LKM Berjiwa PSE: Saling Memberdayakan untuk Berdaya dalam Keuangan

KUTA – Para pegiat Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dari paroki-paroki se-Keuskupan Denpasar yang mengikuti Temu Penggerak Rasul PSE di Paroki Kuta, 30-31 Januari 2026, mendapatkan berbagai pengetahuan terkait pilar-pilar utama Gerakan PSE dan bidang tugas PSE lainnya.
Lembaga Keuangan Mikro (LKM) merupakan salah satu pilar gerakan PSE dalam rangka kesejahteraan umat. Materi tentang LKM ini menghadirkan narasumber yang merupakan pelaku LKM dan pernah menjadi Pengurus Komisi PSE Keuskupan Denpasar (Divisi Pariwisata) yaitu Nyoman ALoysius.
Nyoman Aloysius, yang biasa disapa Pak Lecus atau pak Nyoman, mengawali pemaparannya bahwa Lembaga Keuangan Mikro (LKM) cukup banyak tumbuh di berbagai tempat. Tujuan utama dari LKM-LKM itu umumnya untuk mendapatkan profit atau keuntungan.

Namun, Pak Lecus dalam kesempatan ini membahas tentang LKM berjiwa PSE. Seperti apa LKM berjiwa PSE itu?
Pak Lecus menerangkan, LKM berjiwa PSE sebenarnya sama seperti LKM umumnya. Namun yang membedakannya bahwa LKM berjiwa PSE tidak semata-mata mengejar profit, tetapi semangat utamanya adalah saling ‘memberdayakan untuk berdaya dalam keuangan.’
“Inti LKM berjiwa PSE itu saling memberdayakan dan solidaritas sesuai semangat PSE,” ungkapnya pada Jumat (30/1) siang di hadapan peserta Temu Rasul Penggerak PSE. Kegiatan ini diselenggarakan Komisi PSE Keuskupan Denpasar.
Pak Lecus mengungkapkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya orang memerlukan uang. “Walau ada yang mengatakan uang bukan segalanya, tetapi segalanya membutuhkan uang. Ini realitas kita,” katanya.
Kehadiran LKM, katanya, terutama membantu umat (masyarakat) kecil yang sulit mengakses Lembaga keuangan formal. Untuk mengakses dana ke Lembaga keuangan formal seperti bank dibutuhkan banyak persyaratan termasuk adanya jaminan. Dan tentu saja berat bagi masyarakat atau umat kecil yang tak punya apa-apa.

Pak Lecus dalam kesempatan itu, meminta para Rasul PSE untuk menyadarkan dan mengingatkan umat supaya selalu hati-hati dengan tawaran sumber pinjaman uang seperti rentenir atau pinjaman online (pinjol). Biasanya pinjaman melalui rentenir atau pinjol itu mudah, tapi sangat bunganya mencekik dan dapat merusak nama baik peminjam.
“Uang PSE bisa bisa diakses untuk penguatan umat yang mau berusaha di sektor usaha mikro,” kata pendiri CU Simon Buis Paroki Tuka ini.
LKM Berjiwa PSE, lanjutnya, adalah sarana pelayanan Gereja, bukan lembaga keuntungan murni. “Ada wujud kasih dan keadilan sosial sekaligus alat pemberdayaan ekonomi umat. LKM berjiwa PSE dikelola berdasarkan Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang mengedepankan martabat manusia, solidaritas, subsidiaritas, keberpihakan pada kaum miskin dan lemah, Keadilan dan kejujuran,” kata pengusaha Pariwisata ini.
Menurut Nyoman Aloysius, peran LKM berjiwa PSE di antaranya memberikan layanan simpan pinjam dan pembiayaan dalam semangat solidaritas yang bertujuan untuk memberdayakan ekonomi
Ciri-ciri LKM berjiwa PSE antara lain pendampingan dan bukan hanya memberikan pinjaman, relasi kekeluargaan, bunga/jasa pinjaman yang pantas, keuntungan/hasil usaha untuk pelayanan umat, transparansi dan partisipasi.
Para Pengelola LKM berjiwa PSE, menurut Pak Lecus, harus mengelola dana dengan jujur, mendampingi anggota, melakukan pembukuan/pencatatan keuangan dengan cermat sesuai standar akuntansi Indonesia, menjaga keberlanjutan dana dan menjadi teladan integritas.
Sasaran LKM berjiwa PSE, dia menambahkan antara lain umat yang lemah/terpinggirkan/miskin, umat yang melakukan usaha mikro, keluarga-keluarga rentan ekonomi, lingkungan/kelompok basis gereja dan anak muda Katolik yang sedang membangun ekonomi. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan umat.
Sebelum menutup sesinya pak Aloysius mengenalkan mengenalkan CU Simon Buis-Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka sebagai salah satu LKM berjiwa PSE.
CU Simon Buis merupakan Lembaga Keuangan Mikro simpan pinjam yang dikelola dengan semangat PSE. Salah satu produknya adalah layanan pinjaman tanpa agunan, tapi dengan jumlah pinjaman maksimal 3 juta rupiah. Sasarannya ada umat kecil yang sangat membutuhkan. “Tetap ada juga pinjaman umum dengan jaminan,” katanya.
CU Simon Buis bekerja sama dengan gereja (Paroki Tuka) dan setiap SHU tahunan ada yang disisihkan juga untuk gereja. CU ini juga bekerja sama dengan pengurus lingkungan, sebab para pengurus itu yang paling tahu warganya, sehingga ketika ada anggota yang ingin meminjam ke CU, pengurus atau manajemen CU bisa mencari informasi tentang latar belakang anggota itu di pengurus lingkungannya.
CU Simon Buis juga melayani anggota yang menabung. “Kita selalu menyadarkan anggota untuk menabung dengan tiga manfaat yaitu ada bunga, membantu anggota lain yang butuh, dan solidaritas,” pungkasnya.
Merawat dan Mencintai Bumi
Pengetahuan lain didapatkan peserta dalam Temu Rasul Penggerak PSE ini adalah tentang merawat dan mencintai bumi yang merupakan salah satu bidang tugas Komisi/Seksi PSE.
Materi merawat dan mencintai bumi ini, menghadirkan 3 fasilitator dari Tim PSE Keuskupan Denpasar RD. Agustinus Wayan Yulianto yang berbicara khusus ‘Merawat-Mencintai Bumi NTB’; lalu Martinus berbicara tentang ‘Produk Ramah Lingkungan’; dan Maria Novita menjelaskan tentang ‘Merawat dan Mencintai Bumi melalui HPS.’

Rm. Wayan mengatakan, merawat lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Misalnya memilah sampah, mengumpulkan sampah plastik, menghargai pangan lokal dan reboisasi.
Untuk umat Katolik di NTB, kata Rm. Wayan, hal sederhana yang dapat dilakukan untuk merawat bumi antara lain mengurangi penggunaan pupuk kimia dan diganti dengan pupuk organik, mengonsumsi pangan lokal, penanaman bakau dan bersih pantai, penghijauan di lahan gereja atau milik umat, serta memilah sampah.
Sementara Martinus menjelaskan salah cara merawat bumi adalah melalui penggunaan produk ramah lingkungan, seperti eco enzyme dan turunannya.
Kemudian Maria Novita menjelaskan tentang Gerakan HPS sebagai salah satu pilar gerakan PSE selain Gerakan APP dan LKM.
Ibu Novita, menekankan untuk membiasakan mengonsumsi pangan lokal yang menjadi gerakan HPS. Pangan lokal, katanya, makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat setempat, seperti singkong, ubi jalar, sagu, sorgum, jail, dll.

Materi lain dalam pertemuan dua hari ini adalah Gerakan APP yang Solid dan Solider-Dimensi Spiritualitas dan Pendalaman Bahan APP 2026 yang diberikan langsung oleh Ketua PSE RD. Evensius Dewantoro.

Lalu ada penjelasan tentang peran dan tugas Komisi/Seksi PSE oleh Kustati Tukan, selaku Sekretaris PSE Keuskupan Denpasar. Kustati menjelaskan tugas Komisi/Seksi PSE antara lain gerakan tiga pilar PSE (APP, HPS dan LKM). Tugas berikutnya adalah merespons kebencanaan dan merawat bumi (lingkungan hidup).

Ditambah dengan gerakan Dana Solidaritas Pendidikan (Dasopen) yang menjadi kekhasan Keuskupan Denpasar. Dasopen hanya ditujukan untuk anak-anak Katolik kurang mampu yang bersekolah di Sekolah Katolik dan ini sesuai dengan amanat Sinode III Keuskupan Denpasar.

Di bagian akhir peserta juga dibekali dengan teknik penulisan proposal untuk pemberdayaan ekonomi umat yang dipandu oleh Tim PSE lainnya Handoko. *
Hironimus Adil


