LINTAS PERISTIWA

Literasi Adaptasi Perubahan Iklim, Belajar dari Kasus Banjir Bali

DENPASAR – Hari terakhir Oktober 2025, Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Keuskupan Denpasar menyelenggarakan Literasi Adaptasi Perubahan Iklim. Kegiatan dilaksanakan di Aula Kuskupan Denpasar, Jumat (31/10).

Literasi ini menghadirkan tiga narasumber, dua narasumber dari KKP-PMP KWI yaitu RD. Marthen Jenarut, SH; S.Fil (Sekretaris Eksekutif KKP-PMP KWI) dan DR. Maria Ratnaningsih (Pengurus KKP-PMP KWI sekaligus Pakar Lingkungan), dan DR. Ardy Ganggas (Staf Ahli Bidang Kebencanaan Pembangunan Kota Denpasar.

Peserta merupakan fungsionaris pastoral utusan paroki/stasi mandiri se-Bali, ada dari unsur KKP-PMP, PSE, OMK dan Kelompok Kategorial.

Diawali sapaan kasih Ketua KKP-PMP Keuskupan Denpasar Yosep Yulius ‘Yusdi’ Diaz. Yusdi Diaz, berharap kegiatan ini ada manfaatnya dalam menghadapi sekaligus mengantisipasi perubahan iklim yang cukup ekstrim saat ini.

Ketua KKP-PMP Puspas Yusdi Diaz saat menyampaikan sapaan kasih

“Apalagi kita di Bali ini sudah punya pengalaman banjir bandang September lalu, akibat curah hujan yang tinggi dan tak terputus selama dua hari. Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan pola cuaca yang ekstrim, yang kerapkali dikaitkan dengan fenomena perubahan iklim,” katanya.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Vikjen sekaligus Direktur Puspas Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey. Sebelumnya, Rm. Babey mengatakan literasi yang digagas oleh KKP-PMP ini merupakan momentum yang tepat karena Bali baru saja dilanda banjir bandang akibat cuaca (curah hujan) yang ekstrim.

RD. Babey juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan terakhir komisi di Puspas tahun 2025, karena setelah ini seluruh waktu dicurahkan untuk menyiapkan Sidang Pleno Keuskupan yang akan berlangsung Minggu ke-4 November.

Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey saat sambutan dan membuka Literasi Adaptasi Perubahan Iklim

Vikjen lantas mengingatkan bahwa terjadinya bencana seperti banjir tidak hanya karena alam, tetapi juga akibat ulah manusia seperti membuang sampah secara tidak disiplin.

“Bumi ini ibarat Ibu atau Saudari yang menanggung penderitaan dan sedih akibat ulah manusia,” tegas Rm. Babey, lalu kemudian di akhir sambutannya langsung membuka kegiatan itu dengan resmi.

Usai dibuka, masing-masing narasumber memaparkan materinya. DR. Maria Ratnaningisih dan DR. Ardi Ganggas, tampil pada kesempatan pertama dalam bentuk panel diskusi.

DR. Maria, memberi judul materinya “Bumi adalah Rumah Kita Bersama, Belajar dari Kasus Banjir di Bali, September 2025.” DR. Maria memaparkan di hadapan peserta mengenai analisis spasial potensi bahaya daerah pantai terhadap perubahan iklim di Pulau Bali berdasarkan Puslitbang SDA PU.

DR. Maria Ratnaningsih, Pakar Lingkungan: Iklim Ekstrim, belajar dari kasus banjir Bali September 2025

Lalu, DR. Maria,mengajak peserta untuk memahami akar masalah bahwa banjir itu sebagai bencana ekologis. Krisis iklim global dan dampaknya di Bali, menurut DR. Maria, antara lain peningkatan curah hujan ekstrim yang disebabkan perubahan iklim.

“Perubahan iklim membuat curah hujan menjadi labih singkat, tetapi dengan intesitas yang sangat tinggi (hujan ekstrim) melebihi kapasitas drainase,” katanya.

Kondis tersebut, diperparah oleh penyebab lokal (human induced) yaitu alih fungsi lahan resapan, kerusakan daerah aliran sungai dan pengelolaan sampah yang buruk.

Para peserta Literasi Adaptasi Perubahan Iklim

Peubahan iklim dengan fenomena ekstrim, lanjutnya, memiliki penyebab ganda yaitu faktor alam dan manusia.

Faktor alam, antara lain terjadi suhu tinggi yang menyebabkan curah hujan ekstrim, yang ditandai panas terik sinar matahari menyebabkan lebih banyak penguapan, lalu kelembaban berlebih membentuk awan-awan dan hujan lebih deras.

Sedangkan ulah manusia misalnya, pengelolaan sampah yang buruk dan alih fungsi lahan. Dengan demikian menurut Konsultan Sustainable Landscape & Managemen, itu pengendalian tata ruang adalah kata kunci.

Beberapa rekomendasi kebijakan dari Ketua Masyarakat Konservasi Air Indonesia ini untuk diperhatikan khususnya di Bali, antara lain Audit Tata Ruang, Penegakan Hukum, Moratorium Pembangunan, Rehabilitasi Lingkungan serta menghentikan pembangunan akomodasi pariwisata atas nama ekonomi semata.

Selain itu, hal lain yang mendesak untuk dilakukan adalah revitaliasi kearifan lokal untuk mitigasi, adaptasi dan mitigasi berbasis ekologi (aksi nyata), dan kurangi sampah dari sumbernya.

Manajemen Kebencanaan

DR. Ardy Ganggas, tampil mamaparkan materi sebelum DR. Maria Ratnaningsih. DR. Ardi memaparkan Manajemen Kebencanaan (penanganan bencana dan pasca bencana).

DR. Ardy Ganggas (berdiri) saat memaparkan materi Manajemen Penanggulangan Bencana

Menurut Staf Ahli Kebencanaan Pembangunan Kota Denpasar ini, bencana itu dapat berupa alam, non alam dan bencana sosial. “Manajemen bencana berfungsi memastikan keberlanjutan pembangunan nasional dan menerapkan prinsip build back beter (membangun lebih baik),” katanya.

Menurut pria yang selama menjadi PNS di Kota Denpasar dan waktu pengabdiannya lebih banyak bergelut di bidang kebencaan, tujuan Manajemen Bencana antara lain mengurangi resiko dan kerugian, menjamin bantuan tepat sasaran, memastikan pemulihan berkelanjutan dan memperkuat kapasitas masyarakat.

Sedangkan tahapan penanganan pasca bencana menurut Instruktur Bela Diri dan pemegang DAN VII Karatedo, ini dimulai dari tahap pemulihan demi stabilisasi kondisi masyarakat, tahap rehabilitas (pemulihan infrastruktur dan ekonomi) serta tahap rekonstruksi (pembangunan jangka panjang dengan konsep build back better).

Sementara Sekretaris Ekesekutif KKP-PMP KWI RD. Marthen Jenarut, yang tampil pada sesi terakhir memaparkan tentang upaya pastoral sebagai upaya mitigasi bencana dalam semangat Laudato Si (Keadilan Iklim dan Ekologi).

Romo Marthen memaparkan tujuh sektor Laudato Si Action Plan (LSAP) yang mencakup: Merawat dan melindungi bumi, Solidaritas bagi kelompok rentan, Ekonomi sub-sistem dari nilai sosial dan lingkungan, Perubahan gaya hidup, Spirit integral ecology dalam kurikulum Pendidikan formal dan gerakan non formal, Spiritualitas dan pertobatan ekologis – menemukan Tuhan dalam segala hal dan Gerakan Sinode komunitas advokasi peduli lingkungan.

RD. Marthen Jenarut (Sekretaris Eksekutif KKP-PMP KWI: Keadilan Iklim dan Ekologi dalam semangat Laudato Si

Terkait dengan berbagai persoalan iklim dan ekologi di Indonesia, Rm. Marthen menawarkan beberapa hal yang harus dibuat Gereja Indonesia, antara lain (1) Tugas Gereja (kerygma, liturgia, diakonia, martyria, koinonia) dikemas dan terintegrasi dalam isu ekologi; (2) Mendorong pertobatan ekologi dengan perubahan gaya hidup; (3) Pendidikan dan Formasi Ekologi; (4) Aksi pastoral dan sosial yang nyata; (5) Membela keadilan ekologis dan sosial.

Rencana Tindak Lanjut

Pada bagian akhir literasi adaptasi perubahan ikilm tersebut, peserta diminta untuk merencanakan tindakan nyata (rencana tindak lanjut) yang didapat dilakukan baik secara pribadi maupun komunitas (Gereja).

Ice breaking untuk mencairkan suasana

Peserta melakukan diskusi berdasarkan Dekenat: Bali Timur, Bali Tengah dan Bali Barat. Setiap dekenat membuat RTL antara lain pertama, langkah konkret yang dapat dilakukan dalam mengendalikan kerusakan lingkungan dan kedua, hal-hal yang dapat dilakukan untuk penyadaran umat (masyarakat).

Diskusi kelompok membuat rencana tindak lanjut (RTL).

Rangkuman RTL yang disepakati peserta antara lain untuk langkah kongkret dalam mengendalikan kerusakan lingkung aadalah memilah dan mengolah sampah keluarga/rumah tangga dan mengedukasi umat, mengurangi penggunaan sampah plastik, budayakan pemakain tumbler, budaya gotong royong bersih lingkungan, menggunakan air dan listrik secara bijaksana, memulai pembiasaan pertobatan ekologis, menggunakan bahan ramah lingkungan, gerakan menanam pohon dan sebagainya.

Dari kiri-kanan: Hiro (moderator sesi 1), RD. Marthen Jenarut, DR. Maria Ratnaningsih, Yusdi Dias (Ketua KKP-PMP) dan Blasius N. Manuk (moderator sesi 2)

Sedangkan untuk penyadaran umat RTL yang direncanakan yaitu Pelatihan kesiapsiagaan bencana, pengelolaan sampah dan pelatihan eco ezyme, membuat media edukasi melalui medsos, sosialisai terkait pencegahan banjit di KBG/Lingkungan, program penanaman pohon, himbau umat tidak melakukan alih fungsi lahan dan tak kalah penting para Pastor melalui homily dan kesempatan lainnya terus menerus memberikan penyadaran kepada umat pentingnya mengelola sampah yang baik dan benar. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button