Uskup Denpasar: “Kita kehilangan opa Bone Bali Hada yang sangat militan imannya”
Misa Requiem hari kedua mendoakan almarhum Opa Bone Bali Hada di rumah duka RSAD Denpasar (Minggu 28/1), dipersembahkan oleh Uskup Denpasar, Mgr. Dr. Silvester San, didampingi romo Kadek Ariana.
Mengawali misa, Mgr.San mengatakan, kital berkumpul untuk berdoa memohon belaskasihan Tuhan untuk opa Bone yang telah dipanggil-Nya. Kita merasa kehilangan opa Bone yang sangat kita cintai.

Dalam khotbah, Mgr.San mengatakan, kita semua menyadari bahwa kematian tidak terpisahkan dari hidup manusia. Ada kelahiran, ada pula kematian. Betapa pun panjang usia hidup manusia, pada akhirnya ditutupi dengan kematian.
Kematian membuat kita semua sedih, terutama keluarga yang ditinggalkan. Berhadapan dengan kematian ada dua sikap yang muncul. Bagi yang atheis atau yang tidak beriman, punya prinsip: “hidup ini harus dinikmati sepuas-puasnyadengan segala cara”. Tapi bagi kita yg beriman, melihat kematian dengan kacamata yang lebih positif, sebagai perjumpaan dengan Tuhan.

Menurut Mgr. San, siklus perjalanan hidup setiap manusia itu dimulai dari kandungan ibu, lahir dan tumbuh menjadi dewasa, tua, lalu meninggal. Hidup manusia dikatakan sebagai suatu perjalanan seperti matahari terbit di timur, meninggi, lalu senja dan terbenam. Maka tidak heran ada ungkapan yang tertulis pada sebuah kubur di pinggiran kota Roma “Ho die mihi cras tibi” artinya “hari ini saya besok kamu”. Hari ini kita merayakan misa mendoakan opa Bone, besok atau lusa kita juga akan meninggal dan didoakan orang lain. Semuanya menunggu giliran.

Iman yang militan
Mgr. San mengatakan perjalanan kita bertujuan untuk merebut atau meraih Kerajaan Surga karena karena kita percaya akan kebangkitan, seperti kata santo Paulus. Kita semua dalam perjalanan untuk merebut Kerajaan Surga. Caranya seperti yang dikatakan Yesus “Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada orang yang bisa datang kepada Bapa-Ku kalau tidak melalui Aku”. Yesus adalah kompas (penunjuk arah) bagi semua orang beriman menuju Surga. Dalam doa, kita mengenang segala perbuatan baik dari opa Bone yang percaya kepada Kristus dan sangat militan imannya, ungkap Mgr. San.

“Dengan imannya yang militan itu, dia melakukan banyak perbuatan baik dan selalu menolong orang yang mengalami kesulitan, baik kesulitan kecil maupun kesulitan besar. Opa Bone juga terlibat di Keuskupan Denpasar menjadi Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), Karina, dan juga memprakarsai berdirinya lingkungan Banjar Hati Maria tak bernoda. Ada banyak hal yang dilakukan dalam hidupnya untuk masyarakat, keluarga dan untuk Gereja Keuskupan Denpasar. Saya juga sangat dibantu oleh opa Bone untuk menyelesaikan kasus Singaraja. Ada banyak orang yang bantu, tetapi salah seorang yang sangat membantu saya dengan memberi usul-saran tanpa memaksa, sehingga kasus Singaraja dapat diselesaikan dengan baik” kenang Mgr. San.
Guido (Ketua lingkungan Banjar Hati Maria tak bernoda) dalam sambutannya mengatakan Sungguh merupakan suatu pergumulan berat bagi keluarga dan lingkungan Banjar Hati maria tak bernoda, opa Bone benar-benar telah pergi untuk selamanya.
“Kami tahu dan kenal betul akan opa Bone yang selama hidupnya telah berbuat banyak untuk orang yang susah, siapa pun dia, opa Bone menolongnya. Kami ucapkan banyak terima kasih kepada hadirin yang begitu banyak sampai tidak mendapatkan kursi untuk duduk dengan nyaman mengikuti misa. Kami mohon maaf atas kekurangan yang ada. Do akita semua semoga opa Bone berbahagia di Surga”, pinta ketua lingkungan Banjar Hati Maria tak bernoda.
Ketua Ikatan Keluarga Lamaholot (IKL) Bali yang diwakili oleh Paskalis Sabon dalam sambutannya mengatakan, “Opa Bone adalah pendiri IKL, dia adalah bapak yang sangat kami hormati. “Pana maan mela’ mela’, gawe maan sare’-sare’ geniku teti Surga lolon” artinya: berjalanlah dengan tenang menuju ke dalam Surga.

Mewakili keluarga, Budi Bone, anak opa Bone yang kedua dari 4 bersaudara (Tina Bone anak nomor satu, Budi Bone, Kris Bone anak nomor tiga dan Frans Bone anak nomor empat), mengucapkan terima kasih kapada bapak Uskup Denpasar Mgr. San, Romo Kadek, Romo Yosef Wora, Romo Babey, yang telah memberikan perhatian dan doa kepada ayahnya dan kepada semua yang telah memberi perhatian dan doa untuk ayahnya selama mengalami sakit yang tidak bisa disebutkan satu persatu. “Semua yang telah berbuat baik, yang datang ke rumah kami itu adalah keluarga kami”, ungkap Budi mengakhiri sambutannya.
Mantan Ketua Flobamora Bali, Yusdi Diaz, yang dimintai komentarnya tentang opa Bone, mengatakankan, seperti yang dikatakan oleh bapak Uskup Denpasar dalam khotbahnya bahwa opa Bone banyak terlibat dalam karya Keuskupan Denpasar dan membantu bapak Uskup menyelesaikan kasus di Singaraja. Hal itu benar sekali.

Menurut Yusdi Diaz, opa Bone mengajak saya dan Ardy Ganggas untuk membantu menyelesaian kasus di Singaraja dan beliau sangat tegas dalam membela kepentingan Gereja. Soal iman, opa Bone memang nomor satu. Kepada saya opa Bone selalu bilang, “Yusdi kerjakan saja apa yang menjadi tugas kita dalam karya pastoral Gereja. Ada saja kendala atau tantangan tetapi pegang teguh akan pertolongan Tuhan. Istilah Lamaholot “Heke Mege”, demi kebaikan atau kesejahteraan bersama “Bonum Commune”.
Selamat jalan opa Bone. Nama dan jasa baikmu tidak terlupakan. Kami mengiringi kepergianmu dengan doa, semoga bahagia di Surga. ***

Blasius Naya Manuk (Redaktur Pelaksana Majalah Agape).



