Uskup Denpasar Rayakan Natal Bersama Warga Binaan Lapas Kerobokan
*Kristus Lahir untuk Membuka Jalan Baru"

BADUNG – Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kerobokan, yang terletak di Kabupaten Badung, Bali, merayakan sukacita Natal pada Kamis, 25 Desember 2025, bersama Bapak Uskup Denpasar Mgr. DR. Silvester San, selaku Pimpinan Gereja Katolik Keuskupan Denpasar (Bali-NTB).
Bapak Uskup hadir di Lapas Kerobokan bersama Deken Bali Tengah, yang juga Pastor Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta, RD. Evensius Dewantoro Boli Daton. Bapak Uskup bersama Deken Bali Tengah, berkenan memimpin misa perayaan Natal yang berlangsung di aula Lapas Kerobokan yang telah dihiasi berbagai penak-pernik Natal.

Perayaan Natal itu diikuti 375 umat Kristiani (Katolik dan Protestan) termasuk 13 orang Warga Negara Asing (WNA) yang kini menjadi warga binaan lapas terbesar di Bali itu. Misa Natal ini dimeriahkan oleh koor dari Persekutuan Doa (PD) Don Bosco Paroki F.X. Kuta.
Dalam pengantar Misa, Bapak Uskup, mengungkapkan “Hari ini Gereja bersukacita. Hari ini kita menyanyikan kabar gembira: Yesus, Juru Selamat telah lahir bagi kita. Semoga Natal ini membawa damai dan sukacita, khususnya bagi saudara-saudari yang ada di Lapas ini.”

Sementara itu, dalam homilinya, Bapak Uskup, menegaskan memang Natal selalu identik dengan sukacita dan harapan, namun harus jujur mengakui, tidak semua orang merayakan Natal dalam situasi yang mudah dan nyaman.
“Bagi saudara-saudari yang berada di sini, di LP Kerobokan, Natal mungkin bercampur dengan perasaan rindu, penyesalan, rasa bersalah, bahkan pertanyaan dalam hati: apakah Tuhan masih peduli dengan hidup saya?” ungkap Bapak Uskup penuh reflektif.
Bapak Uskup melanjutkan, atas pertanyaan itulah Natal memberikan jawaban yang paling kuat. Di mana Yesus tidak lahir di istana raja, ia tidak lahir di tempat aman dan terhormat. Yesus justru lahir di kandang hewan, di tempat yang kumuh, dingin dan sederhana.
“Sejak awal, Allah memilih masuk ke ruang hidup manusia yang rapuh. Dengan kehadiran-Nya, Allah seolah-olah berkata: Aku tidak takut pada kegelapanmu. Aku tidak menjauh dari lukamu. Aku datang justru ke tempat yang paling membutuhkan kehadiran-Ku,” kata Bapak Uskup.
Menurut Bapak Uskup, Natal memberikan keyakinan bahwa tidak ada tempat yang terlalu gelap bagi Allah, termasuk di LP Kerobokan, dan tidak ada hati yang terlalu hancur, sehingga Kristus enggan atau tidak mau lahir di dalamnya.
Membuka Jalan Baru
Bapak Uskup, di hadapan warga binaan yang memadati aula Lapas Kerobokan itu juga mewartakan, bahwa tahun 2025 Gereja Katolik merayakan tahun Yubileum dengan tema Peziarah Pengharapan.

Bapak Uskup menarasikan “Tema ini sangat indah dan dekat dengan situasi hidup kita semua. Peziarah bukanlah orang yang sudah sampai di tujuan, malainkan orang yang masih berjalan, meskipun langkahnya tertatih-tatih, meskipun jalannya berat, bahkan meskipun ia pernah jatuh dan tak berdaya. Kita semua adalah peziarah yang berjalan di dunia fana ini menuju tanah air surgawi. Kita semua memiliki masa lalu, ada yang membanggakan, ada pula yang kita sesali dan tangisi.”
Namun demikian, lanjut Mgr. San, Tuhan tidak menilai manusia berdasarkan satu titik kegagalan atau kegelapan, melainkan berdasarkan kerinduan untuk terus berjalan bersama Dia, terus membaharui diri lebih baik dari waktu ke waktu.
Menurut Rasul Paulus, lanjut Bapak Uskup, pengharapan itu tidak mengecewakan atau dalam Bahasa Latin disebut ‘Spes Non Confundit’, karena pengharapan itu tidak bertumpu pada kekuatan dan kehebatan diri sendiri, melainkan pada kekuatan dan kasih Allah yang setia.

“Pengharapan Kristiani bukanlah ilusi, bukan penghiburan yang kosong. Pengharapan kita bersama Yesus Kristus yang lahir, menderita, wafat dan bangkit justru menyelamatkan kita. Jadi pengharapan dalam Kristus tidak mengecewakan, bahkan menyelamatkan,” tegas Bapak Uskup.
Kepada warga binaan Lapas, khususnya yang beragama Kristiani yang ikut dalam perayaan itu, Bapak Uskup memberikan peneguhan, “Mungkin saat ini kebebasan fisik kalian terbatas, tetapi pengharapan tidak pernah bisa dipenjara. Iman tidak bisa dibelenggu. Kasih Allah tidak bisa dihalangi oleh tembok apapun. Banyak orang di luar sana mungkin melihat kalian dari masa lalu dan kesalahan yang telah dibuat. Namun Allah melihat kalian dalam kaca mata kasih dan kemungkinan untuk masa depan yang lebih baik. Kristus datang bukan untuk memberi cap, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membuka jalan baru.”
Bapak Uskup dalam kesempatan yang sama juga mengupas tentang tema Natal 2025, ‘Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga,’ yang disampaikan secara bersama oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

“Memang saat ini kalian ada di sini, jauh dari keluarga. Tetapi kalian tetap rindu akan keluargamu dan selalu mengharapkan dukungan dari keluargamu. Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga, tetap menjadi harapan kalian juga, agar keluargamu di rumah baik-baik saja dan tetap dilindungi dan diberkati Tuhan,” kata Anggota Dewan Moneter KWI itu.
Lebih jauh Bapak Uskup menerangkan bahwa Natal tidak hanya perayaan liturgis, tetapi panggilan iman untuk menghadirkan damai, keadilan, dan solidaritas di tengah dunia yang terluka, juga di tengah keluarga yang ditinggalkan.
“Peristiwa Natal mengajarkan bahwa hidup manusia tidak ditentukan oleh masa lalu semata, melainkan oleh kesediaan untuk berubah hari ini. Di LP Kerobokan ini, Yesus ingin lahir dalam hati kalian masing-masing, agar kalian dimampukan untuk berubah, untuk bertobat, dengan kerendahan hati mengakui kesalahan dan dengan keberanian bangkit memperbaiki diri, membaharui diri,” pungkas Uskup Delegatus Kitab Suci KWI itu.
Kehadiran Bapak Uskup, Rm. Venus bersama rombongan dari Paroki Kuta untuk melawat sekaligus dalam rangka merawat iman warga Lapas Kerobokan itu disambut antusias, suka cita bahkan dengan penuh keharuan.
Ketika paduan suara menyanyikan lagu penutup ‘We Wish You a Merry Chrismas” warga lapas turut bergembira mengikuti alunan lagu sambil bertepuk tangan dan begitu lagu berakhir mereka bersorak sambil mengucapkan selamat natal, sambil saling berjabat tangan.
Selanjutnya warga Lapas dengan penuh sukacita dan rasa haru juga berebut berjabatan tangan Bapak Uskup dengan penuh hormat. Bapak Uskup melayani mereka dengan ramah dan penuh senyum. Sebagian dari mereka minta foto bersama Bapak Uskup, sampai akhirnya petugas Lapas mengingatkan mereka untuk kembali ke tempat masing-masing.
Seorang warga binaan Lapas yang enggan menyebutkan namanya, kepada media ini mengungkapkan sangat terharu dan merasa sangat diteguhkan.
“Homili Bapak Uskup sangat meneguhkan saya dan saya senang, juga haru ikut perayaan ini,” katanya setelah misa.

Menarik bahwa setelah misa, ada dua orang yang meminta pengakuan privat kepada Romo Venus, dan sepertinya mereka adalah WNA yang ikut menghuni Lapas Kerobokan.
Saat kembali ke bloknya, seluruh warga binaan yang ikut dalam misa itu, masing-masing dibagikan nasi kotak yang disediakan oleh Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta, sebagai tanda kasih Natal. *
Hironimus Adil



