LINTAS PAROKI

Diguyur Hujan, Iman Tak Surut, Ribuan Umat Padati Misa Kamis Putih di Ampenan

AMPENAN – Suasana khidmat dan sakral menyelimuti perayaan Misa Hari Raya Kamis Putih di Paroki Santo Antonius Padua Ampenan, Kamis malam (4/4). Sejak sore hari, hujan lebat mengguyur kawasan Ampenan.

Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah umat. Dengan penuh semangat dan iman, ribuan umat tetap hadir mengikuti perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 18.00 WITA. Perayaan dipimpin oleh Pater Iron SVD dan berlangsung dalam suasana hening, reflektif, serta sarat makna iman.

Kamis Putih sendiri merupakan peringatan Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya—momen penting yang menegaskan kasih, pelayanan, dan penetapan Ekaristi sebagai pusat kehidupan Gereja.

Suasana semakin hidup dan menyentuh melalui pelayanan koor dari Lingkungan Maria Ratu Pencinta Damai, yang dengan harmoni suara yang lembut dan penuh penghayatan, mengantar umat masuk dalam misteri iman yang mendalam.

Dalam homilinya, Pater Iron menegaskan bahwa Kamis Putih menghadirkan tiga wajah kasih Yesus yang menjadi dasar hidup umat beriman. Pertama, Ekaristi: Pemberian Diri Total
“Inilah tubuh-Ku, inilah darah-Ku yang diserahkan bagimu.”

Yesus menunjukkan bahwa hidup yang bermakna bukan soal memiliki atau menguasai, tetapi keberanian untuk keluar dari diri sendiri dan hidup bagi sesama. Ekaristi menjadi tanda kasih yang total—memberi tanpa syarat.

“Saya menjadi manusia yang bermakna ketika saya berani keluar dari diri saya sendiri dan hidup bersama semua orang,” tegas Rm. Iron.

Kedua, Pembasuhan Kaki: Kerendahan Hati dan Pelayanan. Pembasuhan kaki menjadi simbol kenosis atau pengosongan diri. Yesus, Sang Guru, merendahkan diri-Nya menjadi pelayan.
Yesus memberi teladan bahwa kasih sejati adalah keberanian untuk menjadi kecil, agar orang lain menjadi besar. Tindakan ini menjadi lawan dari kesombongan dan keangkuhan.

Ketiga, Kesetiaan dalam Penderitaan. Kamis Putih juga menjadi awal penderitaan Yesus. Ia tahu apa yang akan dihadapi, namun tetap setia. Kasih sejati diuji bukan saat nyaman, tetapi saat seseorang tetap bertahan dalam penderitaan.

 

“Kasih sejati bukan hanya hadir saat suka, tetapi tetap setia dalam duka,” ungkapnya.

Sebelum ritus pembasuhan kaki, dilaksanakan pembaruan janji imamat oleh Pater Iron,SVD, Ia berlutut di depan altar dan membacakan Janji Imamatnya sebagai ungkapan kesetiaan dalam panggilan pelayanan kepada Gereja dan umat Allah. Setelah selesai membacakan janji imamat di lanjutkan dengan ritus pembasuhan kaki.

Beberapa umat yang terpilih duduk di depan altar, lalu Pater iron, SVD membasuh kaki mereka satu per satu. Tindakan ini melambangkan Penyerahan diri Yesus demi keselamatan manusia, Kerendahan hati seorang pelayan, Kasih yang melayani tanpa batas.

Misa dilanjutkan dengan Doa Umat, Liturgi Ekaristi, hingga Komuni Kudus. Meski jumlah umat sangat banyak, pembagian komuni berlangsung tertib, tenang, dan penuh hormat.
Para Prodiakon serta misdinar menjalankan tugas pelayanan dengan baik, mendukung jalannya liturgi yang khusyuk.

Menjelang akhir misa, suasana menjadi semakin hening. Dengan iringan lagu Tantum Ergo, umat mengikuti Perarakan Sakramen Mahakudus dengan sikap berdiri dan berlutut secara bergantian.

Misa Kamis Putih berakhir tanpa berkat penutup—sesuai tradisi liturgi—dan dilanjutkan dengan tuguran di ruang adorasi, di mana umat bergantian berjaga dalam doa.

Menariknya, hujan yang sejak awal mengguyur akhirnya reda sebelum misa selesai, Sebelum ritus pembasuhan kaki, dilaksanakan pembaruan janji imamat oleh imam selebran, sebagai ungkapan kesetiaan dalam panggilan pelayanan kepada Gereja dan umat Allah.

Perayaan Kamis Putih menjadi undangan bagi umat untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga menghidupi kasih dalam tindakan nyata. Kasih yang memberi, melayani, dan setia hingga akhir—itulah teladan Yesus.

Setelah misa berakhir team komsos mewancarai salah satu umat yang terpilih, Frengky, mengungkapkan rasa harunya.

“Saya sangat terharu dan tidak menyangka bisa terpilih. Saat kaki saya dibasuh, saya merasa Tuhan sendiri yang menyentuh hidup saya. Ini menjadi panggilan bagi saya untuk belajar rendah hati dan melayani sesama dengan tulus,” ujarnya.*

Penulis : Anthony_Laziale Komsos Paroki Ampenan
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button