KEHAUSAN AKAN KATEKESE IMAN
‘Catatan tersisa dari Seminar Mempertanggung Jawabkan Iman Katolik, bersama RD. Patris Allegro, di Paroki St. Petrus Negara, 18 Agustus 2025’
Beberapa tahun terakhir kita melihat fenomena yang menarik: kursus iman, seminar liturgi, kelas katekese, bahkan kursus evangelisasi di banyak paroki dan komunitas selalu ramai peminat.
Tidak jarang, peserta yang hadir bukan hanya orang muda yang sedang mencari jati diri, tetapi juga umat yang sudah dewasa, bahkan senior. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Mencari Akar di Dunia yang Cair
Kita hidup dalam dunia yang berubah begitu cepat. Identitas keagamaan tidak lagi menjadi sesuatu yang otomatis diterima begitu saja. Di media sosial, umat Katolik dengan mudah bersentuhan dengan pandangan dari agama lain, bahkan dengan gerakan ateisme, spiritualitas populer, atau sekadar gaya hidup sekuler yang tidak peduli lagi pada hal-hal rohani.
Dalam situasi ini, banyak umat merasa perlu kembali ke akar. Mereka bertanya: Apa sebenarnya yang membedakan saya sebagai orang Katolik? Bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan sahabat saya yang berbeda iman? Bagaimana saya harus menanggapi isu-isu baru yang tidak pernah saya temui waktu kecil dulu?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mendorong umat untuk belajar kembali iman mereka dengan serius. Iman tidak bisa lagi hanya diwarisi, tetapi perlu dimengerti dan dihayati dengan sadar.
“Hendaklah kamu selalu siap sedia untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentangpengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan 4 hormat.” — 1 Petrus 3:15.
Peran Media Sosial dan Algoritme
Media sosial juga memainkan peran besar. “Diktator Algoritme” yang sering disebut Paus Fransiskus membuat kita semakin terhanyut pada konten-konten tertentu. Di satu sisi, umat Katolik semakin sering menemukan konten iman Katolik di media digital—baik yangmendalam maupun yang sangat sederhana.
Di sisi lain, umat juga terpapar pada debat antaragama, serangan terhadap ajaran Gereja, atau pandangan-pandangan yang cenderung merelatifkan segala hal. Dalam situasi ini, muncul rasa waspada: jangan-jangan kalau saya tidak belajar iman saya sendiri, saya bisa hanyut dalam arus relativisme. Maka, belajar kembali iman menjadi semacam bentuk pertahanan diri sekaligus penguatan identitas.
Paus Fransiskus dalam Christus Vivit (2019) menulis: “Janganlah kita biarkan diri kita dikuasai oleh logika algoritme. Marilah kita membawa ke dunia digital cahaya Injil yang mampu membebaskan kita dari penjara individualisme dan polarisasi.”
Diktator Relativisme
Paus Benediktus XVI pernah mengingatkan bahaya “diktator relativisme.” Dalam homili menjelang Konklaf 2005, ia mengatakan: “Relativisme—yakni doktrin bahwa tidak ada kebenaran yang pasti—menjadi satu-satunya ukuran. Kita dibawa ke sana kemari oleh setiap angin ajaran. Betapa banyak orang yang tampak memiliki iman, tetapi pada kenyataannya mengikuti arus mode zaman.”
Kata-kata ini tetap relevan hari ini. Dunia modern cenderung mengatakan semua agama sama saja, semua pendapat sama benarnya. Umat Katolik justru semakin ingin meneguhkan bahwa iman Katolik memiliki dasar yang kokoh dan khas.
Ilustrasi Nyata dari Umat
Ibu Maria, seorang guru paruh baya dari sebuah paroki, pernah bercerita setelah mengikuti kursus Kitab Suci di parokinya. Awalnya ia hanya ikut karena diajak temannya. Tetapi lama- kelamaan ia merasa matanya terbuka.
Ia bersaksi, “Saya sering mendengar orang berkata bahwa Kitab Suci penuh kontradiksi. Setelah belajar bersama, saya sadar bahwa ada kekayaan luar biasa dalam Alkitab yang tak mungkin habis dipelajari seumur hidup. Sekarang, kalau ada murid atau tetangga bertanya, saya tidak sekadar menjawab ‘memang begitu,’ tetapi bisa menjelaskan dengan lebih tenang dan sederhana. Rasanya iman saya jadi lebih kokoh, tapi sekaligus lebih ramah.”
Cerita serupa datang dari Anton, seorang mahasiswa. Ia mengaku sering terlibat perdebatan di media sosial dengan teman-temannya yang Protestan atau bahkan ateis. Anton kemudian mengikuti kursus apologetika dasar di parokinya.
“Dulu saya sering marah kalau agama saya diserang. Sekarang saya belajar bahwa membela iman bukan berarti membentak atau menyerang balik. Justru dengan sikap sabar dan penjelasan yang masuk akal, saya bisa menunjukkan keindahan iman Katolik. Anehnya, sejak saya lebih kalem, justru teman-teman makin terbuka berdialog,” kata Anton sambil tersenyum.
Kisah-kisah seperti ini menggambarkan kerinduan umat untuk tidak hanya tahu “apa yang diajarkan Gereja,” tetapi juga bagaimana menghayatinya dan membagikannya di tengah kehidupan nyata.
Tantangan dan Kesempatan
Fenomena ini jelas membawa harapan besar. Gereja dipanggil untuk menjawab haus rohani umat dengan menyediakan ruang belajar iman yang sehat, mendalam, dan terbuka.
Kursus dan seminar bukan hanya tempat menumpuk informasi, tetapi ruang di mana umat boleh bertanya, berdiskusi, bahkan bergumul bersama. Namun, kita juga harus waspada. Kecenderungan untuk menegaskan identitas bisa berubah menjadi sikap eksklusif atau bahkan fanatisme sempit jika tidak disertai dengan semangat dialog dan kasih.

Pengetahuan iman harus selalu dipadukan dengan penghayatan rohani dan kesaksian hidup sehari-hari. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium (2013) mengingatkan: “Apa yang dunia butuhkan adalah Injil yang diwartakan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan hidup yang memancarkan sukacita.”
Kesimpulan: Dari Pengetahuan Menuju Kesaksian
Kecenderungan umat Katolik masa kini untuk kembali belajar iman menunjukkan bahwa Roh Kudus sedang bekerja, membangkitkan kerinduan baru akan akar yang kokoh di tengah dunia yang cair.
Tantangan kita sebagai Gereja adalah mengarahkan kerinduan ini bukan hanya pada pengetahuan intelektual, tetapi pada kesaksian hidup yang nyata. Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya, apakah kita bisa menjelaskan iman kita dengan baik, tetapi juga apakah kita sungguh menghidupinya dengan kasih.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” — Matius 5:16
Negara, 20 Agustus 2025
Editor: Hiro/KomsosKD



