Empat Materi Edukasi Kemah Remaja Misioner Dekenat Bali Tengah

Jimbaran-Memasuki hari kedua, Rabu (24/6), peserta Kemah SEKAMI Dekenat Bali Tengah yang berlangsung di SDK Soverdi Jimbaran Bali, mendapatkan empat materi edukatif yang menarik dan memperkaya wawasan iman mereka. Materi-materi tersebut dibawakan langsung oleh para imam yang melayani dan berdomisili di wilayah Dekenat Bali Tengah.
Demi mendukung efektivitas pembelajaran, para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok yang menempati ruangan berbeda. Sementara itu, para narasumber bergiliran berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya sehingga setiap peserta berkesempatan mengikuti seluruh sesi yang telah disiapkan.
Dengan metode penyampaian yang interaktif dan komunikatif, para imam berhasil mengajak anak-anak terlibat aktif dalam setiap pembahasan. Suasana belajar pun berlangsung penuh sukacita dan antusiasme peserta. Di sela-sela materi, kakak-kakak pendamping turut menghadirkan berbagai animasi dan permainan ringan yang semakin menyemarakkan suasana serta membantu peserta tetap fokus dan bersemangat.

Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga semakin diteguhkan dalam semangat misioner, persaudaraan, dan kecintaan mereka kepada Gereja.
Materi dari empat Narasumber kami sajikan dalam berita terpisah. Berikut adalah materi Edukasi yang dibawakan oleh Romo Agustinus Maximus Soge.
RD. Maximus Agustinus Soge: Kitab Suci Adalah Surat Cinta Dari Tuhan
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta Kemah SEKAMI Dekenat Bali Tengah pada hari kedua adalah materi bertajuk “Remaja Misioner Akrab dengan Kitab Suci” yang dibawakan oleh Romo Maximus Agustinus Soge, Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar.
Dalam pemaparannya, imam yang akrab disapa Romo Maxi itu mengajak para peserta jujur merefleksikan relasi mereka dengan Kitab Suci. Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi remaja saat ini adalah semakin menjauhnya mereka dari Sabda Tuhan.
Banyak remaja memiliki Kitab Suci, namun jarang membacanya. Sebaliknya, sebagian besar waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk media sosial, permainan digital, dan berbagai bentuk hiburan lainnya.
Suasana menjadi hening ketika diajukan pertanyaan sederhana kepada para peserta, “Kapan terakhir kali kalian membaca Kitab Suci?” Beberapa jawaban yang muncul cukup mengejutkan. Ada peserta yang mengaku terakhir membaca Kitab Suci sekitar tiga tahun lalu.
Ketika ditanya berapa lama waktu yang dihabiskan setiap hari untuk media sosial, sebagian peserta menjawab antara tiga hingga lima jam. Fakta ini menunjukkan betapa besar tantangan yang dihadapi remaja dalam membangun kebiasaan berjumpa dengan Sabda Tuhan.
Melalui refleksi tersebut, Romo yang kesehariannya berkarya di Seminari Menengah Roh Kudus Tuka itu menegaskan bahwa menjauh dari Kitab Suci bukan sekadar kehilangan kebiasaan membaca. Lebih dari itu, seseorang dapat kehilangan arah dan bimbingan Tuhan dalam hidupnya. Ia juga berisiko kehilangan penghiburan saat menghadapi kesulitan, kekuatan untuk bertahan dalam pencobaan, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Karena itu, para peserta diajak untuk menjadikan Kitab Suci sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Mengutip sabda Yesus dalam Matius 4:4, Romo Maxi mengingatkan bahwa, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Menurutnya, melalui Kitab Suci, remaja dapat menemukan identitas dirinya, mengenal Yesus secara lebih pribadi, memperoleh kekuatan menghadapi kecemasan dan ketidakpastian masa depan, serta memiliki pegangan hidup yang kokoh.
Mengakhiri sesinya, Romo yang kesehariannya berkarya di Seminari itu memberikan pesan mendalam kepada seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa Kitab Suci bukanlah sekadar kumpulan aturan, melainkan surat cinta Allah kepada manusia. Sabda Tuhan tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungkan dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Remaja yang akrab dengan Kitab Suci akan semakin mengenal Kristus, bertumbuh dalam iman, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan bijaksana.
Sebagai penutup, ia mengajak peserta untuk menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidup dengan mengingat kata-kata Pemazmur: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105). Pesan tersebut menjadi undangan bagi setiap peserta untuk kembali menyalakan semangat mencintai Sabda Tuhan dan menjadikannya sahabat dalam perjalanan hidup mereka. Christin***



