Misa Kamis Putih di MBSB Nusa Dua: Melihat Kembali Tiga Wasiat Agung Yesus

NUSA DUA – Gereja Katolik mengawali Trihari Suci dengan misa Kamis Putih yang mengenang perjamuan malam terakhir Tuhan Yesus bersama dua belas Rasul. Dalam perjamuan tersebut, Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi dengan mengubah roti menjadi tubuh-Nya dan anggur menjadi darah-Nya.
Salah satu hal yang menonjol di misa Kamis Putih adalah pembasuhan kaki para murid. Yesus mengeluarkan perintah baru (Mandatum Novum) kepada muridnya untuk saling mengasihi dan melayani dengan rendah hati. Melalui pembasuhan kaki tersebut, Yesus menunjukkan bahwa pemimpin harus melayani, bukan dilayani.
Misa Kamis Putih di Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Nusa Dua terbagi dalam dua sesi, yakni pada 18.00 WITA dan 21.00 WITA. Misa pertama dipimpin oleh Pastor Rekan RD. Ferdy Panggur Burhan, sementara misa kedua dipimpin oleh Pastor Paroki RD. Adianto Paulus Harun.
Pada misa kedua, perarakan diiringi dengan koor oleh Lingkungan Santa Maria Rosa Mystica. Setelah ritus pembuka dan bacaan, RD. Adianto mengawali homilinya dengan mengutip nas Kitab Suci dari Yohanes 13:14-15 yang berbunyi, “Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.”

RD. Adianto mengatakan, seseorang yang hendak pergi jauh atau meninggalkan dunia seringkali meninggalkan pesan atau wasiat. Pesan tersebut berisikan hal-hal yang menjadi harapan untuk dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang ditinggalkan. Pada misa Kamis Putih, umat mendengarkan pesan-pesan yang disampaikan oleh Yesus sebelum wafat-Nya.
“Ada tiga pesan utama yang diwariskan oleh Yesus kepada murid-Nya. Pertama, pesan tentang cinta, seperti bacaan Injil mengatakan sebagaimana Yesus telah mengasihi murid-muridnya dan akan terus mengasihi mereka, maka Yesus akan terus mengasihi mereka sampai akhir,” terang RD. Adianto dalam homilinya, Kamis (02/04/2026).
Pesan tersebut akhirnya dituangkan dalam kata-kata untuk saling mengasihi sesama, seperti Yesus telah mengasihi umat-Nya. RD. Adianto menyampaikan, pesan tersebut disampaikan untuk mengingatkan para murid bahwa dalam perjalanan hidup-Nya, Yesus telah menunjukkan kasih dan cinta yang luar biasa kepada orang-orang sakit, serta dengan memberi makan orang yang dicintai-Nya.
Penjelmaan cinta tersebut adalah ketika pembasuhan kaki para murid. Dalam proses pembasuhan kaki, Yesus menunjukkan cinta kasihnya dengan menjadi seorang hamba dan meninggalkan kebesaran-Nya sebagai seorang guru dan Tuhan.
“Tindakan Yesus yang membasuh kaki para murid adalah suatu teladan kerendahan hati sekaligus pengosongan diri dari seorang guru dan Tuhan demi cinta-Nya yang sehabis-habisnya, yang total, kepada para murid dan kepada orang-orang yang dicintainya, yang tidak lagi disebut-Nya sebagai hamba, tetapi disebut-Nya sebagai sahabat,” ucapnya.
Dengan pembasuhan kaki, Yesus menempatkan para murid-Nya bukan sebagai hamba, tetapi sebagai orang yang dihormati. RD. Adianto mengatakan, cinta yang diwujudkan oleh Yesus bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi dalam pemberian diri dalam suatu tindakan untuk membersihkan orang-orang yang dicintai.
Hal yang menarik dari proses pembasuhan kaki tersebut adalah Yesus memilih kaki, yakni bagian tubuh yang paling bawah, tempat kotoran sering menempel, dan tempat memijak segala sesuatu. Dengan tindakan tersebut, Yesus mau menunjukkan bahwa Dia ingin membersihkan murid-Nya dari dosa yang selalu ada dalam diri mereka.
Pembersihan dari dosa pikiran, perkataan, dan perbuatan tersebut dimaksudkan agar para murid dapat melangkah dengan baik menuju kepada persatuan dengan Allah yang ada di dalam diri Yesus.
Selain itu, Yesus menyempurnakan cinta-Nya dalam perjamuan malam terakhir. Perjamuan tersebut adalah perjamuan perpisahan, sekaligus kenangan akan Yesus sebagai guru yang mencintai dan mengorbankan diri kepada murid-muridnya.
“Dia telah memberikan diri-Nya kepada para murid dalam bentuk roti dan anggur sebagai ganti tubuh dan darah-Nya, sebagai lambang totalitas cinta-Nya yang mau menyerahkan diri untuk membuat para murid yang diliputi dosa dan maut, dibebaskan dari dosa dan kesalahan mereka, sehingga layak mengambil bagian dalam pesatuan dengan Dia,” kata RD. Adianto.

RD. Adianto menambahkan, sakramen yang diwariskan oleh Yesus tersebut kembali dihidupi oleh umat-Nya dalam Ekaristi Kudus. Melalui Ekaristi, umat Katolik diingatkan akan Yesus yang mencintai umat-Nya. Dengan tubuh dan darah-Nya, maka Yesus menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia.
“Dia memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai makanan untuk keselamatan kita, sehingga kita yang berdosa mengalami keselamatan dan persatuan dengan Dia, serta layak untuk mengalami kebangkitan dan kehidupan yang kekal bersama dengan Dia,” tuturnya.
Pada akhir homilinya, RD. Adianto mengajak umat untuk merenungkan tiga wasiat agung yang disampaikan Yesus kepada umat-Nya untuk melakukan sebagai kenangan akan Dia. Umat Katolik melakukannya melalui tugas dan karya pelayanan, misalnya di tengah keluarga, dengan sesama, serta di tengah masyarakat.
“Kita berusaha untuk menunjukkan kasih dan cinta kita kepada Tuhan, sama seperti Dia telah mencintai kita dengan membuka diri kita untuk mengampuni,” tutupnya.
Ibadat dilanjutkan dengan pembasuhan kaki oleh RD. Adianto kepada dua belas orang wakil lingkungan yang terpilih sebagai Rasul. Salah satu Rasul yang mendapat kesempatan dibasuh oleh RD. Adianto adalah Halyuda dari Lingkungan Stella Maris.
“Saya terharu karena saya melihat Romo itu bukan sebagai Romo, tetapi Tuhan Yesus sendiri yang membasuh kaki saya. Saya merasa meskipun saya orang yang berdosa, tetapi Tuhan membasuh kaki saya,” ungkapnya setelah misa berlangsung.
Halyuda berkata mengikuti pembasuhan kaki seperti berada di Perjamuan Kudus bersama dengan Yesus. Dia merasa Tuhan benar-benar mengasihi, serta tidak semata-mata melihat dosa dan kesalahan seseorang untuk berbuat tulus dan penuh kasih.

Sementara itu, Ketua Panitia Paskah Paroki MBSB 2026, Yantorif Manehat, menyebut antusiasme umat untuk mengikuti misa Kamis Putih cukup tinggi. Kursi pada misa pertama dan misa kedua terlihat penuh hingga ke basement dan tenda di luar gereja.
Yantorif mengestimasikan jumlah umat yang mengikuti misa adalah 2.000 umat untuk misa pertama dan 1.800 umat untuk misa kedua.
“Untuk misa berikutnya, kami akan mengadakan tambahan kursi sekitar 200 unit untuk antisipasi membeludaknya umat,” tambahnya.
Penulis : Sandra komsos paroki MBSB
Editor: Hiro/KomsosKD



