LINTAS PAROKI

Rapat Kuria Legio Maria Ratu Para Malaikat Tuka

Bangkitkan Semangat Pelayanan dan Menjadi Ragi yang Menyebar

TUKA– Semangat pelayanan dan persaudaraan Legio Maria kembali berkobar dalam Rapat Kuria Ratu Para Malaikat Tuka ke 47 yang diadakan pada Minggu, 22 Februari 2026 di Perpustakaan Widya Wahana Tuka.

Legio Maria Presidium Maria Bintang Penuntun Tuka sebagai tuan rumah rapa ini, dihadiri kurang lebih 110 anggota dari 11 Presidium yang tersebar di wilayah Tuka, Kulibul, Pegending, Babakan, Tangeb, Tabanan, Piling, Gumbrih, Negara, Palasari, dan Singaraja.

Rapat Kuria yang diselenggarakan setiap bulan menjadi ajang penting bagi para Legioner untuk mempererat tali persaudaraan, mengevaluasi kegiatan yang telah berjalan, serta merancang program pelayanan ke depan.

Kehadiran para Perwira dan perwakilan anggota dari berbagai Presidium menunjukkan soliditas dan komitmen Legio Maria dalam menyebarkan nilai-nilai Injil di tengah masyarakat.

Rapat diawali dengan menyanyikan Mars Legio Maria. Lalu, dibuka dengan Doa PembukaanTessera yang dipimpin lansgung oleh Romo Flavianus Endi yang akrab dipanggil Romo Vian, selaku Pemimpin Rohani. Dilanjutkan Doa Rosario yang mengenang Peristiwa Sengsara dibawakan oleh Ketua Kuria Ngurah Darmadi.

Setelah Doa Pembukaan, dilanjutkan dengan Bacaan Rohani dari Buku Pegangan Legio Maria yang dibacakan oleh Asisten Pemimpin Rohani Sr. Luciani, OSF.

Dalam sesi penerimaan tamu, Ketua Kuria dengan penuh hormat memperkenalkan Ketua BPI Paroki Tuka dan Sie Komsos yang berkenan hadir. Ngurah Darmadi kemudian mengajak seluruh Legioner untuk mendengarkan sapaan kasih dari Pastor Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka RP. Paskalis Nyoman Widastra, SVD, yang akrab disapa Romo Paskalis atau Romo Nyoman.

Romo Nyoman mengatakan bahwa, pertemuan ini bukan sekadar kesempatan untuk berkumpul tetapi lebih dari itu untuk saling meneguhkan antar Presidium. Legio Maria diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif dan menyebarkan kebaikan Injil secara luas di lingkungan masing-masing.

Pesan itu menginspirasi para Legioner untuk tidak pernah lelah dalam berkarya dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. “Ternyata kita tidak berjalan sendirian tetapi berjalan bersama sebagai bentuk Gereja yang sinodal di bawah naungan Kuria Ratu Para Malaikat Tuka,” ungkap Rm. Nyoman.

Lebih lanjut Rm. Nyoman mengatakan “Kita mempunyai dasar yang kuat untuk melakukan pertemuan yaitu ketaatan, disiplin, dan pengorbanan. Pertemuan-pertemuan di setiap Presidium juga mengajarkan kita bagaimana menjadi tekun, setia, tabah, sabar, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Inilah juga merupakan tempat saling menguatkan melalui sharing-sharing yang dilakukan antar Presidium.” Romo Nyoman juga merupakan Pemimpin Rohani Presidium Legio Maria Bintang Panuntun Tuka.

Acara rapat dilanjutkan dengan presensi kehadiran dari masing-masing Presidium yang disampaikan dengan penuh semangat. Dalam Rapat ke 47 ini Presidium Bunda Penasihat Gumbrih mendapat kesempatan untuk memberikan Laporan tahunan yang dibacakan oleh Sri selaku sekretaris Presidium.

Dalam laporannya menyebutkan keadaan Presidium Bunda Penasihat Gumbrih yang sedikit mengalami pernurunan dibandingkan tahun lalu, baik dalam pertemuan rutin, maupun dalam keterlibatan kunjungan kepada mereka yang sedang sakit karena banyak kendala yang harus dihadapi.

“Jangan berkecil hati, meski mengalami penurunan namun semangat untuk ber-Legio tidak boleh kendor,” demikian tanggapan dari Thomas dari Presidium Regina Pacis Singaraja sebagai bentuk apresiasi kinerja para Legioner di Gumbrih.

Pertemuan kali ini memberikan kesempatan juga kepada Made Kusuma (Ketua Presidium Penating Anak Serani – Babakan) untuk berbagi pengalaman iman. Perjalanan imannya menjadi seorang Katolik yang penuh tantangan memberikan inspirasi kepada para Legioner untuk berjuang memenuhi panggilan Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria dengan tekun berdoa rosario dan meditasi.

“Saya disapa oleh Tuhan lewat meditasi yang saya lakukan bahkan sebelum saya dibaptis. Anak-anak saya lebih dahulu dibaptis baru kemudian saya,” ungkap Made yang masih menyisakan misteri perjalanan yang telah dilaluinya.

Alokusio

Sorotan utama dalam rapat kali ini adalah alokusio yang disampaikan oleh Romo Vian, Pemimpin Rohani Kuria Ratu Para Malaikat Tuka. Dalam pesannya yang mendalam, Romo Vian mengangkat tema yang sangat relevan: ‘Menjadi Ragi dalam Kehidupan Sehari-hari’.

Romo Vian menegaskan kembali bahwa panggilan sebagai legioner. “Mungkin kita bukan orang besar, bukan tokoh terkenal, tetapi kehadiran kita seharusnya membawa perubahan seperti membawa penghiburan bagi yang sedih, harapan bagi yang putus asa, dan terang bagi yang berada dalam kegelapan hidup,” katanya.

Romo Vian menambahkan, “Dalam kehidupan sehari-hari, menjadi ragi berarti: di rumah, kita membawa damai, bukan pertengkaran; di lingkungan, kita membawa kepedulian, bukan sikap acuh; di paroki, kita membawa semangat melayani, bukan hanya menunggu dilayani.”

“Mari kita mohon kepada Bunda Maria agar membentuk kita menjadi legioner yang sungguh-sungguh menjadi ragi: ragi iman, ragi kasih, dan ragi pengharapan, di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat. Jadilah ragi yang baik, supaya adonan hidup kita dan hidup sesama dapat diubah menjadi roti yang membawa berkat,” pungkasnya.

Rapat Kuria Ratu Para Malaikat Tuka ini bukan hanya sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah peneguhan kembali atas panggilan suci Legio Maria. Semangat persatuan, doa, dan pelayanan yang terpancar dari setiap anggota menjadi modal utama untuk terus berkarya, menjadikan Legio Maria sebagai ragi yang efektif dalam mewujudkan kasih Tuhan di dunia.*

Penulis: ide – R2
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button