Tiga Paroki Ikuti Pelatihan Program Paroki Tangguh Bencana

KUTA – Caritas-Komisi PSE Keuskupan Denpasar menyelenggarakan kegiatan berlabel ‘Pelatihan Standar Layanan Kemanusiaan Program Paroki Tangguh Bencana.’
Sejatinya kegiatan ini merupakan program dari Caritas Indonesia, di mana hanya 6 Keuskupan di Indonesia, termasuk Keuskupan Denpasar, yang terpilih sebagai keuskupan tempat berlangsungnya Program Gerakan Paroki Tangguh Bencana.
Pelatihan ini hanya diikuti tiga paroki yang akan menjadi contoh Paroki Tangguh Bencana di Keuskupan Denpasar, yaitu Paroki St. Maria Immaculata Mataram, Paroki St. Maria Ratu Gumbrih dan Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta.
Menurut Direktur Caritas-Ketua PSE Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro, tiga paroki ini dipilih atas dasar pertimbangan bahwa Paroki Mataram dan Gumbrih merupakan dua paroki yang menjadi langganan bencana alam seperti gempa bumi, banjir bandang dan bencana lainnya. Sedangkan Paroki Kuta menjadi paroki yang menjembatani berbagai saluran bantuan kemanusiaan, apalagi paroki ini dekat dengan bandar udara.

Pelatihan berlangsung selama lima hari penuh, Senin-Jumat, 26-30 Mei 2025. Total peserta 30 orang, masing-masing paroki mengutus 10 orang peserta. Mereka yang mengikuti pelatihan ini, di samping disiapkan menjadi relawan yang selalu siap sedia ketika terjadi bencana, juga terutama untuk membangun ketangguhan komunitas.
“Kita memang tidak mengharapkan adanya bencana, tetapi jika suatu waktu terjadi maka kita pasti sudah siap dengan relawan kita. Pelatihan ini juga bertujuan untuk membangun ketangguhan komunitas,” kata Direktur Caritas-Ketua PSE RD. Evensius.

Latar belakang adanya program ini adalah mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, terutama bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mencatat bahwa pada tahun 2024 terdapat 4.952 kejadian bencana yang tersebar di 443 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia (data dikutip dari TOR kegiatan).
Kondisi itu menuntut kesiapsiagaan dan respons cepat dari berbagai pihak, termasuk Gereja Katolik melalui paroki-parokinya, yang memiliki peran strategis dalam membangun ketangguhan komunitas.

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan pastoralnya, Caritas Indonesia menyadari bahwa kapasitas paroki dalam menghadapi bencana masih perlu diperkuat. Oleh karena itu, Program THRIVE (Transformative Humanitarian Response Through Parish Initiative and Empowerment) dikembangkan sebagai bagian dari implementasi Rencana Strategis Caritas Indonesia 2023-2027.
Program ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas paroki dalam tanggap bencana, meningkatkan kesadaran komunitas terhadap risiko bencana, serta membangun ketahanan komunitas berbasis solidaritas dan kearifan lokal.
Pelatihan ini sebagai langkah awal penguatan kapasitas bagi Tim Gerakan Paroki Tangguh di tingkat Keuskupan dan Paroki, dengan fasiltator pelatihan langsung dari Tim Caritas Indonesia.
Pelatihan Program Paroki Tanguh Bencana ini dibuka pada Senin (26/5), diawali dengan perayaan Ekaristi bersama umat lainnya di gereja St. Fransiskus Xaverius Kuta.

Misa dipimpin Vikjen/Direktur Puspas Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, didampingi Direktur Caritas-Ketua PSE Keuskupan Denpasar yang juga Pastor Paroki F.X. Kuta RD. Evensius Dewantoro dan Pastor Rekan Paroki Kuta RD. Ardianus Marlianto.
Rm. Babey, demikian Vikjen biasa disapa, dalam homilinya mengingatkan bahwa Yesus selalu minta para muridNya berani bersaksi.
“Yesus mau para murid untuk berjuang bagi mereka yang menderita dan miskin. Roh Kudus akan menguatkan murid dalam menjalankan tugasnya,” katanya dan kepada peserta Rm. Babey mengatakan, “Bapak-Ibu adalah orang pilihan Allah seperti murid yang disiapkan oleh Yesus, mengikuti pelatihan ini untuk membekali diri, lalu diutus pergi dan berani menjadi saksi Kristus dalam karya kemanusiaan melalui tanggap bencana.”
Dalam sapaan kasih sebelum berkat penutup, Direktur Carita-Ketua PSE RD. Evensius Dewantoro
mengungkapkan bahwa pelatihan ini merupakan yang pertama dan akan diikuti pelatihan lanjutan pada bulan-bulan berikutnya.

“Kami sangat paham situasi peserta, harus meninggalkan rumah dan pekerjaan sampai lima hari.
Ini tidak gampang, tapi syukur bapak ibu mau mengikuti kegitan ini. Saya bangga dan memberikan apresiasi yang tinggi,” ungkap Rm. Venus.
Rm. Venus berpesan supaya semua peserta harus ikut kegiatan sampai selesai secara penuh, tidak setengah-setengah. Demikian pula Tim PSE dan panitia akan melayani peserta secara penuh, tidak setengah-setengah.
Lama program ini, menurut Rm. Evensius, dua tahun dan akan sangat berguna bagi Gereja dalam menangani warga terdampak bencana dan yang paling penting adalah membangun ketangguhan komunitas dalam menghadapi berbagai kebencanaan yang terjadi.
Sementara itu, Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, yang membuka kegiatan itu secara resmi dalam sambutannya mengatakan, Gereja sebagai bagian dari masyarakat terpanggil untuk hadir dan terlibat aktif dalam pelayanan kemanusiaan yang tanggap, bermartabat dan berdaya guna.
Mengutip kata-kata Yesus dalam Matius 25:40: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk aku.’
Kata-kata Yesus di atas, demikian Rm. Babey, bukan hanya seruan belas kasih, tetapi juga panggilan untuk bertindak. Dalam semangat inilah Gereja menghadirkan dirinya sebagai pelayan kemanusiaan di tengah dunia yang rapuh oleh bencana, kemiskinan dan ketidakadilan.
“Pelatihan yang kita ikuti mulai hari ini sampai selesai untuk menjadi Sakramen Keselamatan sebagaimana ditegaskan dalam ‘Konstitusi Dogmatis Lumen’ yaitu Gereja dipanggil untuk melayani keselamatan manusia secara utuh, jiwa dan tubuh, pribadi dan komunitas,” imbuh Rm. Babey.

Romo Babey menambahkan, program Gerakan Paroki Tangguh Bencana merupakan bentuk nyata dari komitmen pastoral Gereja untuk menjadikan paroki sebagai komunitas iman yang siap, sigap dan solider dalam menghadapi krisis kemanusiaan.
“Kita tidak hanya belajar bagaimana menolong secara cepat, tetapi juga dengan standar yang menghormati martabat manusia, menjunjung keadilan dan menjaga akuntabiltas,” pungkas Vikjen.
Usai misa, hari pertama ini dilanjutkan dengan acara perkenalan, lalu orientasi pelatihan oleh Rm. Evensius dan pre-test oleh Tim Fasilitator dari Caritas Indonesia. Di sela-sela acara diselingi ice braking menarik untuk menghangatkan situasi sekaligus menyemangati peserta. *
Hironimus Adil



