PUSAT PASTORAL

MANUSIA BUKAN ALGORITMA

Perayaan dan Workshop Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke-60 di Bima

Bima-Di tengah derasnya arus digital yang tak pernah berhenti, ada satu panggilan yang mengingatkan kita bahwa manusia bukan algoritma, manusia punya suara dan wajah.

Pada 16 Mei 2026, Aula Paroki St. Yusuf Bima menjadi saksi sebuah tekad mulia untuk menjaga suara dan wajah manusia. 79 hati berkumpul dari Paroki Bima, Donggo, dan Dompu. Mereka adalah Pastor Paroki bersama Rekan, Dewan Pastoral Paroki BPI, BAK, BPU, Seksi Komsos, Seksi Keluarga, Pendamping SEKAMI, dan OMK menyatu dalam workshop dan perayaan Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-60.

RD Agustinus Wayan Yulianto, Pator Paroki St. Yusuf Bima.

Dalam sambutannya Romo Agustinus Wayan Yulianto, selaku Pastor Paroki St. Yusuf Bima, menyambut gembira perayaan Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 yang dipusatkan di Paroki Bima, untuk tiga Paroki Bima, Dompu dan Donggo.

Ia juga berterima kasih kepada Komsos Keuskupan, sebab dengan cara turba ini bisa menghadirkan banyak peserta dan tiga paroki merasa disapa dan diperhatikan secara khusus. Ia berharap kegiatan ini mampu memberikan pencerahan kepada peserta bagaimana menyikapi dunia digital yang semakin riuh dan menyita perhatian manusia.

Menjaga Suara dan Wajah Manusia

Romo Herman Yoseph Babey, Ketua Komsos Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar selaku narasumber, mengupas tuntas pesan Paus Leo XIV bertajuk” Menjaga Suara dan Wajah Manusia”. Paus Leo mengingatkan bahwa di zaman AI dan media digital, kita dipanggil untuk tidak kehilangan jati diri sebagai manusia. Teknologi berkembang cepat, tapi relasi manusiawi tidak boleh dikorbankan demi kecepatan dan efisiensi.

Romo Babey menegaskan bahwa wajah dan suara merupakan anugerah suci yang membedakan setiap pribadi manusia. wajah dan suara bukan sekadar ciri fisik, tetapi penanda identitas yang unik dan tidak tergantikan. Konsep ini sudah dipahami sejak zaman Yunani kuno melalui kata prósōpon yang berarti wajah, serta bahasa Latin persona dari per-sonare yang merujuk pada suara khas seseorang.

RD. Herman Yoseph Babey, ketua KOMSOS Keuskupan Denpasar saat mengajak peserta merefeksikan pesan Paus.

Lebih lanjut Romo Babay mengatakan bahwa “Wajah dan suara memiliki nilai yang suci. Keduanya adalah anugerah dari Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Ia juga mengingatkan bahwa Allah sendiri menyatakan diri melalui Sabda, yang akhirnya menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.

Dalam pesannya, Paus Leo juga menyoroti tantangan komunikasi di era digital dan kecerdasan buatan. Teknologi memang membuka peluang baru, tetapi tidak boleh menggantikan peran manusia dalam mengarahkan komunikasi publik. Tanpa pertimbangan etis dan empati manusia, komunikasi berisiko menjadi mekanis dan kehilangan makna, tegas Romo Babey.

Paus Leo juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan AI, seperti disinformasi melalui simulasi suara dan wajah. Menurutnya, algoritma tidak bisa menangkap kompleksitas panggilan hidup manusia yang tumbuh dalam relasi dan perjumpaan nyata. “Menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga tanda kasih Allah yang melekat pada diri setiap orang,” tegas Romo Babey.

Para peserta rorkshop “Menjaga suara dan wajah Manusia”.

Mengakhiri materinya Romo Babey, mengajak para pelaku komunikasi, baik para peserta, para jurnalis, kreator konten, maupun pengguna media sosial, untuk hadir secara bertanggung jawab di ruang digital.

Romo Babey menegaskan bahwa peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 ini menjadi ajakan Paus agar teknologi tetap menjadi sarana yang melayani manusia, bukan sebaliknya. Pesan ini ditujukan kepada seluruh umat beriman dan masyarakat umum yang terlibat dalam dunia komunikasi global.

Dari Diskusi Lahir Aksi

Mendalami Pesan Paus Leo, Romo Babey mengajak peserta berdiskusi. Apa untung ruginya AI dan media digital bagi kehidupan orang Katolik? Apa tantangan yang dialami keluarga-keluarga berhadapan dengan tehnologi Digital? Bagaimana Orang Muda Katolik menyikapi derasnya arus tekhnologi Digital? Dan bagaimana para pendamping Sekami mampu menyelamatkan anak-anak dari gempuran arus media Digital?

Dari diskusi, lahirlah aksi. Empat kelompok bergerak membuat konten katekese edukatif: DPP dan Seksi Keluarga bersuara: “Jangan jadikan HP mendominasi kehidupan di tengah keluarga. Biarkan meja makan menjadi altar kecil, di mana keluarga berdoa bersama, makan bersama, tanpa gangguan layar.”

Seksi Komsos mengingatkan: “Jangan mudah percaya berita hasil rekayasa AI. Jadilah pewarta kebenaran, bukan penyebar ilusi.”

Pendamping SEKAMI mengajak anak-anak: “Hiduplah dekat dengan Yesus, bukan dekat dengan HP. Sebab di dalam Dia ada hidup yang kekal.”

OMK menegaskan “Bermedialah dengan bijak. Jangan seluruh waktu dihabiskan dengan berselancar dalam dunia maya. Jadikan medsos sebagai ladang misi, bukan sekedar mencari sensasi.”

Medsos Bukan Sekedar Ruang hiburan Tetapi juga Ladang Pewartaan

Suasana Workshop berlangsung hangat dan antusiasme peserta. Di sinilah Gereja hadir, bukan menolak teknologi, tetapi menjadi sarana mewartakan kasih dan damai. Seperti sabda Tuhan dalam Matius 5:14, “Kamu adalah terang dunia.” Maka biarlah setiap postingan, setiap komentar, setiap konten kita menjadi cahaya kecil yang menerangi dunia digital yang terkadang gelap dan menyesatkan.

Diskusi RD. Babey dengan para peserta.

Mengakhiri rangkaian kegiatan, Romo Babey mengajak peserta untuk menggunakan media sosial bukan untuk menjauh, tetapi untuk mendekat. Bukan untuk memecah, tetapi untuk mempersatukan.

Jadikan AI dan teman-temannya menjadi jembatan pewartaan, mempercepat akses Sabda, membantu katekese kreatif dan memperluas persaudaraan tanpa batas jarak. Namun sebaliknya jika tidak bijak dalam menggunakannya, ia bisa mencuri waktu doa, memecah keutuhan keluarga, menyebarkan hoaks, dan membuat kita lupa bahwa relasi sejati dibangun dengan tatap muka, bukan sekadar notifikasi.

Suasana diskusi kelompok.

Mari, Jadikan medsos bukan sekedar ruang hiburan, melainkan ladang pewartaan Kabar Gembira yang dapat menginspirasi hidup sesama. Sebab dunia haus akan wajah manusiawi dan suara yang penuh harapan. Dan suara itu adalah suara kita. Tegas Romo Babey penuh harapan.

Penulis: Christin-KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button