Sambut HUT Perdana, Paroki YGYB Hadirkan Hymne dan Mars Perkuat Identitas Gereja Bali

DENPASAR – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) pertama Paroki Yesus Gembala Yang Baik (YGYB), Denpasar, semangat kebersamaan umat semakin diperkuat melalui Workshop Paduan Suara Gerejani yang digelar di Aula Gereja YGYB, Minggu (12/7/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan sekaligus mengimplementasikan Hymne dan Mars Paroki YGYB sebagai identitas musikal yang mencerminkan visi, misi, dan semangat menggereja di lingkungan Komunitas Basis Gerejawi (KBG).
Workshop menghadirkan komposer Gregorius Septo Mulyadi Tagur sebagai narasumber. Gregorius Septo Mulyadi Tagur yang akrab disapa Eto mengungkapkan, bahwa proses penciptaan musik kedua lagu tersebut merupakan pengalaman iman yang sangat berkesan. Menurutnya, lirik yang ditulis Agustinus G. Thuru sangat membantunya dalam menerjemahkan pesan-pesan pastoral ke dalam bentuk musikal.
“Liriknya sangat representatif. Saya melihat lirik itu benar-benar menggambarkan kehidupan Gereja di Bali, sehingga memudahkan saya menuangkannya menjadi sebuah karya musik,” ujarnya.
Ia mengaku menerima tugas tersebut dengan keyakinan bahwa Tuhan akan membimbing setiap proses kreatif yang dijalaninya. “Saya menyanggupi tugas ini karena saya yakin Tuhan membantu saya. Dalam menciptakan musik gereja, bukan hanya soal melodi yang indah, tetapi bagaimana melodi mampu menghidupkan makna setiap teks yang dinyanyikan,” katanya.

Eto yang sedang menempuh pendidikan Magister Musik di Amerika ini menjelaskan, bahwa karakter Mars dan Hymne memiliki pendekatan musikal yang berbeda. Lagu Mars dirancang dengan nuansa yang penuh semangat, persuasif, dan mampu membangkitkan motivasi umat. “Kalau mars sifatnya mengajak, memotivasi, sehingga aransemennya dibuat lebih bersemangat,” jelasnya.
Sementara itu, Hymne dirancang dengan sentuhan musikal yang mengangkat kekayaan budaya Bali. “Saya berpikir bagaimana menghadirkan melodi dengan alunan khas Bali, sehingga orang yang mendengarnya langsung merasakan bahwa ini adalah gereja yang tumbuh dan berdiri di tanah Bali,” tambahnya.
Proses penciptaan musik tersebut dimulai sejak April 2026 dan membutuhkan waktu sekitar satu bulan hingga mencapai bentuk akhir. Menurut Eto, dalam dunia komposisi, melodi harus mampu berbicara dan menggambarkan isi teks yang dinyanyikan.

“Musik harus memperjelas pesan yang ingin disampaikan. Harapannya, melalui lagu ini umat semakin mencintai Gereja dan semakin dekat dengan Tuhan Yesus,” ujarnya. Ia berharap workshop tersebut menjadi sarana memperkenalkan lagu secara lebih mendalam sehingga implementasinya di tengah umat menjadi lebih mudah.
“Kalau umat mengenal lagunya dengan baik, akan lebih mudah menyanyikannya bersama. Ini menjadi sangat spesial karena Paroki Yesus Gembala Yang Baik adalah paroki yang masih sangat muda,” katanya.
Sementara itu, penulis lirik Hymne dan Mars Paroki YGYB, Agustinus G. Thuru, menegaskan bahwa karya tersebut lahir melalui proses kolaborasi, bukan hasil kerja satu orang semata. “Karya ini bukan hanya karya saya. Saya hanya meramu dan merangkai berbagai gagasan yang sudah dipersiapkan menjadi sebuah lirik yang utuh,” tuturnya.
Ia mengungkapkan bahwa secara teknis dirinya dapat menulis puisi dalam waktu singkat. Namun untuk menghasilkan lirik Hymne dan Mars Paroki YGYB, dibutuhkan proses sekitar satu bulan karena setiap kata harus benar-benar mencerminkan visi dan misi paroki. “Setiap kata dipilih dengan hati-hati agar mampu menggambarkan jati diri Paroki Yesus Gembala Yang Baik. Ini adalah Mars dan Hymne pertama yang saya buat,” ungkapnya.
Agustinus mengaku sempat merasa tidak mampu menyelesaikan tugas tersebut. Namun ia meyakini karya tersebut merupakan buah penyelenggaraan Tuhan. “Saya merasa tidak mampu membuat lagu ini. Karena itu saya sependapat dengan Romo Yan yang mengatakan bahwa karya ini adalah karya Roh Kudus. Dengan segala keterbatasan yang ada, akhirnya lahirlah Hymne dan Mars yang luar biasa ini,” katanya.
Pastor Paroki Yesus Gembala Yang Baik, RP. Yohanes I Nyoman Madia Adnyana, SVD atau yang akrab disapa Romo Yan Madia, menjelaskan bahwa Paroki YGYB merupakan paroki termuda di Keuskupan Denpasar yang resmi berdiri pada 8 September 2025.

“Sejak kita menggereja dalam Komunitas Basis Gerejawi (KBG), kita menyaksikan dinamika kehidupan menggereja yang semakin hidup dan penuh semangat. Hal ini menjadi sukacita bersama, karena umat tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menjadi pelaku Sinode yang aktif melalui kehidupan KBG,” jelas Romo Yan.
Memasuki usia satu tahun, lanjut Romo Yan, semangat kebersamaan tersebut perlu diperkuat dengan simbol yang mampu menyatukan seluruh umat. “Dari situlah muncul gagasan untuk memiliki Mars dan Hymne Paroki. Lagu ini dibuat untuk menyebarluaskan visi dan misi paroki agar sungguh-sungguh hidup dalam hati setiap umat,” katanya.
Untuk menghidupkan lagu tersebut di tengah umat, panitia HUT Paroki juga mengadakan lomba paduan suara antar-KBG. “Saya berharap lomba ini tidak dipandang sebagai beban, tetapi menjadi sukacita bersama. Dengan menyanyikan Hymne dan Mars Paroki ini, akan tumbuh rasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar Paroki Yesus Gembala Yang Baik,” ungkapnya.
Romo Yan menjelaskan bahwa pada awalnya panitia sempat berencana mengadakan sayembara penulisan Mars dan Hymne. Namun setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya penulisan lirik dipercayakan kepada Agustinus G. Thuru, sedangkan komposisi musik digarap Gregorius Septo Mulyadi Tagur.

“Semua ini terjadi karena penyelenggaraan Roh Kudus. Bahkan untuk menyempurnakan aransemen dan notasi yang bernuansa budaya Bali, kami juga mendapat dukungan dari beberapa rekan. Karena itu kami sungguh bersyukur atas lahirnya karya ini,” pungkas Romo Yan.
Melalui Hymne dan Mars yang baru, Paroki Yesus Gembala Yang Baik berharap setiap umat semakin menghayati identitas paroki, memahami visi dan misinya, serta semakin bersemangat menghadirkan Gereja yang hidup, bertumbuh, dan berakar pada iman Katolik sekaligus menghargai kekayaan budaya Bali. **
Karolina Ida – Komsos Paroki YGYB
Editor: Hiro/KomsosKD



