LINTAS PERISTIWA

REMAJA SEKAMI MENJADI SAHABAT BUMI

Jimbaran-Saat ini dunia menghadapi Krisis lingkungan hidup  karena pola hidup dan pembangunan yang sering mengabaikan keseimbangan ciptaan. Akibatny terjadi perubahan iklim, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, dan meningkatnya timbunan sampah. Khusus di Bali, sampah menjadi persoalan serius.

Dilatarbelakangi oleh situasi memprihatinkan ini, maka Kemah Remaja Misioner Dekenat Bali Tengah, terpanggil membangun kepedulian terhadap lingkungan hidup. Pada sore hari kedua Rabu (24/6), para peserta mendapatkan materi edukasi ke empat tentang pentingnya mencintai dan merawat bumi sebagai rumah bersama.

Materi “Remaja SEKAMI Menjadi Sahabat Bumi”,  dibawakan oleh Romo Evensius Dewantoro,  Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Denpasar. Dalam pemaparannya, Romo Venus demikian ia biasa disapa mengajak para peserta  memahami pesan Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus yang berbicara tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan hidup.

Ketua PSE Keuskupan Denpasar itu menjelaskan bahwa Laudato Si’ yang berarti “Terpujilah Engkau” merupakan seruan Gereja kepada seluruh umat manusia, untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama yang telah dipercayakan Allah kepada manusia.

“Merawat lingkungan bukan sekadar tugas pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi tanggung jawab kita sebagai anak-anak Tuhan,” ungkapnya di hadapan para peserta.

Melalui materi tersebut, para remaja disadarkan  bahwa bumi adalah ciptaan Allah yang indah dan berharga. Karena itu, setiap orang dipanggil untuk menghormati seluruh makhluk hidup, menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi sampah dan polusi, serta menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.

Kepedulian terhadap lingkungan juga merupakan wujud kasih kepada sesama, terutama mereka yang paling merasakan dampak kerusakan alam.

Romo Venus, memotivasi para peserta  agar memiliki peran penting dalam menjaga masa depan bumi. Kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menanam pohon, menghemat air dan Listrik.

Mengutip pesan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laodato Si, Pastor Deken Bali Tengah itu mengingatkan bahwa “Segala sesuatu saling berhubungan.” Karena itu, perubahan besar selalu berawal dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Selain mengenalkan semangat Laudato Si’, para peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan sampah. Mereka diajak memahami bahwa sampah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang perlu ditangani secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan.

Peserta diperkenalkan pada berbagai jenis sampah, mulai dari sampah organik, anorganik, hingga sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, dan daun kering dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.

Sementara sampah anorganik seperti plastik, kaleng, kaca, dan kertas dapat didaur ulang menjadi barang yang bernilai guna. Adapun sampah B3, seperti baterai bekas, obat kedaluwarsa, dan lampu neon, memerlukan penanganan khusus karena berpotensi mencemari lingkungan.

Melalui sesi ini, para peserta juga diajak memahami dampak buruk sampah yang jika  tidak dikelola dengan baik, seperti pencemaran tanah dan air, munculnya berbagai penyakit, hingga risiko banjir akibat saluran air yang tersumbat.

Sebagai bentuk aksi nyata, Romo Venus  mengajak para remaja membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah sesuai jenisnya, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta memanfaatkan kembali barang-barang yang masih dapat digunakan.

Hal menarik lainnya dalam sesi ini adalah pengenalan Eco Enzyme, yaitu cairan ramah lingkungan yang dihasilkan dari proses fermentasi sampah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran.

Para peserta diperkenalkan pada proses pembuatannya yang sederhana, yakni menggunakan campuran gula, bahan organik, dan air dengan perbandingan tertentu, kemudian difermentasi selama tiga bulan.

Eco Enzyme memiliki berbagai manfaat, antara lain membantu mengurangi volume sampah organik, mendukung kebersihan lingkungan, serta menjadi alternatif produk yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, pembuatannya juga mengajarkan kebiasaan mengolah limbah menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai.

Melalui materi ini, para peserta tidak hanya belajar tentang lingkungan hidup secara teori, tetapi juga diajak membangun kebiasaan nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat Laudato Si’ menjadi pengingat bahwa mencintai bumi berarti ikut menjaga karya ciptaan Allah dan mewariskan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Dari Kemah SEKAMI Remaja Dekenat Bali Tengah, para peserta diajak menjadi generasi yang tidak hanya bertumbuh dalam iman, tetapi juga peduli terhadap lingkungan. Sebab merawat bumi adalah salah satu cara sederhana untuk mewujudkan kasih kepada Tuhan, sesama, dan seluruh ciptaan.

Materi tidak berhenti pada tataran teori. Para peserta juga diajak terlibat langsung dalam kegiatan praktik. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok, didampingi  Tim PSE Keuskupan Denpasar. Para peserta antusias melakukan praktik memilah sampah sesuai kategorinya, mulai dari sampah organik, anorganik, hingga sampah B3.

Selain itu, mereka juga secara langsung mengikuti dan mempraktekkan proses pembuatan Eco Enzyme dari bahan-bahan organik yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus membangun kesadaran bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Melalui praktik tersebut, para peserta tidak hanya memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperoleh keterampilan sederhana yang dapat diterapkan di rumah, sekolah, maupun lingkungan paroki. Christin***

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button