Dekenat NTB Rayakan HPS di ‘Golgota’nya NTB

TAMBORA, BIMA – Oebura adalah sebuah desa dengan hawa sejuk-dingin, yang berada di lereng gunung Tambora, NTB. Desa tersebut merupakan salah satu stasi dari Paroki St. Maria-St. Yoseph Dompu, yaitu yaitu Stasi St. Paulus Tambora.
Tanggal 28-30 Oktober 2025, para penggerak PSE paroki se-Dekenat Nusa Tenggara Barat (NTB), hadir di stasi terjauh Paroki Dompu itu, dalam rangka perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) tingkat Dekenat NTB. Ada sekitar 50 orang peserta utusan paroki-paroki di dekenat itu, termasuk para imamnya. Juga hadir Tim Komisi PSE bersama Vikjen Keuskupan Denpasar.
Perjalanan dari Dompu menuju Tambora ibarat perjalanan Yesus menuju Golgota karena melewati medan yang cukup menantang terutama dari desa Pancasila menuju Oebura, Tambora. Oebura berada di dataran tinggi.

Panitia lokal minta peserta dan tim Komisi PSE KD berkumpul di desa Pancasila. Kemudian berangkat bersama-sama menuju desa Oebura Tambora. Namun, sebelum sampai desa Pancasila, sempat istirahat di Surinomo. Perjalanan Dompu – Surinomo kurang lebih 3 jam. Sejenak berhenti di mata air Mada Oi Wau di Surinomo untuk makan siang.
Lalu melanjutkan perjalanan menuju desa Pancasila, sekitar 45 menit. Dari sini baru ke desa Oebura Tambora, memerlukan waktu 30 – 45 menit dengan medan yang menantang. Tidak sedikit peserta yang memilih berjalan kaki (sekitar 12 km), dari Pancasila ke Oebura. Sebagian lainnya memilih naik mobil pick up barang, dan ada juga yang ikut naik motor tim panitia.
Setiba di Oebura peserta melakukan registrasi dan pembagian kelompok rumah untuk akomodasi. Para peserta dan tim diajak live in di rumah-rumah umat Katolik dan juga rumah umat Muslim.

Perayaan HPS dimulai dengan Workshop Edukasi Hak Atas Pangan: dari Kesadaran ke Aksi. Edukasi diawali materi Laudato Si oleh Vikjend Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, dan materi kedua tentang tema HPS 2025 dari PSE KWI, “Hak atas pangan untuk kehidupan dan masa depan yang lebih baik” oleh Ketua Komisi PSE.
Terkait Laudato Si, Rm Babey, menjelaskan “Dalam konteks masa kini, ketika krisis pangan, kerusakan lingkungan dan ketimpangan ekonomi semakin terasa, panggilan Gereja menjadi semakin mendesak, dengan menghidupi iman yang peduli pada ciptaan dan solidaritas terhadap sesama.,” katanya.
Menurut Vikjen, Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis lingkungan dan sosial adalah salah satu krisis terpadu (LS 139) : kerusakan lingkungan, konsumerisme dan ekonomi eksploitatif dan keadilan ekologis.
“Bumi kita, rumah bersama ini, semakin rusak dan kehilangan keanekaragaman hayatinya. Kita perlu menumbuhkan rasa syukur dan kemurahan hati, bukan eksploitasi dan keserakahn,” tegasnya.

Sementara Rm. Evensius Dewantoro Boli Daton – Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar, menjelaskan tentang tema HPS 2025.
“HPS tidak hanya untuk gereja Katolik saja. Tetapi untuk semua komunitas dunia. Pada tanggal 16 Oktober semua komunitas memperingati berdirinya FAO 1945. Kemudian kita merayakan Pekan Pangan Nasional dengan hari pangan sedunia. Bisa dirayakan dalam bentuk seminar dan lomba-lomba seperti lomba pangan lokal non beras dan kegiatan lainnya,” terangnya.

Menurut Rm. Venus, sapaan Ketua PSE, Gereja Katolik melalui Komis PSE mengusung tema yang disesuaikan dengan konteks lokal dan global untuk solidaritas – berbagi serta bertanggung jawab atas pangan dan bumi.
Tujuan HPS, lanjutnya, adalah meningkatkan kesadaran global atas masalah kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskinan. Di wilayah tertentu kemiskinan/ketimpangan ekonomi terlihat mencolok.
“Untuk menghadirkan makanan di meja, perlu proses yang panjang, dari menanam, panen, hingga kemasan dan sampai dapur kita. Makna spiritual HPS – bersyukur atas berkat yang diberikan pada kita dan bertanggung jawab atas bumi yang memberi kita makan,” imbuh Ketua PSE.
Lebih jauh dikatakan, semua orang harus makan supaya hidup berklanjutan. Maka setiap orang punya hak atas pangan. “Tahun 2045 – generasi emas, anak-anak harus diajarkan disiapkan dari sekarang, jangan sampai mengalami situasi stunting. Menurut data, 300 juta orang hidup dalam rawan pangan – bahkan terancam kelaparan akut,” katanya.
Diperparah oleh cuaca dan iklim yang terus berubah akibat ulah manusia yang merusak alam. Perang juga menyebabkan kelaparan akut. Kemerosotan ekonomi, exploitasi alam yang berlebihan system permintahan yang tidak stabil, mengakibatkan kelaparan, kematian, stunting, kemiskinan, dsb.
Menurut Rm. Venus, di tempat tertentu banyak makanan terbuang, kadularsa karena disimpan lama, namun di tempat lain malah kekurangan makanan. “Bagaimana kita menghargai makan, kalau kita suka buang makanan. Apa yang bisa kita lakukan? Mari menjadi petani yang berdaulat. Menghargai dan membeli hasil petani lokal,” ungkapnya.

Romo Venus lantas menghubungkan komoditas dengan petani. Rm. Venus mendorong petani agar berkelanjutan, menggunakan bahan non sintetis, memberi ruang suara untuk petani, memberi akses petani untuk memberikan usulan, pendidikan dan regenerasi petani muda.
“Ajarkan anak anak kita untuk jadi petani modern, advokasi kebijakan untuk para petani, tugas kita advokasi agar mereka dapat perlindungan,” tambahnya.
Usai edukasi, baru dilaksanakan acara seremoni pembukaan. Dimulai dari sapaan Ketua Panitia RD. Eligius Adi Wahyu Parwata – Pastor Paroki St.Maria-St.Yosef Dompu, lalu sambutan dari Kepala Dusun Oebura, Kepala Desa Oibura, Deken NTB, dan Vikjend Keuskupan Denpasar.
Rm. Eligius selaku Ketua Panitia menyampaikan bahwa persiapan dilakukan oleh Rm. Marthin de Porres Loya (Rm Ores) Pastor Rekan Paroki Dompu, seraya mengucapkan selamat datang untuk semua peserta dari paroki-paroki se-Dekenat NTB, Deken NTB, tim PSE Puspas KD, dan Romo Vikjen. Rm Eli berharap para peserta mendapatkan sesuatu dari Oebura ini. Bagi Rm Eli, berada di Tambora ini menjadi suatu healing.

Kepala Dusun Oebura, Sulaiman M. Ali, mengatakan bahwa desa Oibura ini meupakan desa kasih, karena kehidupan masyarakatnya saling membantu, gotong royong, tidak ada perbedaan. Hal senada diungkapkan Kepala Desa Oebura Abdullah HR yang mengatakanumat di Oibura ini bagaikan keluarga, meski dengan agama yang berbeda-beda.
“Kegiatan HPS ini mewakili dunia untuk Indonesia dan terjadi di Oibura, desa yang majemuk ini, dengan solidaritas masyarakat yang tinggi. Ke depan desa ini diharapkan sejahtera dan Makmur,” harapnya.
Deken NTB RD. Martinus Emanuel Ano dalam sambutannya mengungkapkan, Tambora adalah Golgotanya NTB dan yang memunculkan istilah itu adalah Vikjen Keuskupan Denpasar.
“Suatu tempat yang indah, meski perjalanan menuju ke Oibura Tambora ini dengan medan yang menantang. Diharapkan dengan merasakan tinggal di tempat ini, ada banyak rahmat dan berkat di sini,” kata Deken yang sudah akrab dengan tempat itu karena pernah menjadi Pastor Paroki Dompu.
Rm Eman juga mengatakan dukungannya kepada Komisi PSE yang selalu memberikan perhatian kepada kelompok masyarakat kecil dan mau tinggal bersama. Ia berharap agar kopi Tambora ini bisa go public.
Sementara Vikjen RD. Herman Yoseph Babey, mengatakan “Kita membangun perjumpaan di tempat yang tinggi seperti Golgota. Di situ (Golgota) Yesus melepaskan egoisme-Nya dan mempersembahkan nyawa-Nya untuk keselamantan manusia. ‘Golgota’ Tambora ini, semoga tidak berpikir tentang dirinya, tetapi juga orang lain. Semoga yang dihasilkan Tambora tidak untuk kepentingan diri tapi kepentingan banyak orang.”
Romo Babey juga menuturkan harapannya agar apa yang dialami di tempat itu membawa dampak yang baik dan semua yang hadir dapat berkisah hal yang indah di Tambora, tentang bagaimana relasi yang baik masyarakat beragama di sana. “Desa Tambora ini walaupun kecil tetapi dapat menghasilkan sesuatu bagi banyak orang,” pungkasnya.
Hari kedua, peserta diajak untuk melaksanakan katekese tentang HPS yang langsung dipandu Ketua PSE RD. Venus. Peserta dibagi dalam 4 kelompok dan setiap kelompok dipandu oleh seorang fasilitator.

Saat katekese, peserta diajak untuk merefleksikan tema HPS, dari kesadaran ke aksi. Aksi yang disepekati ini akan dilaksanakan setiap utusan paroki di paroki masing-masing.
Dari ketekese, peserta diajak untuk ke lapangan, mengunjungi kebun-kebun umat, yaitu kebun kopi dan vanili. Jalan menuju kebun cukup terjal, naik-turun, dan banyak jalan setapak. Lokasi cukup jauh, dengan suasana alam yang sejuk, penuh tanaman dan pepohonan. Sesampai di kebun, mereka berdialog dengan umat Tambora tentang tanaman kopi dan vanili, hingga terpuaskan keingin tahuan mereka.
Sepulang dari kebun, peserta diajak untuk mengenal dan praktek pembuatan eco-enzyme (EE) oleh tim PSE Keuskupan: Handoko, Martinus Limana dan Theresia Effita dibantu Sion umat stasi Nangakara yang sudah biasa membuat dan memanfaatkan EE, sehingga panen tanamannya berlimpah.
Rm. Venus dan Rm Babey kembali mengajak peserta untuk mencermati topik tentang ‘Membangun ketahanan pangan dan aplikasinya. Rm Venus meninjau dari bidang HPS itu sendiri, sedangkan Rm Babey dari tema pastoral Keuskupan Denpasar tahun 2026: Bangkit dan bergerak bersama mewujudkan Gereja Sinodal melalui Sekami, OMK, ‘Keluargadan KBG yang solid dan Solider’.
Kata Rm. Babey, ketahanan pangan bukan hanya urusan perut, tapi tanda Gereja yang hidup, solider, dan peduli. Melalui sinergi Sekami, OMK, Keluarga dan KBG, Keuskupan Denpasar dapat menjadi Gereja yang menumbuhkan iman dan pangan sekaligus.
Perayaan HPS, ditutup dengan perayaan Ekaristi. Pada acara penutup, Rm Babey berpesan kepada para peserta untuk membuat sosialisasi dan edukasi pentingnya menghargai para petani dan pangan lokal. “Pulang dan lakukan aktifitas dalam bentuk edukasi sampai di KBG – lingkungan,” tutupnya. *
Penulis: Jeanne-Kust-Tukan
Editor: Hiro/KomsosKD


