LINTAS PAROKI

24 Kerangka Jenazah Diangkat pada Kremasi Massal 2025

NUSA DUA – Rukun Kematian Katolik Dekenat Bali Timur (RKK-DBT) kembali menggelar kremasi massal di tahun 2025, Sabtu (27/09/2025).

Sebanyak 24 jenazah dari makam jatuh tempo di Taman Makam Katolik Mumbul diangkat, diberkati, lalu dikremasi dalam kegiatan yang diselenggarakan secara rutin ini.

Hadir dalam kremasi massal ini antara lain Deken Bali Timur, RP. Laurentius I Ketut Supriyanto,SVD, serta didampingi oleh Pastor Rekan Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Nusa Dua, RD Ferdy Panggur Burhan.

Turut hadir pula Ketua Rukun Kematian Katolik (RKK) DBT, Anak Agung Ayu Putu Priniti dan para pengurus RKK-DBT serta para Ketua RKK Paroki Dekenat Bali Timur dan Dekenat Bali Tengah termasuk Ketua RKK Paroki MBSB, Leonardus Agung.

Ketua RKK DBT, Anak Agung Ayu Putu Priniti, menyampaikan bahwa proses kremasi massal dilakukan setiap tahun karena lahan Taman Makam Katolik Mumbul cukup kecil.

Usia makam bagi jenazah yang dimakamkan di pemakaman tersebut adalah maksimal 7 tahun untuk dewasa, serta 3 tahun untuk bayi.

“Prosesnya, sebelum dibongkar itu, memang kita buat pengumuman dulu di paroki-paroki, lingkungan, dan KBG, bahwa ini akan dikremasi dan tanggal jatuh temponya. Dari 1 atau 2 bulan sebelumnya itu, memang diumumkan dulu. Setelah selesai, nanti prosesnya gali makam, kremasi, dan abunya dititipkan di kolumbarium,” terang Putu Priniti yang juga Anggota DPRD Kota Denpasar itu, di Taman Makam Katolik Mumbul, Sabtu.

Sebelum proses penggalian makam, rangkaian acara dimulai dengan ibadat sabda oleh RP. Laurentius I Ketut Supriyanto,SVD terlebih dahulu.

Dalam renungan singkatnya, Romo Laurentius mengungkap bahwa peristiwa kremasi tersebut merupakan bagian dari peristiwa iman yang menunjukkan kembali keyakinan Katolik tentang kehidupan, serta tentang menghargai kehidupan yang pernah terjadi bersama para mendiang.

“Kehidupan ini belum diputuskan oleh kematian dan tidak akan diputuskan oleh kematian. Bahwa, hari ini adalah sebagai ungkapan iman, kita masih ada bersama-sama dengan mereka di dunia yang berbeda dan kita berharap kita pula boleh dengan penuh semangat membawa saudara-saudari kita ke tempat istirahat yang sesungguhnya,” kata Romo Laurentius.

Romo Laurentius mengatakan, belum semua orang Katolik bisa menghayati dan memahami dengan baik makna di balik kremasi. Hal tersebut dikarenakan Gereja Katolik secara umum, yang berlandaskan pada memori, terbiasa dengan memakamkan mendiang secara pantas.

Ritual pemakaman dan bagaimana cara memperlakukan mendiang juga identik dengan budaya yang mengakar kuat di masyarakat.

“Kita boleh mengatakan bahwa kita adalah manusia yang beradab dan berbudaya, tahu bagaimana caranya menghargai orang yang hidup dan orang yang mati. Maka, ketika berhadapan dengan kematian, dengan situasi kita yang saat ini, kita akan membongkar makam, lalu membawa mereka ke tempat kremasi,” ucapnya.

Setelah renungan, Romo Laurentius dan Romo Ferdy berjalan berkeliling untuk berdoa dan memberkati makam-makam yang akan dibongkar. Ahli waris dan keluarga dari makam yang akan dibongkar tersebut turut mengikuti upacara ini. Makam lantas dibongkar, sementara kerangkanya diangkat untuk dikremasi.

Di antara 24 makam yang dibongkar tidak semua kerangkanya diremasi. Ada 4 kerangka jenazah dimasukan ke ruang sunyi karena tidak diketahui ahli warisnya, dan 1 kerangka non kremasi.

Selanjutnya, kremasi massal masih akan dilakukan di tahun 2026 mendatang. *

Penulis : Sandra Gisela

Editor: Hiro/Komsos KD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button