Misa Inkulturasi Minahasa di Paroki Santo Petrus Denpasar, Dipimpin Uskup Labuan Bajo
*Baku-baku Bae, Baku-baku Sayang, Torang Samua Basudara

DENPASAR – Perayaan Ekaristi, Minggu, 12 Oktober 2025, yang merupakan minggu biasa ke 28, menjadi perayaan yang istimewa bagi Umat Paroki Santo Petrus Denpasar.
Selain dilayani oleh Komunitas Kawanua Katolik Bali dalam Perayaan Inkuliturasi Etnis Minahasa Sulawesi Utara, perayaan ini juga dipimpin oleh Mgr. Maksimus Regus, Uskup Labuan Bajo.
Bapak Uskup didampingi imam konselebran Pastor Paroki dan Pastor Rekan Paroki St. Petrus RD. Yohanes Martanto dan RD. Yustinus Kurniawan Karwayu.
Para penari dengan busana daerah khas Minahasa, menarikan Tarian Maengkat didampingi dengan Kabasaran (baju daerah yang berbulu merah) menyambut perarakan Bapak Uskup, Imam Konselebran dan para Petugas Liturgi menuju Altar Suci untuk memulai perayaan.

Tarian Maengket biasa ditarikan untuk menyambut Perayaan Adat besar dan menyambut hasil panen yang berlimpah. Koor yang mengiringi perayaan dengan semangat dan antusias memuji dan memuliakan Tuhan dengan iringan alat musik khas Minahasa (Kolintang, Tambor) dan Orgen.
Dalam Homilinya, Bapak Uskup Maks, panggilan akrab Beliau, mengatakan “Bahwa hampir sebagian besar umat yang datang minta berkat dan minta disembuhkan. Kesembuhan itu adalah salah satu kerinduan terbesar kita bahkan orang yang tidak sakit fisik namun sakit rohani, mereka merasa perlu disembuhkan oleh Tuhan. Kadang-kadang menjadi nilai tertinggi yang dikejar. Bagi kita kesembuhan memang dirindukan tetapi bukan titik final dalam perjalanan kita sebagai orang beriman.”
Mgr. Maks juga mengajak umat untuk merenungkan lebih dalam. “Kadang-kadang kita seperti Naaman berpikir bahwa kesembuhan yang kita rindukan harus dikerjalan oleh Tuhan dengan cara spektakuler. Saat ini kita minta, Tuhan harus berikan pada saat ini sehingga kita bisa propagandakan. Bukan Tuhan yang dimuliakan tetapi kesembuhan itu yang dibesar-besarkan.”
Lebih lanjut dikatakan, ternyata Naaman disembuhkan dengan cara yang sederhana saja, bukan cara yang spektakuler yang dipikirkan Naaman. “Elisa membalikkan cara berpikir Naaman. Ia hanya mengatakan, kamu pergi saja mandi di Sungai Yordan, selesai, sembuh,” urainya.
Dalam bacaan Injil, demikian lanjut Mgr. Maks, menceritakan tentang kesembuhan 10 orang kusta. Mereka semua percaya akan disembuhkan. Tetapi hanya 1 orang saja yang pulang untuk bersyukur, untuk memuji Tuhan.
“Saya kira ini adalah persoalan mentalitas dalam kehidupan beragama kita. Setelah Tuhan mengerjakan sesuatu yang baik kepada kita, kita menunda untuk datang bersyukur. Pada keperluan yang lain lagi, kita minta, diberi lagi dan lupa lagi,” tegasnya.
Bapak Uskup juga meneruskan, “Manusia itu bisa tidak setia tapi Yesus tidak bisa menyangkal diriNya bahwa diriNya ialah sebuah kesetiaan. Ini adalah ajakan bagi kita, diberkati itu penting. Merasa diberkati, dikasih oleh Tuhan adalah perasaan yang luar biasa,” lanjutnya.
“Kesembuhan memang menjadi pengalaman individual dari orang itu. Tetapi ketika ia menjadi berkat, pengalaman itu sifatnya menjadi sosial. Karena ia bisa bersaksi tentang kesembuhannya, tentang hidupnya yang diberkati Tuhan dan ia menjadi berkat bagi orang lain, bagi sesama. Karena itu penting bagi kita, untuk selalu memohon kesembuhan dari Tuhan, mohon agar kita diberkti tetapi yang lebih penting lagi adalah buah dari kesembuhan itu,” imbuhnya.
Lebih jauh dikatakan, sembilan orang yang disembuhkan itu, hanya mengalami kesembuhan fisik, jasmani, tetapi 1 orang yang datang kembali kepada Yesus, ia mengalami kesembuhan rohani, kesembuhan spiritual.
“Ketika kesembuhan spiritual itu terjadi dalam diri kita, maka kita akan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita, bagi sesama, keluarga, Gereja dan kehidupan di sekitar kita,” pungkas Bapak Uskup
Pastor Paroki St. Petrus RD. Yohanes Martanto dalam sapaan kasihnya sebelum misa berakhir menyampaikan ucapan terima kasih pada kelompok kategorial Minahasa yang menanggung salah tugas Liturgi dan telah mempersembahkan koor dengan indah dan diiringi oleh musik khas kolintang yang menjadi kekhasan dari keluarga Minahasa Bali.

“Anggotanya saya tahu berasal dari beberapa Paroki. Terima kasih telah menyemangati umat Paroki Santo Petrus Denpasar yang lingkungan-lingkungannya baru saja dimekarkan dari 8 menjadi 15. Semoga Lingkungan-lingkungan di paroki tersemangati oleh semangat pelayanan dari keluarga besar Minahasa di Denpasar,” katanya.
Bapak Uskup Maks menceritakan bahwa dirinya teman satu angkatan dengan Rm. Martanto yang ditahbiskan di tahun yang sama, 2001.
Kemudian Bapak Uskup menceritakan tahbisan sebagai Uskup Labuan Bajo dan situasi keuskupan baru itu.
“Saya ditahbiskan menjadi Uskup Labuan Bajo sejak 1 November 2024 dengan umat sebanyak 232.000 jiwa dan 26 Paroki yang masih berkembang dan bertumbuh, serta merupakan pemekaran dari Keuskupan Ruteng,” ungkapnya.

Menurut Mgr. Maks, sSebagai Keuskupan termuda tentu ada banyak hal yang dikerjakan, memiliki berbagai macam tantangan tapi juga ada harapan di sana. Bapak Uskup juga mengajak untuk saling mendoakan sambil menguatkan supaya bisa bertumbuh sebagai komunitas-komunitas iman umat beriman yang semakin tangguh, berakar dan semakin dewasa. “Terima kasih untuk kebersamaan rohani dan spiritual pada Perayaan Ekaristi hari ini,” ucapnya.
Setelah perayaan, dilanjutkan ramah tamah di Aula Paroki Santo Petrus Denpasar yang dihadiri oleh perwakilan Umat dari DPP, DKP dan Umat Etnis Minahasa Sulawesi Utara.
“Seperti bacaan Liturgi pada hari ini, Orang Kusta disembuhkan, Namaan disembuhkan, setelah kesembahan itu, kita diajak menjadi pewarta kabar Sukacita. Keluarga Minahasa telah mewartakan Tuhan dengan begitu indah yang menjadi kesaksian untuk umat Paroki Santo Petrus.

Semoga keluarga besar Minahasa, Kawanua Katolik di Bali senantiasa dilimpahi Tuhan dengan Rahmat dan berkat kesehatan, kedamaian, persaudaraan, kesatuan” pesan Rm Martanto dalam ramah tamah.
Bapak Uskup Maks, juga mengucapkan terima kasih karena diperkenankan berbagi Rahmat dan kegembiraan Rohani bersama Rm Tanto dan segenap umat. Bapak Uskup juga menceritakan ke Bali dalam rangka retreat bersama para Imam Projo Keuskupan Labuanbajo di Catholic Centre Denpasar.
Bapak Jimmi Piri sebagai Ketua Kawanua Katolik di Bali menyampaikan rasa senangnya atas pelayanan hari ini yang dipimpin oleh Bapak Uskup Maksimus Regus dan didampingi para Romo di Paroki Santo Petrus Denpasar. Pelayanan ini, katanya, pelayana kedua di Gereja St. Petrus. Sebelumnya pernah melayani di tahun 2017.
Komunitas Kawanua Katolik di Bali lahir tahun 2016, dikukuhkan oleh RD. Herman Yoseph Babey di Susteran JMJ. Visi dan Misi adalah melayani dan ingin merangkul kembali basudara yang merantau di Bali dari Sulawesi Utara yang banyak belum tahu bergereja agar lebih dekat dengan Gereja.
Selain di St. Petrus, komunitas ini juga melakukan pelayanan di beberapa Paroki seperti St Silvester Pecatu, St Maria Ratu Rosari Gianyar, Katedral Roh Kudus Denpasar, dan Yesus Gembala Yang Baik.
“Semoga tahun depan dapat melayani di Keuskupan Labun Bajo memenuhi undangan dari Bapak Uskup Maks,” harapnya.

Ramah Tamah diakhiri dengan menikmati santap siang bersama dengan sistem Mapalus, dimana para anggota, membagikan rejeki yang dimiliki dalam rupa santapan jasmani yang bisa dinikmati bersama untuk mempererat rasa persaudaraan, keakraban serta tetap menjalin kebersamaan seperti mottonya, “Baku-baku bae, baku-baku sayang, torang samua basudara” yang artinya “Selalu berbuat baik, selalu menyayangi karena kita semua bersaudara”
Penulis: Virly
Editor: Hiro/KomsosKD



