LINTAS PAROKILINTAS PERISTIWA

Pelatihan Membuat Renungan, Menarik Banyak Peminat

DENPASAR – Seksi Kitab Suci Paroki Roh Kudus Katedral, bekerjasama dengan Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar, menggelar Pelatihan Membuat Renungan. Hanya sekitar satu minggu persiapan, kegiatan ini ternyata menarik banyak peminat.

Aula Keuskupan Denpasar, tempat pelatihan ini dilaksanakan pada Sabtu (12/7), dipadati peserta yang berjumlah sekitar 145. Selain peserta utusan dari 29 Lingkungan yang ada di Paroki Katedral, juga ada beberapa peserta utusan paroki-paroki sekitar.

Pakar sekaligus Dosen Kitab Suci dari Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (Seminar Tinggi) Ledalero, P. Ito Dhogo,SVD menjadi narasumber pelatihan ini. Pater Ito, demikian biasa disapa, dalam kesempatan ini melatih peserta dengan ‘Teknik Membuat Renungan Sederhana.

Pater Ito Dhogo, SVD, Narasumber Pelatihan

Pater Ito, di awal pemaparannya mengajak peserta untuk memahami arti dari renungan. Renungan adalah hasil dari merenung, yaitu memikirkan sesuatu secara mendalam dan tenang (lalu menyimpan dalam hati).

Renungan, katanya, bisa berupa buah pikiran, refleksi atau catatan yang dihasilkan dari proses pemikiran yang mendalam tentang sustu hal. Pater Ito menegaskan, untuk membuat renungan yang baik harus membaca Kitab Suci.

“Tanpa membaca Kitab Suci, tidak mungkin kita bisa membuat renungan dengan baik. Jadi membaca itu sangat penting,” tegasnya.

Ada 6 tujuan renungan menurut Pater Ito, terdiri dari (1) Mengisahkan atau menjelaskan tentang suatu perikop; (2) Memberi peringatan, nasehat, teguran (hal-hal negatif). Tapi hati-hati tidak boleh menghakimi orang; (3) Menyemangati, memberi ketenangan dan menguatkan (hal-hal positif); (4) Memberikan orientasi dan jalan keluar (untuk persoalan hidup); (5) Melontarkan gagasan baru (untuk orientasi hidup); (6) Memberi inspirasi, motivasi, dan dorongan untuk praktek hidup yang nyata.

Kerangka Sederhana

Selanjutnya, Pater Ito, menjelaskan hal praktis mengenai kerangka sederhana dasar renungan. Dalam membuat renungan sederhana, jelasnya, bisa dibuat dengan dua pendekatan. Pendekatan pertama dimulai dengan Teks (Kitab Suci) – Konteks – Aplikasi. Pendekatan kedua, bisa dimulai dari Konteks – Teks – Aplikasi.

Untuk pendekatan pertama: Teks – Konteks – Aplikasi. Pendekatan ini dari Kitab Suci menuju pengalaman hidup.

“Perhatikan teks Kitab Suci bicara apa, lalu lihat konteks kehidupan (pengalaman hidup) kita, lalu ada ajakan berbuat sesuatu sesuai pesan teks. Tanpa tiga hal ini, renungan tidak sempurna.

Pendekatan kedua: Konteks – Teks – Aplikasi. Pendekatan kedua dari pengalaman hidup menuju Kitab Suci. “Dalam membuat renungan, dimulai dari melihat konteks pengalaman hidup kita, lalu teks bicara tentang apa dan kemudian aksi yang mau dilakukan.

Lebih lanjut dijelaskan, jika pendekatan pertama yang dipakai (Teks – Konteks – Aplikasi), perlu diperhatikan pada bagian TEKS, dalami teks dan temukan NILAI apa yang dibawa oleh teks tersebut. Sebaiknya satu Nilai saja.

Lalu pada bagian KONTEKS, perlu perhatikan bagaimana NILAI ini telah dihayati dalam hidup. Pada bagian APLIKASI, apa tindakan atau aksi lanjut dari pesan teks ini. Ajakan dibuat dengan cara persuasif, misalnya dengan ungkapan kita diajak atau kita hendaknya……. (bukan Harus, Mesti).

“Setiap bagian dapat dikembangkan dengan cara temukan hal pokok, penjelasan, kesimpulan,” urainya.

Kemudian, kalau pendekatan kedua yang dipakai (Konteks – Teks – Aplikasi), maka pada KONTEKS, kira-kira soal atau hal apa yang hendak kita bicarakan. Satu tema saja. Pada bagian TEKS, kira-kira teks mana yang cocok dengan soal atau tema yang sedang diangkat tersebut.

Pada bagian APLIKASI, apa tindakan atau aksi lanjut dari pesan teks ini. Ajakan dibuat dengan cara persuasif, sama seperti pendekatan pertama. Lalu, setiap bagian juga dapat dikembangkan dengan cara temukan hal pokok, penjelasan, kesimpulan.

Pada kesempatan itu, Pater Ito, juga menerangkan bagaimana menemukan pesan teks. Pakar Kitab Suci ini menyarankan untuk bacalah teks berulang kali. “Bantuan yang baik adalah baca dengan mengimajinasikan atau membayangkan kejadian yang digambarkan teks tersebut,” katanya, sambil menjelaskan lebih lanjut hal yang terkait dengan pesan teks.

Pater Ito mengingatkan juga, dalam membuat renungan perlu memperhatikan hal-hal khusus seperti Tokoh-Pelaku, Waktu, Tempat, Dialog dan Kata-kata tertentu.

Selain hal-hal khusus itu, perlu diperhatikan juga supaya konsentrasikan pada teks yang sedang digeluti atau dibaca. Baca berulang-ulang adalah cara mengenal teks. Dapat pula mencari refrensi dari buku-buku lain, tetapi mesti membaca dan mengenal teks Kitab Suci terlebih dahulu, atau bisa juga dengan sharing bersama-sama.

Pater Ito dan Ibu Hotma Naibaho (Ketua Seksi Kitab Suci Paroki Katedral)

Kegiatan dibuka dengan sapaan kasih dari Ketua Sekis Kitab Suci Paroki Roh Kudus Katedral Ibu Hotma Naibaho. Menurutnya, kegiatan ini mendadak dilaksanakan dengan memanfaakan kehadiran para Pakar Kitab Suci yang sedang berkumpul di Denpasar untuk mengikuti Pernas Lembaga Biblika Indonesia (LBI) KWI. Salah satu pakar itu adalah Pater Ito Dhogo, SVD.

Kegiatan ini masih berlanjut di hari kedua, Minggu (13/7), dengan konstrasi pada praktek membuat renungan sederhana. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button