Workshop Komunikasi dan Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia

RABA, BIMA — Dalam rangka memperingati Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Denpasar, mengadakan workshop dengan tema “Menjaga Suara & Wajah Manusia”, (16/05/2026) di aula Paroki St. Yusuf Raba – Bima
Tema tersebut menjadi sebuah refleksi mendalam mengenai pentingnya menjaga identitas, martabat, serta relasi manusia di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat.
Acara diawali dengan sapaan hangat dari Christin (Sekretaris Komisi Komsos Keuskupan Denpasar) yang menyambut seluruh peserta dengan penuh sukacita. Dalam suasana penuh keakraban, sesi pembuka dibalut dengan ice breaking dan permainan ringan guna menciptakan suasana yang hangat sekaligus mempererat relasi antar peserta dari berbagai paroki.

Selanjutnya, peserta menerima sapaan kasih dari RD. Wayan Julianto, Pastor Paroki Bima, yang mengajak seluruh peserta untuk terus hidup dalam persatuan dan menjadi satu dalam Kristus. Dalam pesannya, beliau menekankan pentingnya memancarkan wajah Kristus kepada sesama melalui relasi dan komunikasi yang baik.
Kegiatan workshop juga mendapat perhatian khusus melalui sapaan kasih dari Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Denpasar, RD. Herman Yoseph Babey.
Dalam pemaparannya, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Denpasar ini, menyoroti perubahan pola komunikasi manusia dari relasi langsung menuju relasi digital yang kini menjadi semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Rm. Babey mengatakan, perkembangan teknologi saat ini semakin dipengaruhi oleh kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang membawa berbagai kemudahan, namun juga tantangan tersendiri bagi manusia. Oleh karena itu, peserta diajak untuk tetap kritis, bijaksana, dan mampu menghasilkan karya nyata sebagai bentuk tanggung jawab dalam penggunaan media komunikasi.
Pada sesi pertama yang bertajuk “Jati Diri Unik”, peserta diajak untuk merefleksikan makna wajah dan suara manusia dalam konteks relasi sosial maupun digital.
RD. Herman Yoseph Babey, yang juga sebagai Direktur Puspas itu, menjelaskan bahwa di era media sosial, banyak orang mudah terpengaruh oleh visualisasi yang tampak menarik di layar, sehingga relasi sering dibangun hanya berdasarkan tampilan luar. Akibatnya, tidak sedikit orang mengalami keterkejutan ketika bertemu secara langsung karena realitas yang berbeda dari apa yang ditampilkan di media sosial.

Para peserta, khususnya pasangan suami istri (pasutri), diajak untuk berefleksi melalui pertanyaan: “Apakah kalian menemukan wajah Allah dalam diri pasanganmu?” Dalam refleksi tersebut juga ditegaskan bahwa manusia bukan pribadi yang tersusun dari algoritma, melainkan makhluk dengan panggilan yang unik dan beragam.
Tantangan di Era AI
Workshop ini juga membahas berbagai tantangan yang hadir akibat perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan teknologi digital, di antaranya: Teknologi yang dapat merampas perhatian manusia. Bahaya ketergantungan terhadap algoritma, Fenomena echo chamber, yakni kondisi ketika seseorang hanya terkurung dalam lingkungan persetujuan instan tanpa ruang refleksi kritis. Reduksi kreativitas dan kejeniusan manusia. Risiko membungkam suara serta talenta pribadi.
Para peserta diingatkan untuk tidak berhenti berpikir secara mandiri, melainkan tetap menggunakan akal budi secara bijaksana di tengah derasnya perkembangan teknologi.
Pembuatan Konten Kreatif
Memasuki sesi kedua, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti pelatihan pembuatan konten kreatif, sesuai bidang pelayanan masing-masing, yakni:
Tim KOMSOS, OMK (Orang Muda Katolik), pendamping SEKAMI (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) dan para pasutri.

Melalui sesi ini, peserta diajak menghasilkan karya nyata yang kreatif dan relevan sebagai sarana pewartaan iman di era digital.
Kegiatan Workshop Komunikasi dan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 ini diharapkan menjadi momentum penting bagi umat untuk semakin bijaksana dalam menggunakan teknologi komunikasi, menjaga martabat manusia, serta menghadirkan wajah Kristus di tengah dunia digital yang terus berkembang.
“Jangan berhenti berpikir sendiri” menjadi salah satu pesan penting yang mengajak umat untuk tetap kritis, reflektif, dan manusiawi di tengah kemajuan zaman.

Kegiatan workshop ini juga meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta yang hadir. Salah satunya disampaikan oleh Anna, Pendamping SEKAMI Paroki St. Maria – St. Yoseph Dompu. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat bermanfaat karena memberikan wawasan baru mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dan bijaksana di era digital.
Anna mengungkapkan bahwa materi mengenai Artificial Intelligence (AI) serta refleksi tentang menjaga suara dan wajah manusia menjadi hal yang sangat relevan, khususnya dalam pelayanan kepada anak-anak dan remaja. Ia juga menambahkan bahwa metode penyampaian materi yang komunikatif, interaktif, serta adanya praktik pembuatan konten kreatif membuat peserta lebih mudah memahami materi sekaligus termotivasi untuk berkarya dalam pelayanan digital Gereja.
Penulis: FR. Remon Lewar
Editor: Hiro/KomsosKD



