PEMBEKALAN UNTUK PEMBERDAYAAN KBG YANG SOLID DAN SOLIDER, TIM PUSPAS KEUSKUPAN DENPASAR TURBA KE PULAU LOMBOK

Ampenan-Semangat membangun Komunitas Basis Gerejawi (KBG) yang semakin solid dan solider kembali digaungkan melalui kegiatan Pembekalan untuk Pemberdayaan KBG yang diselenggarakan oleh Tim PUSPAS Keuskupan Denpasar lewat kunjungan pastoral (Turba) ke wilayah Nusa Tenggara Barat, meliputi Pulau Lombok dan Sumbawa.
Untuk wilayah Pulau Lombok, paroki Ampenan dipercaya sebagai tuan rumah dengan lokasi kegiatan dipusatkan di Rumah Retret Aryo Ampenan, yang berlangsung Minggu (10/5).
Rangkaian kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi Hari Minggu Paskah VI yang dilaksanakan di Paroki Santo Antonius Padua Ampenan. Misa kudus dipimpin langsung oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Denpasar, RD Herman Yoseph Babey, yang akrab disapa Romo Babey, sebagai selebran utama. Beliau didampingi oleh Pastor Paroki Pater Iron, SVD. Perayaan Ekaristi berlangsung khidmat dan menjadi fondasi rohani sebelum seluruh peserta memasuki agenda pembekalan.

Usai misa, sekitar pukul 09.00 WITA, umat yang telah diundang sebagai peserta mulai berdatangan ke Aula Rumah Retret Aryo Ampenan. Kegiatan ini diikuti oleh utusan dari tiga paroki di Pulau Lombok, yakni Paroki Maria Immaculata Mataram, Paroki Santo Antonius Padua Ampenan, dan Paroki Santo Yohanes Pemandi Praya. Antusiasme umat begitu besar, tercermin dari jumlah peserta yang mencapai sekitar 300 orang.
Karena kapasitas aula hanya mampu menampung sekitar 200 peserta, Tim Perlengkapan Paroki Ampenan sudah mengantisipasi dengan menyiapkan tenda, kursi dan TV Monitor di area luar untuk menampung peserta lainnya. Sebelum acara resmi dimulai, para peserta terlebih dahulu melakukan registrasi sambil menikmati snack dan secangkir kopi serta teh dalam suasana penuh keakraban.
Tepat pukul 10.00 WITA, kegiatan dibuka dengan suasana hangat melalui sesi ice breaking yang dipandu oleh Ibu Christine. Dengan iringan lagu “Ko Kenal Veronika”, para peserta diajak untuk bernyanyi dan bergerak bersama. Suasana aula pun seketika menjadi hidup; tawa, senyum, dan semangat peserta menunjukkan antusiasme yang luar biasa.
Setelah itu, kegiatan resmi dibuka dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Pater Iron, SVD, dilanjutkan dengan sambutan dari Deken Dekenat NTB, yang akrab dikenal dengan sapaan “ROMEO”—singkatan dari ROMo Eman anO. Dalam sambutannya, menekankan bagaimana Komunitas Basis Gerejawi (KBG) menjadi kekuatan utama dalam membangun Gereja yang hidup dari bawah. Melalui KBG, umat diharapkan semakin aktif dalam kehidupan menggereja, membangun solidaritas, dan menghadirkan semangat pelayanan di tengah masyarakat.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Uskup Keuskupan Denpasar yang diwakili oleh Romo Babey selaku Vikjen Keuskupan Denpasar. Beliau menegaskan bahwa “KBG bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang untuk mengalami kasih, perhatian, dan kepedulian sebagai satu keluarga Allah, ‘Kalau KBG hidup, maka Gereja juga hidup’ tegasnya.

Deken NTB, RD. Martinus Emanuel Ano menyampaikan Panorama KBG d yang ada di pulau Lombok.Memasuki sesi berikutnya, Romo Eman memaparkan panorama singkat perkembangan KBG di tiga paroki peserta Mataram, Ampenan, dan Praya. Dalam pemaparannya, ia menggambarkan dinamika pertumbuhan KBG, tantangan pastoral yang dihadapi, serta peluang besar untuk membangun komunitas umat yang lebih partisipatif dan saling mendukung.
Puncak kegiatan memasuki sesi utama pembekalan, yakni penyampaian materi “Pemberdayaan KBG yang Solid dan Solider” Dalam pembekalan tersebut, RD. Herman Yoseph Babey menyampaikan materi bertajuk “Membangun Gereja dari Bawah: 25 Tahun Perjalanan KBG di Keuskupan Denpasar.” Ia menegaskan bahwa KBG merupakan wajah Gereja yang hidup, bertumbuh dari keluarga-keluarga, dan hadir nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, Gereja yang kuat lahir dari komunitas-komunitas kecil yang memiliki semangat persaudaraan, kepedulian, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan bersama. Karena itu, keberadaan KBG tidak hanya dipahami sebagai struktur organisasi lingkungan, tetapi sebagai wadah pembinaan iman dan pelayanan umat.
“Gereja dibangun dari bawah, dimulai dari keluarga dan komunitas kecil yang saling mengenal, saling peduli, dan berjalan bersama,” ungkap Romo Babey dalam penegasan materinya.

Lebih lanjut, peserta diajak memahami pentingnya membangun KBG yang “solid dan solider”, yakni komunitas yang kokoh dalam iman sekaligus memiliki kepekaan sosial terhadap sesama, terutama mereka yang sakit, lemah, mengalami kesulitan ekonomi, maupun yang mulai menjauh dari kehidupan menggereja.
Setelah sesi materi selesai, seluruh peserta menikmati makan siang bersama, menjadi momen sederhana namun bermakna untuk mempererat persaudaraan antar paroki.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok, di mana peserta dibagi ke dalam lima kelompok kecil. Masing-masing kelompok diarahkan menuju ruang-ruang yang telah disiapkan panitia, sebagian menggunakan ruang kelas SMPK Ampenan dan sebagian lainnya tetap berada di area Rumah Retret Aryo Ampenan.

Dalam sesi ini, para peserta mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam buku modul yang telah dibagikan kepada setiap peserta sebagai bahan refleksi dan penguatan pelayanan KBG di lingkungan masing-masing. Melalui forum diskusi ini, para peserta diajak untuk merefleksikan pengalaman pastoral di masing-masing lingkungan serta merumuskan langkah konkret dalam memperkuat KBG di wilayah pelayanan mereka.
Peserta diberikan waktu selama dua jam untuk berdiskusi dan mendalami materi bersama kelompok masing-masing. Dalam suasana penuh antusias dan keterbukaan, setiap kelompok berbagi pengalaman serta gagasan mengenai langkah-langkah konkret dalam membangun KBG yang semakin solid dan solider di tengah kehidupan menggereja.

Setelah sesi diskusi selesai, seluruh peserta kembali ke aula utama untuk mengikuti pleno dan penegasan materi yang dipandu oleh Romo Babey. Dalam penegasannya, Romo Babey mengajak seluruh peserta agar semangat kebersamaan, pelayanan, dan kepedulian dalam KBG tidak hanya berhenti pada kegiatan pembekalan, tetapi sungguh diwujudkan dalam kehidupan umat sehari-hari.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa penutup yang dipimpin oleh Pater Iron, SVD. Suasana penuh sukacita dan persaudaraan semakin terasa ketika seluruh peserta mengikuti sesi foto bersama sebagai ungkapan kebersamaan dan semangat pelayanan dalam membangun Komunitas Basis Gerejawi yang hidup, solid, dan solider.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Gereja terus bergerak, hadir, dan bertumbuh bersama umat. Dengan semangat solid dan solider, diharapkan Komunitas Basis Gerejawi di wilayah NTB semakin menjadi pusat kehidupan iman yang hidup, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat luas.
“KBG yang kuat akan melahirkan Gereja yang kuat.” Sebuah harapan yang terus digaungkan dalam setiap langkah pelayanan Gereja.
Anthony_ Laziale Komsos Ampenan
Editor : Bowo



