Meriahnya Pentas Seni Remaja Misioner Dekenat Bali Tengah

JIMBARAN – Pentas seni menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu dalam Kemah Remaja Misioner Dekenat Bali Tengah. Pada malam ini, Rabu (24/6/2026) setiap paroki menampilkan kreativitas mereka melalui berbagai drama dan pertunjukan yang seru, lucu, dan penuh makna.
Paroki Tritungga Maha Kudus Tuka menghibur peserta dengan penampilan “Meong-Meong” yang mengundang tawa. Paroki Roh Kudus Babakan membawakan cerita tentang kerja sama dan semangat kebersamaan meskipun memiliki keterbatasan dana.

Sementara itu, Paroki Santo Fransiskus Xaverius Kuta menampilkan drama tentang Yesus yang menyembuhkan seorang lumpuh di Kapernaum yang mengingatkan kita akan kasih dan kuasa Tuhan.
Tidak kalah seru, Paroki Santo Silvester Pecatu membawakan drama komedi yang berhasil menghidupkan suasana. Paroki Santo Paulus Kulibul menampilkan drama “Sahabat Iman” yang mengisahkan tentang kesalahpahaman dalam persahabatan.
Paroki Santa Theresia Tangeb dan Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Nusa Dua menjadi dua penampilan yang banyak menarik perhatian peserta kemah.

Paroki Santa Teresia Tangeb membawakan pertunjukkan drama tentang remaja Katolik yang bijaksana menghadapi dunia digital. Drama tersebut mengajarkan bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan dapat membuat seseorang melupakan banyak hal penting dalam hidup, seperti keluarga, tanggung jawab, pertemanan, bahkan kegiatan-kegiatan lainnya.
Dalam mempersiapkan penampilan tersebut, Paroki Santa Teresia Tangeb harus mempersiapkan alur cerita yang menarik. Selain itu, karena harus mempersiapkan skrip dan keperluan pentas, Paroki Santa Teresia Tangeb hanya memiliki waktu latihan selama satu minggu.
Tantangan terbesar yang dimiliki Paroki Santa Teresia Tangeb adalah untuk mempersatukan empat stasi yang jaraknya cukup jauh. Hal tersebut menyebabkan para peserta harus menyesuaikan waktu agar bisa berlatih bersama.
Selain Paroki Santa Teresia Tangeb, penampilan dari Paroki Maria Bunda Segala Bangsa juga berhasil mencuri perhatian para peserta. Mereka membawakan drama bertemakan ekologi, yang mengajak seluruh peserta untuk lebih peduli dan menjaga lingkungan yang telah diberikan Tuhan.

Tema tersebut terinspirasi dari Ensiklik Laudato Si karya Paus Fransiskus. Melalui drama tersebut, mereka ingin mengajak peserta untuk sadar bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dan salah satu bentuk rasa syukur atas ciptaan Tuhan.
Persiapan yang dilakukan juga tidak singkat. Mereka berlatih selama tiga minggu dengan menyesuaikan jadwal libur sekolah para peserta. Mereka juga harus membagi jadwal latihan dengan koor.

Pentas seni Kemah Remaja Misioner Dekenat Bali Tengah menghadirkan kesan dan pesan yang mendalam bagi para peserta kemah. Melalui pentas tersebut, para peserta dapat memetik pelajaran untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-harinya.*
Penulis: Helena Michelle-Komsos Paroki MBSB
Editor: Hiro/KomsosKD



