Salib Sebagai Proklamasi Kasih, 2.500 Umat Paroki Sumbawa Khidmat Rayakan Jumat Agung

SUMBAWA BESAR – Suasana hening dan sakral menyelimuti Gereja Katolik Paroki Sang Penebus Sumbawa pada peringatan Jumat Agung, 3 April 2026.
Sekitar 2.500 umat hadir dengan penuh iman untuk merayakan upacara kenangan sengsara Tuhan yang dipimpin oleh Romo Yeremias Helan Diaz,Pr. Frater Rafael juga ikut membantu.
Ibadat dimulai tepat pukul 15.00 WITA dengan prosesi perarakan masuk yang berbeda dari perayaan biasanya. Dalam keheningan total tanpa nyanyian pembuka, Romo Yeremias mengenakan kasula merah—simbol pengorbanan—memasuki gereja menuju altar yang kosong dan bersih tanpa ornamen.
Puncak keheningan terjadi saat Romo Yeremias melakukan prostratio atau meniarap di depan altar, sebuah tanda kerendahan hati dan kedukaan mendalam Gereja di hadapan Salib. Sementara itu, para lektor, prodiakon, dan misdinar berlutut khidmat di belakang imam.

Usai berdoa sejenak dalam batin, imam menuju kursi sedilia dan mengucapkan doa pembukaan tanpa tanda salib, tanda kesinambungan dari perayaan Kamis Putih.
Dalam homilinya yang menyentuh, Romo Yeremias mengajak umat untuk melihat makna dibalik air mata kesedihan Jumat Agung. Dia menegaskan bahwa peristiwa Salib bukanlah sebuah tragedi kekalahan, melainkan sebuah “Proklamasi Kasih sejadi-jadinya” dari Allah kepada manusia.
“Kalau mencintaimu itu terluka, maka aku siap terluka,” ungkap Romo Yeremias menggambarkan pengorbanan Kristus yang purna, utuh, dan tidak terputus di tengah jalan.
Pastor Yeremias menjelaskan secara mendalam bahwa seruan Yesus “Sudah Selesai” adalah sebuah pernyataan kemenangan. Salib dianggap sebagai “pelaminan” di mana Kristus
menyerahkan diri sepenuhnya sebagai Mempelai bagi Gereja-Nya.

Konsep kasih itu kemudian ditekankan sebagai dasar fundamental bagi relasi suami-istri Katolik: kasih yang siap terluka demi kebaikan keluarga, setia hingga tuntas, dan menjadikan pengorbanan sebagai fondasi kebahagiaan bersama.
Setelah Doa Umat Meriah dipanjatkan, ritual dilanjutkan dengan Upacara Penghormatan Salib. Romo Yeremias memberikan penghormatan pertama dengan mencium salib suci, diikuti oleh petugas liturgi.
Guna mengakomodasi ribuan umat yang hadir, penyembahan salib dilakukan di beberapa
titik yang telah ditentukan agar ibadat tetap berjalan tertib dan khidmat.

Bagian akhir ibadat ditandai dengan persiapan altar oleh para misdinar. Frater Rafael bersama para Prodiakon mengambil Sakramen Mahakudus dari Ruang Adorasi dengan pengawalan lilin bernyala.
Upacara Komuni menjadi penutup rangkaian ibadat, di mana umat menerima Kristus yang
telah mengosongkan diri-Nya demi keselamatan dunia.

RD. Yeremias Helan Diaz, Pr, adalah imam tamu yang berasal dari Keuskupan Larantuka. Dia merupakan kakak tingkat dari Romo Hyoga (Pastor Rekan Paroki Sumbawa Besar). Saat ini Romo Yeremias sedang tugas belajar (mengambil S-2) di Binus University Jakarta dan kebetulan lagi liburan. Mengisi waktu liburnya dia membantu melayani misa selama perayaan Pekan Suci di Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar. *
Penulis: Made Suryani-Komsos Sumbawa Besar
Editor: Hiro/KomsosKD



