REMAJA TETAP MANUSIA DI ERA AI

Jimbaran-Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat menjadi perhatian khusus dalam Kemah SEKAMI Dekenat Bali Tengah.
Masih di Hari kedua (24/6), Materi edukasi bertajuk “Remaja Tetap Manusia di Era AI”, Romo Klementius Ruslin, CDD mengajak para peserta, memahami perkembangan teknologi secara kritis sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Kristiani.
Materi ini bertujuan membekali remaja Katolik agar mampu menggunakan media digital secara bijaksana dan bertanggung jawab, memahami manfaat sekaligus risiko AI, menjaga martabat manusia di tengah kemajuan teknologi, serta menjadi saksi Kristus di dunia digital.
Dengan gaya penyampaian yang energik dan komunikatif, Romo Klemen mengawali materinya dengan menegaskan bahwa dunia digital saat ini merupakan ruang misi yang baru. Menurutnya, media sosial bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga tempat membangun relasi, berbagi nilai-nilai kebaikan, dan mewartakan Injil.
“Remaja dipanggil menjadi garam dan terang dunia, termasuk di ruang digital,” ungkapnya. Karena itu, setiap unggahan, komentar, maupun pesan yang dibagikan hendaknya mencerminkan identitas sebagai murid Kristus.
Mengajak peserta berefleksi, Romo Klemen mengajukan beberapa pertanyaan sederhana namun mendalam. “Apakah akun media sosial kalian membawa orang semakin dekat pada kebaikan? Apakah unggahan kalian membangun sesama atau justru melukai orang lain?”

Pertanyaan tersebut mengundang peserta untuk menilai kembali cara mereka menggunakan media digital dalam kehidupan sehari-hari.
Berbicara mengenai kecerdasan buatan, imam dari Kongregasi CDD itu menegaskan bahwa AI adalah alat yang dapat membantu manusia, bukan pengganti manusia.
Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, mencari informasi, membuat desain, hingga mengembangkan kreativitas. Namun, ia mengingatkan bahwa AI tidak memiliki hati nurani, empati, kasih, maupun kebijaksanaan moral.
“Martabat manusia tetap lebih tinggi daripada teknologi apa pun, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah,” tegasnya. Oleh sebab itu, teknologi harus ditempatkan sebagai sarana yang melayani manusia, bukan sebaliknya membuat manusia kehilangan kebebasan dan jati dirinya.
Mengacu pada Ensiklik Magnifica Humanitas yang dikeluakan oleh Paus Leo XIV baru-baru ini, Romo Klemen mengingatkan bahwa di tengah era Artificial Intelligence, remaja harus tetap menjadi pribadi yang utuh: bijaksana, empatik, dan memiliki karakter yang kuat. Kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

Sebagai bekal praktis dalam bermedia sosial, ia memperkenalkan prinsip THINK sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu di dunia digital. T berarti True (benarkah informasi tersebut?), H berarti Helpful (bermanfaatkah bagi orang lain?), I berarti Inspiring (menginspirasikah?), N berarti Necessary (perlukah dibagikan?), dan K berarti Kind (disampaikan dengan kasihkah?).
Pada bagian akhir sesi, Romo yang berkarya di Yayasan Kolese Santo Yusuf Tegaljaya itu mengajak para peserta menjadi misionaris digital di era AI. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan cara membagikan pesan-pesan inspiratif yang bersumber dari Kitab Suci, menyebarkan semangat persaudaraan, memanfaatkan media sosial untuk pelayanan, serta membangun budaya komunikasi yang sopan, santun, dan penuh kasih.

Melalui materi ini, para peserta diajak menyadari bahwa remaja Katolik tidak dipanggil untuk menjauhi teknologi, melainkan menggunakannya secara bijaksana demi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama.
Kemajuan teknologi yang semakin canggih hendaknya tidak membuat manusia kehilangan hati nurani. Sebaliknya, remaja Katolik dipanggil untuk tetap berakar dalam Kristus, bijak bermedia, kritis terhadap perkembangan AI, dan menjadi terang bagi dunia digital sebagaimana diamanatkan Yesus dalam Matius 5:13-16. Christin***



