Pewartaan tentang Kristus dalam Konteks Budaya

DENPASAR – Pewartaan iman yang benar mesti memperhatikan konteks budaya, dan sebuah inkulturasi yang bertanggungjawab mengandaikan pemahaman iman yang memadai.
Hal tersebut diungkapkan Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD (Uskup Agung Ende) ketika tampil sebagai narasumber pada Pertemuan Nasional (Pernas) Lembaga Biblika Indonesia (LBI) hari kedua, Rabu (16/7/2025).
Pada hari kedua Pernas, peserta fokus mendengarkan masukan dan pencerahan dari para narasumber dengan materi-materi penting dan menarik, terkait dengan tema Pernas yaitu “Mewartakan Kristus dalam Konteks Asia/Indonesia.”
Ada tiga sesi pemaparan materi hari kedua ini. Diawali presentasi materi dari Mgr. Dr. Budi Kleden, SVD, dengan topik ‘Pewartaan Kristus dalam Berbagai Kultur Bangsa-bangsa.”

Sesi berikutnya adalah pemaparan tentang “Panorama Kebersamaan Antara Gereja dan Kultur di Indonesia” dengan narasumber RP. Bagus Laksana, SJ (Rektor Universitas Sanata Darma Yogyakarta).
Kemudian, tampil dua narasumber pada sesi ketiga di sore hari, Ibu Linda Wahyudi dan RP. Budiyono, O.Carm, dengan materi “Metode Story Telling dengan Memanfaatkan Aspek Kultural.”
Dalam lanjutan pemaparannya, Mgr. Budi Kleden, mengatakan ketika berbicara mengenai pewartaan iman, selain kesaksian hidup, umumnya ada empat instrumen utama yang digunakan: diskursus, narasi, lukisan dan doa (lex orandi lex credendi lex vivendi).
Menurut Mgr. Budi, dengan berbagai kelemahan, contoh kategorisasi seperti berikut dapat dibuat tentang bagaimana Kristus diwartakan dalam konteks kebudayaan bangsa-bangsa.
Misalnya, Gereja Barat (Eropa, Amerika dan Australia), narasi yang dibangun adalah Kristus sebagai juru salamat. Lukisan tentang Kristus itu adalah seorang yang berjenggot dan jubah putih.
Sementara Gereja Timur, narasinya adalah Kristus sebagai Sabda yang berinkarnasi. Lukisannya gaya ikon, Yesus sebagai penguasa, umumnya dengan latar belakang emas.
Lalu, Gereja Amerika Latin, narasi yang terungkap adalah Yesus sebagai pembebas. Lukisannya Yesus dengan gaya Indian, berada di tengah orang banyak.
Berbeda dengan Gereja Asia dan Oceania, narasinya Yesus sebagai tokoh spiritual, dengan lukisan Yesus yang bermenung. Sedangkan Gereja Afrika-Madagaskar, dinarasikan Yesus sebagai Pembebas, dengan lukisan Yesus sebagai kepala suku.

Dikatakan Mgr. Budi, keberagaman budaya yang disampaikan di atas, menuntut pula refleksi atas iman dan pewartaan iman yang kontekstual. Tanpa bermaksud membuat stereotype, lanjut Mgr. Budi, kategorisasi di atas dapat mengatakan, dalam konteks Amerika Latin, konteks sosial menuntut iman yang mencari keadilan. Pewartaan tentang Kristus mesti memperhatikan ketidakadilan struktural yang menindas dan upaya masyarakat bawah untuk mencari keadilan.
Dalam konteks Afrika yang ditandai oleh konflik dan perang antarsuku, yang seringkali terjadi karena kepentingan para pemilik modal di negara-negara maju yang hendak mengeksplotiasi kekayaan alam, pewartaan tentang Kristus harus mengarah kepada penciptaan perdamaian.
Asia yang ditandai oleh kehadiran agama-agama besar yang menjadi kekayaan dan kekuatan masyarakat, serentak menjadi sumber dari berbagai macam konflik, kita perlu menyadari kebutuhan akan pewartaan yang mendorong dialog atau pembicaraan timbali balik (fides querens querens vitam atau fides querens conversationem).

Di Barat, Gereja harus menghadapi tantangan sekularisme yang membawa iman berhadapan dengan sekularisme yang tidak hanya acuh terhadap agama, tetapi juga berwajah anti agama. Di sini, uraian yang digunakan adalah upaya untuk menemukan kerinduan atau kehausan terdalam manusia yang berada di balik semua reaksi terhadap agama (fides quaerens desiderium).
Lebih lanjut, Mgr. Budi menegaskan, Iman tidak cukup hanya untuk dimengerti dan disimpan bagi diri sendiri, iman mencari bentuk dan bahasa pengungkapan (fides quaerens linguam), iman pun perlu diwartakan (fides quaerens proclamationem).
“Dewasa ini kita semakin sadar bahwa bahasa dan pewartaan iman harus memperhatikan dan dilakukan dalam konteks kebudayaan. Maka harus sampai pada fides quaerens inculturationem,” katanya.
Inkulturasi yang benar, menurut Mgr. Budi, memerlukan pemahaman yang autentik atas iman, sebagaimana sebuah pemahaman yang mendalam atas iman hanya dapat merupakan buah dari inkulturasi yang sejati.
Kesatuan dalam Kebhinekaan
Sementara narasumber berikutnya adalah RP. Bagus Laksana, SJ, yang memaparkan topik “Panorama Kebersamaan Antara Gereja dan Kultur di Indonesia.” Menurut Rektor Universitas Sanata Darma Yogyakarta ini, Budaya sebagai ‘Roh’ cara ‘meng-ada’.
Budaya, katanya, sebagai keseluruhan cara hidup, termasuk kebijaksanaan bersama, energi bersama yang memberi ciri dan menyatukan, yang melahirkan kultur yang khas.

Menurut Rm. Bagus, Roh dasar budaya Indonesia adalah Kesatuan dalam Kebhinekaan. “Dua nilai ini, kesatuan dan kebhinekaan merupakan kerangka dan bahan dasar narasi Kristus dan Kristianitas di Nusantara,” katanya.
Peran Gereja dalam budaya kesatuan dan kebhinekaan, lanjut Romo Bagus, secara eksternal Gereja menjadi ‘warga’ yang apresiatif dan kontributif untuk kultur kesatuan dalam kebhinekaan. Gereja dibentuk dan membentuk kultur kesatuan dalam kebhinekaan.

Peran Gereja Secara internal yaitu menghargai keberagaman Gereja Lokal dengan segala keunikan yang berasal dari lokalitas dan bisa terus bersatu dalam kebersamaan Gereja Katolik Indonesia.
Tampil pada sesi berikutnya, pada sore hari dua narasumber yaitu Ibu Linda Wahyudi (Praktisi Story telling) dan RP. Ignasius Budiono, O.Carm (Dosen Kitab Suci STFT Widya Sasana Malang), dengan materi “Metode Story Telling dengan Memanfaatkan Aspek Kultural.”

Kedua narasumber sepakat, pewartaan dengan gaya bercerita yang menarik mudah dipahami dan terus berkesan bagi audiens (pendengar).
Pernas hari kedua ini berpuncak pada ‘Aktualita Kerasulan Kitab Suci Keuskupan’ berupa cerita panoram kerasulan Kitab Suci dari setiap keuskupan. *
Hironimus Adil


