LINTAS PAROKI

Pemberdayaan Komunitas Basis Gerejawi: Identitas dalam Aksi

Catatan Pinggir Pembekalan KBG di Klungkung

Klungkung-Dihadiri sekitar 83 orang umat beriman dari Paroki Amlapura, Stasi Klungkung dan Paroki Gianyar, Tim Bidang Pembinaan Iman (BPI) Puspas Keuskupan Denpasar, memberikan pembekalan bagi Ketua Lingkungan dan Animator KBG sebagai utusan peserta, Minggu (17/5/2026).

Paroki Santa Maria Ratu Rosari (Sanmari) Gianyar, turun dengan formasi lengkap terdaftar 58 orang, Pastor Paroki DPP ikut serta menjadi peserta. Selebihnya adalah utusan Paroki Amlapura dan tuan rumah Klungkung.

Diksi Pemberdayaan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sudah dipakai KWI sejak SAGKI tahun 2000. Sedangkan Gerakan Gereja Partisipatif sejak KONSILI VATIKAN II, khususnya lewat Evangelii Gaudium dan Gaudete et Exsultate. Intinya, Gereja tidak hanya ada di altar dan mimbar tapi hidup dan bertindak lewat komunitas kecil di akar rumput Gereja dan Masyarakat.

Identitas KBG

KBG merupakan komunitas dasar basis dengan 10 sampai 15 KK, jika berkumpul sekitar 20-30 orang untuk bersekutu dalam doa dan hidup atas dasar Sabda Tuhan serta Ekaristi: Baca Sabda Allah, Mefleksi untuk Kehidupan umat. Selanjutnya, membangun persaudaraan sehingga saling mengenal (solid) dan saling bantu tolong menolong (solider). Tidak berhenti di situ, tetapi harus sampai melakukan aksi misi: peduli lingkungan sekitar baik internal Gereja maupun eksternal Masyarakat.

Dasar teologisnya adalah Lumen Gentium no. 9, 10, 11, 31 dan Christifideles Laici no. 26. Gereja itu ‘Persekutuan umat Allah’ bukan hanya struktur hirarkis. KBG menjadi “Gereja Kecil di tengah rumah Gereja Besar”.

Perlu disadari, bahaya jika komunitas dalam Gereja aktif tapi kehilangan arah. Maka dibutuhkan Identitas dalam Aksi’ artinya setiap kegiatan KBG harus keluar dari siapa kita, identitas dan relevansinya sebagai Gereja, bukan sekadar menjadi anggota tapi tidak ada aksi.

Bagaimana Identitas KBG dalam Aksi? Berikut unsur komponennya: (1) Komunio: Kita Tubuh Kristus. Setiap anggota merupakan bagian penting dari Tubuh Kristus. (2) Sabda Allah bicara lewat membaca Kitab Suci metode sederhana Lectio Divina, sharing hidup berdasarkan Firman Tuhan. (3) Liturgia: Ibadat memuliakan Allah, Doa Rosario, merayakan Ekaristi, Adorasi bersama. (4) Diakonia: Pelayanan KBG, perbuatan kasih dapur umum, beasiswa anak miskin di lingkungan, bank sampah, dll. (5) Martyria: Kesaksian iman, anggota KBG berani bicara tentang kebenaran, menolak korupsi kecil di RT, menjaga dan merawat lingkungan hidup.

Pemberdayaan (Empowering) KBG

Pemberdayaan KBG bukan melakukan instruksi dari Pastor yang memberi program KBG, atas ke bawah atau top-down. Tetapi prosesnya melalui 4 tahap ini:

1. Proses Penyadaran (Konsientisasi). Anggota KBG sadar masalah anggotanya seperti persoalan Iman, Sosial Ekonomi, Lingkungan Hidup dan anggota sadar bahwa mereka punya tanggung jawab untuk itu.
2. Proses Komunio – Partisipatif. Bentuk struktur KBG komunitas dasar basik, kecil. Ada koordinator, sekretaris, bendahara. Semua awam anggota KBG diharuskan aktif berpartisipasi. Jangan terjebak tata kelola administratif dan kaku.
3. Proses Bertindak: Mulai dari hal kecil yang bisa dikerjakan dalam 1 bulan.
4. Proses Merefleksi: Evaluasi memakai kacamata iman. “Apa yang Tuhan ajar kita lewat aksi ini? Apa yang perlu diperbaiki dalam kehidupan Gereja.”

Anggota KBG – kaum Awam yang menjadi subjek, bukan objek pelayanan Gereja. Tantangan yang sering muncul di dalam KBG antara lain:

1. Bahaya Klerikalisme: Semua umat menunggu pastor. KBG harus melatih awam jadi pemimpin leader animator KBG.
2. Kegiatan rutinitas membuat Iman kosong, jika pertemuan cuma baca teks, tidak nyambung ke hidup nyata. Solusinya: pakailah metode See – Judge – Act.
3. Anggota KBG Keletihan: Anggota aktif tapi burn out kelelahan fisik mental rohani. KBG itu persekutuan iman, bukan perkumpulan massa.
4. Jauhi kegiatan berbau sosial politik. Maka peganglah prinsip Gereja sebagai ‘Persona Iuridica Publica’ memiliki otonomi sendiri, tidak partisan, serta berpihak pada orang miskin.

Paus Fransiskus menyebut ini ‘Gereja yang keluar – La Chiesa in uscita.’ Di era individualisme dan digital, orang rindu komunitas nyata yang peduli. KBG yang hidup bisa jadi jawaban, sebagai tempat orang mengalami Allah lewat sesama.

Yohanes 17:21 “Supaya mereka semua menjadi satu… supaya dunia percaya.” Solider hendaknya menjadi kesaksian KBG yang bersatu dan melayani itu jadi bukti Saksi Injil paling kredibel di masyarakat.

Pemberdayaan KBG berarti awam bangkit jadi subjek Gereja, bertindak sesuai identitasnya sebagai tubuh Kristus, mulai dari masalah nyata konteks di lingkungan Paroki. Semoga!

Klungkung 17.05.2026.

RD. DR. D. I Gusti Bagus Kusumawanta

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button