuk Uskup, para imam, biarawati dan undangan. Sementara seluruh umat paroki MBSB yang hadir mengambil tempat resepsi di aula 2.

Beberapa undangan dari paroki yang pernah dilayani oleh Romo Hans antara lain dari Gianyar dan Singaraja juga hadir, serta sejumlah undangan khusus dan terbatas lainnya termasuk keluarga inti serta kolega Romo Hans. Misa berlangsung agung dan meriah, diiringi koor paroki MBSB.

Mengingat perayaannya berlangsung Sabtu sore, sehingga hanya sebagian Imam Keuskupan Denpasar yang bisa hadir dan ikut dalam barisan imam konselebrasi mendampingi Uskup Denpasar, antara lain Vikjen Keuskupan Denpasar RP. Yosef Wora, SVD, Direktur Puspas yang juga Pastor Paroki Katedral RD. Herman Yoseph Babey, Deken Bali Timur yang juga Pastor Paroki F.X. Kuta RD. Evensius Dewantoro, Pastor Paroki dan Rekan MBSB RD. Adianto Paulus Harun dan RD. Ferdy Panggur dan imam-imam lainnya, hadir pula dua Diakon yang akan segera ditahbiskan pekan ini, Diakon Ores dan Diakon Andry, serta sejumlah Frater TOP.

Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, dalam pengantar Misa sore itu mengajak seluruh umat untuk bersyukur kepada Tuhan atas kasih setianya kepada Romo Hans sehingga bisa mencapai usia 40 tahun imamat.
“Kita layak bersyukur kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setianya, terutama bagi Romo Hans. Semoga Romo selalu diberi rahmat kesehatan dan terus setia sampai akhir hayat,” ungkap Mgr. San.
Sementara dalam homilinya, dengan latar belakang bacaan pertama yang menginspirasi Romo Hans dalam memilih moto tahbisannya “Tetapi harta ini kami punya dalam bejana tabah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari kami” (1 Kor 4:7), menunjukan kerendahan hati Romo Hans di hadapan Tuhan yang telah memilihnya sebagai imam, walau disadari akan kerapuhan dan kelemahan yang dimilikinya.
Dikatakan oleh Uskup, dengan pengalaman imamatnya yang jatuh bangun, Romo Hans sungguh mengalami cinta Tuhan yang selalu mengulurkan tanganNya kepada Romo Hans. Sebalinya Romo Hans membalas cinta Tuhan itu dengan terus menjadi imamNya walau pernah melewati masa yang sulit. Hal ini seperti kisah St. Petrus dalam bacaan Injil yang pernah berkianat dengan menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, tetapi Tuhan tahu bahwa Petrus sungguh mencintaiNya sehingga Tuhan memaafkan dan juga mencintai Petrus, sehingga memilih dia sebagai pemimpin Gereja yang pertama.
Mundur dari Serikat Yesus
Mengutip dari Buku Kenangan Panca Windu Imamat Romo Hans, dalam refleksinya dikisahkan bahwa dia ditahbiskan menjadi imam Kongregasi Serikat Yesus (SJ) pada 30 Desember 1983 di Yogyakarta oleh Kardinal Yulius Darmaatmadja, SJ.
Tujuh tahun kemudian dia meninggalkan SJ dan sempat bekerja di Surabaya sebagai awam biasa selama tiga tahun (1990-1993). Lalu, berkat bantuan sahabat lamanya yang pernah sama-sama Frater di Jakarta yaitu RD. Hubert Hady Setyawan yang sudah menjadi Imam di Keuskupan Denpasar, menghubungkannya dengan Uskup Denpasar kala itu Mgr. Vitalis Djebarus, SVD (alm.) sehingga akhirnya Uskup Vitas menerima dia sebagai imam Keuskupan Denpasar.

Tugas perutusan pertamanya sebagai Imam Diosesan Keuskupan Denpasar adalah di Stasi/Paroki St. Maria-St. Yoseph Dompu selama lima tahun (1993-1998), lalu Pastor Paroki Maria Immaculata Mataram (1998-2000), Pastor Paroki Gianyar (2000-2010) dan sempat merangkap menjadi Bendahara (Ekonom) Keuskupan Denpasar (2010-2011).
Tahun 2011-2022 Romo Hans diutus oleh Mgr. Silvester San, menjadi Pastor Paroki St. Paulus Singaraja yang kala itu dalam suasana perpecahan umat dan salah satu tugas khusus untuk Romo Hans adalah menyelesaikan perpecahan umat di paroki itu.
Berkat dukungan penuh Mgr. San, para imam dan umat awam, Gereja Singaraja berhasil dipersatukan dengan Keuskupan Denpasar dan pelan-pelan melakukan proses persatuan kembali umat yang terpisah. Tahun 2019 Romo Hans memulai proses awal pembangunan gereja baru Singaraja.
Selama satu tahun (2021-2022) Romo Hans sempat menjalani Tahun Sabatikal (cuti), dan membantu sebagai pastor tamu di Paroki St. Matias Rasul Kosambi Keuskupan Agung Jakarta. Saat itu sempat jatuh sakit dan dirawat selama 18 hari di Rumah Sakit Sint Carolus Jakarta.

Setelah pulih lahir batin, Romo Hans memutuskan kembali ke Keuskupan Denpasar dan sejak September 2022 hingga sekarang menjadi Pastor Rekan Paroki MBSB Nusa Dua.
Dari perjalanan panjang imamatnya, Romo Hans saat sambutan di perayaan Panca Windu mengungkapkan bahwa baginya 40 tahun imamat itu rasanya biasa-biasa saja, sebab banyak imam lain juga yang telah merayakan usia imamat yang sama.
“Rasanya biasa-biasa saja yang saya rasakan. Banyak di antara para imam yang kita kenal sudah melewati usia 40 tahun imamat. Saya jalani saja, selagi Tuhan memberi nafas. Tapi ini perasaan dari segi manusia. Dalam iman saya bersyukur dan merasakan sebuah anugerah yang istimewa dan luar biasa dari Tuhan. Tuhan memberikan kepercayaan kepada saya untuk terus bertumbuh dalam anugerah itu. Pada akhirnya saya juga merenungkan bahwa tidak semua imam akan mencapai usia imamat ini, entah karena lebih cepat dipanggil Tuhan atau mengundurkan diri karena alasan tertentu. Perjalanan imamat saya sejak ditahbiskan menjadi Imam Jesuit, lalu menjadi Imam Keuskupan Denpasa, sungguh saya menghayati kehidupan sebagai seorang imam. Saya sadar, Tuhan selalu ada dalam hidup saya dan Tuhan percaya pada saya, Tuhan mengutus saya. Saya percaya bahwa Tuhan sudah membimbing saya dan selalu akan membimbing saya,” katanya.

Sementara itu Uskup Denpasar dalam sambutannya mengungkapkan bahwa menjadi imam itu sangat menantang, tidak gampang dan melalui proses yang penuh perjuangan dan penderitaan.
“Romo Hans telah membuktikan dirinya sebagai imam yang tekun dan kuat sehingga bisa merayakan rahmat Panca Windu Imamat. Imam kadang mengalami krisis, jatuh bangun. Semua ini pernah dialami Romo Hans. Berkat rendah hati, mawas diri dan dengan mengandalkan Allah dalam karyanya sehingga dia bisa sampai saat ini. Ini menjadi peristiwa kesaksian iman atas kesetiaan Allah yang menyertai dan menopangnya,” ungkap Mgr. San.

Di mata Mgr. San, Romo Hans adalah imam yang tekun dan berprinsip kuat. Dia selalu berusaha menghayati moto tahbisannya, menyadari kerapuhan dan kelemahannya dan bahwa kekuatan yang berlimpah itu datang dari Allah bukan dari kemampuannya. “Apresiasi yang tinggi untuk Romo Hans,” imbuh Uskup San
Ketua Panitia Perayaan, Paulus, menyampaikan bahwa 40 merupakan angka Sakral dalam Gereja Katolik. “Ini baru imam,” katanya.
Mewakili seluruh umat, Paulus menyatakan rasa syukur bersama Romo Hans atas peristiwa iman yang luar biasa ini dan berharap Tuhan selalu menyertai Romo Hans serta diberikan rahmat kesehatan. ***




