Puisi Buat Julius

Hari ini Julius Wayan Pramadigta, Staf Kantor Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar, genap 7 hari meninggal dunia.
Duka mendalam sungguh dirasakan, tidak saja oleh keluarga Julius, tetapi juga oleh Keluarga Besar Keuskupan Denpasar maupun para sahabat dan kenalan yang mengenalnya.
Salah seorang rekan kerja di Kator Puspas, Christin Herman, membuatkan sebuah puisi yang indah sekaligus mengayat hati ditinggal Julius.
Puisi ini dibuat dan dibacakan oleh Blasius Naya Manuk, rekan kerja lainnya saat hari pemakaman Julius, Rabu, 28 Januari 2026, sebagai sapaan kasih mewakili seluruh rekan karja. Berikut Puisi buat Julius, sebagai persembahan kasih mengenang 7 hari dia berpulang.
Untuk Julius Wayan Pramadigta
Ia hadir tanpa banyak suara,
namun kehadirannya selalu terasa,
pribadi sederhana
yang membuat hidup orang lain
menjadi lebih ringan.
Kehadirannya seperti malaikat
yang berjalan di antara kami,
ia menolong tanpa diminta,
datang tanpa dipanggil,
dan pergi tanpa ingin dikenang,
namun justru tak pernah terlupa.
Ia tak pernah berkata “tidak”,
tak pernah menunda kebaikan,
setiap tugas dijalani
dengan hati yang setia
dan tangan yang terbuka.
Multitalenta adalah dirinya,
namun kerendahan hati
menjadi pakaiannya sehari-hari,
bekerja dalam diam,
membiarkan hasil berbicara sendiri.
Tak pernah kami lihat amarah di wajahnya,
tak pernah terdengar keluhan dari bibirnya,
bahkan ketika lelah dan sakit
menjadi teman perjalanannya,
ia tetap memilih tersenyum.
Saat sakit menggerogoti tubuhnya,
ia tetap menjadi Julius yang sama:
tenang, sabar, dan berserah,
menyimpan derita dalam doa,
hingga ajal tiba dengan lembut.
“Di sini senang, di sana senang,”
itulah iman yang ia hidupi,
bahwa hidup adalah anugerah,
dan ke mana pun Tuhan memanggil,
di sanalah damai menanti.
Ia berjalan pelan,
dengan langkah sederhana
namun jejaknya tertinggal lama
di hati banyak orang.
Hari ini, kantor Keuskupan Denpasar
Sungguh berduka dan sangat
kehilangan satu malaikat yang kelihatan,
penolong setia di balik layar,
yang membuat banyak hal berjalan
tanpa pernah meminta pujian.
Kami sungguh sedih,
kehilangan sahabat, rekan seperjalanan,
dan saudara terkasih kami JULIUS,
namun kami bersyukur
karena pernah berjalan bersama
dengan jiwa seindah dirimu.
Kami biasa memanggilmu
dengan sebutan Juli, Huli, Le, Pak Kadek
sebagai ungkapan sayang kami kepadamu.
Sambil tersenyum iapun berucap mulai-mulai…
Juli, maafkan kami, jika pernah membuatmu kecewa dan sakit hati.
Selamat jalan, Julius.
kehadiranmu mengajarkan kami,
tentang makna sebuah kerendahan hati, kesetiaan, kesederhanaan dan bekerja tanpa banyak bicara dan silau akan pujian.
Kini tugas dan kesetiaanmu
telah selesai kamu tunaikan
dengan mengagumkan.
Kami mengenangmu
dengan syukur dan doa. 🕊️
Tuhan yang Maharahim,
ampunilah segala dosanya,
Allah Bapa di surga,
terimalah jiwa putraMu ini dalam surga abadi.
Juli, doakan kami yang masih mengembara di dunia ini.



