Syukuran Panen Paroki Maria Ratu Gumbrih

Gumbrih – Suasana khidmat dan penuh kegembiraan menyelimuti Paroki Santa Maria Ratu Gumbrih pada Minggu Biasa ke-XIII, 28 Juni 2026. Umat paroki berkumpul dalam satu semangat merayakan hari Syukur Panen, sebuah tradisi yang menjadi wujud nyata penghormatan kepada Sang Pencipta atas kelimpahan hasil bumi yang dianugerahkan kepada umat.
Sukacita Syukur Panen ini adalah wujud membangun iman umat yang Solid dan Solider di paroki yang terletak di Dekenat Bali Barat itu.
Perayaan diawali dengan sebuah momen yang menyentuh hati. Setelah diperciki air suci oleh Pastor Paroki RD. Paulus Seran Nahak, umat berarak-arakan menuju gereja dengan penuh syukur, diwarnai balutan busana adat Bali yang menawan.

Saat arak-arakan ini, di tangan umat terangkatlah hasil sawah dan ladang, mulai dari buah-buahan segar seperti kelapa, kopi, kakao, pisang, hingga beras. Ini sebagai simbol “buah tangan” umat kepada Allah. Prosesi ini menegaskan bahwa setiap butir hasil bumi adalah rahmat kehidupan yang berasal dari kemurahan tangan Tuhan.
Meneguhkan Iman yang Solid dan Solider
Dalam homilinya, Romo Paulus mengajak umat untuk meresapi makna syukur yang lebih dalam. Romo mengingatkan bahwa kesehatan, kerukunan, usaha, hingga rezeki yang cukup adalah berkat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Mengacu pada rangkaian bacaan hari Minggu ini, Romo Paulus menekankan dua pilar penting bagi umat kristiani yaitu Iman yang solid (teguh) dan solider (berbelarasa).
“Melalui sakramen Baptis, kita telah menerima hidup baru dalam Yesus Kristus. Iman yang solid berarti kita percaya sepenuhnya bahwa meskipun kita pendosa, kita tetap dicintai Allah. Iman inilah yang memberi kita kekuatan untuk berdiri teguh di tengah badai kehidupan dan tantangan yang berat,” katanya.
Sementara iman yang solider (berbelarasa), Romo mendasarkan bacaan Injil yang mengajak umat untuk berani memikul salib masing-masing. Namun, memikul salib bukanlah beban sendirian.

“Iman yang solider mendorong kita untuk peduli terhadap penderitaan orang lain. Kita dipanggil untuk menjadi sesama yang mau mengasihi, rendah hati, dan saling mengampuni. Sebagaimana kisah dalam bacaan pertama tentang penerimaan terhadap abdi Allah, kita pun diajak untuk peka dan menyediakan “kamar” di hati kita bagi kebutuhan sesame,” katanya.
Sebagai refleksi, Romo Paulus mengajak umat untuk bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah iman kita cukup solid untuk menghadapi cobaan, dan sudahkah iman kita solider hingga mampu menggerakkan hati untuk mengampuni serta mengasihi sesama?”
Usai perayaan Ekaristi, sukacita berlanjut pada sesi pelelangan Syukur Panen. Hasil bumi yang dibawa oleh umat dikumpulkan dan dilelang sebagai bentuk partisipasi kolektif. Kegiatan ini bukan sekadar transaksi, melainkan wujud nyata solidaritas umat. Seluruh dana yang terkumpul akan dimasukkan ke dalam kas paroki, guna mendukung operasional dan pelayanan bagi seluruh umat.

Makna dari hari Syukur Panen di Paroki Gumbrih, bukan sekadar seremoni agraris, melainkan perayaan iman yang menyatukan seluruh umat untuk kembali memusatkan hidup kepada Allah.
Diharapkan semangat syukur ini terus memupuk iman yang semakin solid dalam prinsip dan semakin solider dalam aksi nyata bagi sesama. *
Penulis: F. Nyoman Melastika
Editor: Hiro/KomsosKD



