PUSAT PASTORAL

KKP-PMP Gelar Konsolidasi Komunitas Migran-Perantau

Pentingnya Berbaur dan Berdampak, Wujudkan Kamtibmas Kondusif

DENPASAR – Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar menggelar Konsolidasi Komunitas Etnis (Migran-Perantau), bertema ‘Berbaur dan Berdampak.’

Kegiatan pada Sabtu (21/2/2026), di Aula Keuskupan Denpasar, itu dihadiri sekitar 70 peserta, utusan dari paroki (dan stasi mandiri) se-Bali, paguyuban Etnis serta utusan Babinsa dan Bhabinkamtibmas bergama Katolik.

Narasumber kegiatan ini tiga orang yaitu Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, Ketua Forum Perbekel (Kepala Desa) Provinsi Bali Guru Gede Pawana dan Ketua KKP-PMP Puspas Yosep Yulius Diaz.

Konsolidasi tersebut dilaksanakan tidak lepas dari situasi Kamtibmas di Bali yang akhir-akhir ini agak kurang kondusif dan terusik akibat ulah onar segelintir oknum yang disinyalir pendatang dari luar Bali, khususnya yang banyak disorot adalah NTT. Situasi tersebut diperparah oleh amplifikasi lewat viral di media sosial dan berdampak cukup serius bagi perantau asal NTT di Bali.

Kendatipun secara umum kondisinya masih dapat terkendali, namun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar melalui KKP-PMP merasa terpanggil untuk melakukan konsolidasi seksi migran-perantau dan tokoh paguyuban etnis guna melihat situasi sosial ini secara jernih dan memahami akar masalah sesungguhnya dalam terang iman Katolik, untuk mewujudkan kambtibmas yang kondusif demi bonum commune (kebaikan umum).

Kegiatan ini diawali dengan doa yang dipimpin Ketua Bidang Pendidikan Umat (BPU) Puspas RD. Flavianus Endi. Sebelum doa, Ketua BPU mengapresiasi kegiatan ini dan berharap berdampak positif bagi umat terutama perantau, agar sama-sama menjaga kenyamanan di tengah masyarakat.

Ketua KKP-PMP Yosep Yulius Diaz, dalam sapaannya saat pembukaan acara itu mengatakan, Gereja merasakan kegiatan ini sangat penting.

“Kalau kita bisa berbaur dan memberi dampak yang baik sebenarnya tidak ada yang perlu kita khwatirkan. Dan situasi sebenarnya tidak gawat-gawat amat, persoalannya banyak yang memviralkan sesuatu apalagi yang buat viral itu banyak yang tidak aktif dalam paguyuban (khusus pendatang) dengan narasi yang cendrung memprovokasi,” ungkap Yusdi Diaz, sapaan akrabnya.

Kegiatan ini dibuka Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey. Vikjen juga sebagai narasumber, sehingga selain menyampaikan pengarahan singkat, dilanjutkan dengan presentase materi tentang ‘Migran-Perantau dalam Prespektif Gereja Katolik.’
Rm. Babey, memberikan definisi yang jelas, bahwa migran adalah orang yang perpindah tempat tinggal. Sedangkan perantau merupakan orang yang meninggalkan kampung demi hidup lebih baik.

Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey saat mempresentase materi

“Migran-perantau bersifat sukarela antara lain karena alasan ekonomi, bisa juga bersifat terpaksa karena ada perang atau bencana,” kata Rm. Babey.
Menurut Rm. Babey, dalam pandangan Gereja Katolik migran bukan masalah, tapi pribadi yang bermartabat, karena itu Gereja mengedepankan solidaritas demi bonum commune, serta keberpihakan pada yang lemah.
Rm. Babey, menerangkan 4 kata kunci dari Paus Fransiskus terkait dengan migran yaitu: Menyambut (welcome), Protect (melindungi), Promote (mengembangkan) dan Integrate (integrasi) dengan menghapus diskriminasi.
Secara teologis direfleksikan bahwa Gereja adalah rumah bagi semua bangsa. Maka, Gereja tidak boleh diam, tapi dipanggil untuk berjalan bersama migran-perantau. “Menerima orang asing berarti menerima Kristus sendiri (Mat 25:35),” tutupnya.

Sengaja Didatangkan
Narasumber berikutnya adalah Ketua KKP-PMP Yusdi Diaz dan Ketua Forum Kepala Desa Provinsi Bali Guru Gede Pawana yang tampil secara panel untuk memantik diskusi dengan moderator Sekretaris KKP-PMP Hironimus Adil.

Yusdi Diaz, Guru Gede Pawana dan Hiro (paling kanan) sebagai moderator

Yusdi Diaz dan Guru Gede Pawana, sama-sama mengungkapkan bahwa pendatang yang datang ke Bali bukan hanya karena secara sukarela untuk mencari pekerjaan atau sekolah, tapi sekarang banyak yang didatangkan oleh pihak-pihak tertentu untuk bekerja di proyek.

Mereka yang didatangkan ini lebih banyak tidak memiliki identitas yang jelas, berpendidikan rendah dan tidak terdaftar/masuk dalam paguyuban daerah asalnya, apalagi terdaftar dalam gereja bagi yang Katolik atau Protestan dan cenderung kurang berbaur dengan orang lain.

Guru Gede Pawana, menegaskan, begitu banyak pendatang di Bali dan memiliki karakter berbeda. “Kalau lihat dari data, ribut-ribut di Bali ini terutama lima tahun terakhir. Sebelum lima tahun itu orang datang ke Bali murni mencari kerja dan sebagian besar ulet dalam bekerja dan hampir tidak membuat masalah,” katanya.

Akhir-akhir ini, kata Ketua Forum Kepala Desa se-Bali asal Kabupaten Karangasem ini, ada juga migran-perantau yang didatangkan dan menjadi polemik.

“Yang mendatangkan mereka umumnya adalah teman-teman proyek. Banyak dari mereka datang saja, yang penting ada pekerjaan. Namun, kemudian ada beberapa kasus terjadi di beberapa desa (di Bali), seperti ada pekerja yang didatangkan ini tidak dibayar oleh mandornya. Mereka ditinggal dan tidak bisa makan, maka terjadilah ribut-ribut atau melakukan tindakan negatif seperti yang kita alami sekarang,” katanya.

Menurut Guru Gede Pawana, dari investigasi yang sudah pernah dilakukan, banyak akun medsos bodong yang ikut memperkeruh situasi, dibuat hastag. Jadi, tidak murni masalahnya dengan orang Bali. Orang Bali bukan tidak terima, tapi banyak yang diangkut ke sini, diterlantarkan, ini yang banyak buat ribut.

Narasumber lainnya Guru Gede Pawana (kanan) dan Yusdi Diaz

“Jujur saja pegawai di tempat usaha saya ada orang Sumba, mereka baik-baik dan sangat bertanggung jawab dalam pekerjaan. Dan saya atur mereka, minum boleh tapi pada hari Sabtu dan jangan sampai mabuk. Mereka juga sangat baik, punya perhatikan kepada keluarga. Luar bisa mereka bertanggung jawab terhadap keluarga,” ceritanya.

Guru Gede juga mau melatih warga perantau dari NTT di bidang pertanian, dan ada yang pulang menerapkan apa yang sudah dilatih, lalu berhasil di bidang pertanian.

“Kita harus buktikan bahwa tidak semua orang timur seperti yang distigmakan oleh banyak orang. Banyak yang luar biasa ulet dan memiliki tanggung jawab yang jelas. Kita memang harus bersama, tidak bisa memangku tangan. Kita harus bisa membangun kebersamaan dalam menghadapi situasi ini dan membangun komunikasi adalah paling penting,” katanya.

Lebih jauh, Guru Gede menghimbau perlu juga adanya jaringan komunikasi lintas etnis. Sehingga kalau ada permasalahan bisa memfasilitasi dan membangun komunikasi. Setiap orang mendapat hak yang sama untuk mendapat perlindungan.

“Kami juga menghimbau teman-teman khususnya dari NTT supaya masuk dalam organisasi-organisasi paguyuban yang ada supaya bisa terorganisir dan mudah koordinasi,” pinta Guru Gede.

Baik Guru Gede maupun Yusdi Diaz, menceritakan perhatian pemerintah daerah. Pemerintah NTT melalui Wakil Gubernur dan beberapa Bupati sudah datang ke Bali bertemu dengan Gubernur Bali dan beberapa Pemerintah Kabupaten di Bali.

“Kita sudah berkoordinasi pemda NTT dan Pemda Bali. Ada kesepakatan Pemda NTT akan membekali surat jalan dan identitas yang jelas bagi para perantau asal NTT yang akan ke Bali,” kata Yusdi.

Berbaur dan Berdampak

Yusdi Diaz, juga mengungkapkan, konsolidasi ini salah satunya dimaksudkan mencari bentuk bagaimana menghadapi situasi Kamtibmas di Bali. Menurut mantan Ketua Umum Flobamora Bali ini, untuk bisa membuka dialog dan komunikasi antara anak bangsa perlu bergaul, berbaur dengan siapa pun.

Menurut Yusdi banyak orang datang ke Bali, sudah dari dulu mereka berbaur. Contoh, kehadiran guru-guru dari NTT ke Bali, sungguh disambut dengan baik dan mereka berbaur dengan masyarakat lain termasuk masyarakat setempat dan kehadiran mereka memberi dampak positif.

Namun, sekarang orang tidak hanya datang atas sukarela untuk mencari kerja dan sekolah, tapi banyak yang didatangkan untuk bekerja di tempat-tempat tertentu. Mereka yang didatangkan ini, langsung bekerja dan tidak bisa berbaur dan terkadang buat masalah.

Peserta menyimak paparan narasumber

“Ini masalah kita bersama, bila ada yang terjerat masalah, kita jangan hanya berpikir itu masalahnya ‘dia’ bukan masalah kita, sehingga cenderung masa bodoh. Sisi lain, persoalan perantau asal NTT di Bali diperparah dengan viral di medsos, untuk itu kita juga perlu bijak bermedia sosial,” ungkapnya.

Kepada para perantau dari mana pun, terutama dari NTT, Yusdi mengingatkan “Kita tahu kita merantau, maka sebenarnya kita harus baik dengan masyarakat setempat. Jika kita baik, dampaknya pasti kita diterima dengan baik juga.”

“Bagaimana kita berbaur, sederhana saja. Kita mengenal dengan tetangga kiri kanan. Mengenal baik tuan kos di mana kita tinggal. Bangun komunikasi, ikut dalam aktivitas atau bakti sosial di lingkungan tempat tinggal, dan sebagainya,” sarannya.

Yusdi juga mengingatkan supaya biasa mengikuti kebutuhan dan situasi di banjar atau desa adat. Setiap desa memiliki kebutuhan atau aturannya masing-masing. Tapi kebutuhan universal adalah rasa damai, tenang, rasa nyaman.

“Kalau sudah malam jangan gas terus dengan musik yang keras, nyanyi-nyanyi, minum-minum. Kita harus berpikir rasa aman orang lain,” tegasnya, sambil menghimbau supaya aktif dalam kehidupan sosial, bersikap ramah dengan orang lain dan intinya membangun hubungan baik.

Aspirasi Peserta

Yusdi dan Guru Gede hanya sebagai pemantik diskusi. Moderator mempersilahkan perwakilan peserta dari setiap paroki untuk menyampaikan aspirasi sekaligus menceritakan situasi kamtibmas di parokinya masing-masing. Diberi kesempatan pula perwakilan komunitas etnis dan Babinsa serta Bhabinkamtibmas Katolik yang hadir dalam acara ini. Hanya saja karena keterbatasan waktu satu dua perwakilan paroki/stasi tidak sempat menyampaikan aspirasinya.

Banyak ide bernas muncul dari para peserta agar Kamtibmas di Bali tetap kondusif juga usulan sebagai antisipasi. Banyak juga cerita menarik yang bisa menjadi inspirasi bagi peserta lainnya untuk bisa di share kepada umat di paroki atau komunitas etnis di masing-masing wilayah, termasuk kepada warga perantau yang ada.

Hal yang menggembirakan, dari kesaksian peserta itu, ternyata sebagian besar wilayah (paroki) di Bali cukup aman dan riak-riak yang muncul di medsos akhir-akhir menjadi pelajaran untuk menjadi perhatian sekaligus antisipasi agar warga lebih bijaksana dalam bertindak.

Dalam pertemuan ini, juga dihimbau supaya terkait persoalan kamtibmas di Bali agar dapat dikoordinasikan dengan 4 pilar yaitu Desa Adat, Desa Dinas, Babinsa, Bhabinkamtibmas.

Sebagian peserta berbagi cerita di wilayah masing-masing

Terhadap berbagai aspirasi yang muncul, Guru Gede Pawana, selaku Ketua Forum Kepala Desa Provinsi Bali, mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta atas informasi, aspirasi, ide yang baik dalam membangun kehidupan bersama di Bali ini.

“Kita di Bali sebenarnya tidak mempersulit mereka yang datang ke Bali. Apalagi kalau semua mengikuti aturan yang ada baik terkait kependudukan (di desa dinas) maupun aturan-aturan
(desa adat). Mari kita bangun suasana yang adem. Bapak ibu juga membangun Bali, kita semua menjaga Bali. Orang Bali itu toleran, menerima siapa saja. Mari kita bangun kerja sama dan komunikasi dengan baik,” pungkasnya. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button