LINTAS PERISTIWA

PERTEMUAN PASTORAL XII REGIO GEREJAWI NUSRA MENGGETARKAN RASA DAN SYUKUR

“Jadilah Gereja Migran Perantau seperti pelita yang terus memancarkan terang dalam kehidupaan yang penuh dengan kegelapan dan penderitaan”.

Larantuka-Fores Timur.   Pertemuan Pastoral  (Perpas) XII  Regio Gerejawi Nusra (Nusa Tenggara) sungguh menggetarkan rasa dan syukur. Sebelumnya ada rasa kekuatiran yang menggetarkan hati  bercampur harapan.

Ada tanda tanya di hati oleh semua peserta Perpas. Sebelumnya tertunda oleh karena Covid-19. Apakah sekarang dengan ancaman erupsi dua gunung: Ile Lewotobi laki-laki dan Ile Lewotolok, Perpas dapat dilaksanakan atau harus tertunda lagi? Namun seperti tema Yubileum 2025, “Berharap kepada Tuhan tak pernah mengecewakan”, sungguh terbukti.

Kekuatiran lenyap !  Harapan membuahkan rasa syukur. Bersyukur kepada Tuhan karena sesuai agenda yang telah dirancang Panitia, tanggal 1 Juli 2025, jam 17.00 Wita, Perpas XII Regio Gerejawi Nusra akhirnya dibuka secara resmi oleh Uskup Agung  Ende, dalam Ekaristi Pembuka, didampingi oleh Uskup Larantuka dan Bupati Flores Timur, serta Ketua DPRD Kabupaten Flores Timur, dan disaksikan oleh para Uskup se-Regio Nusra, Para peserta Perpas XII dan umat yang hadir dalam misa pembukaan di gereja Katedral Larantuka.

Raja Larantuka dan tetua adat menyambut dan menyapa para Uskup se-Regio bersama peserta Perpas dari setiap Keuskupan di gerbang masuk areal Katedral Larantuka

Opening seremony didahului dengan sapaan dan suguhan adat  di pintu gerbang halaman gereja Katedral Larantuka oleh Raja Larantuka dan tetua adat, dilanjutkan  dengan perayaan Ekaristi Pembukaan yang sangat agung dan meriah.

Vikjen Keuskupan Denpasar, RD.Herman Yoseph Babey turut dikalungi sarung tenun bersama para Uskup.

Perayaan Ekaristi pembukaan Perpas XII Regio Gerejawi Nusra, dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung sebagai selebran utama didampingi oleh  para Uskup se-Regio Nusra serta para imam yang mengambil bagian dalam selebran perayaan Ekaristi tersebut.

Sambutan-Sambutan

Sebelum berakhir perayaan Ekaristi pembukaan, ada dua acara protokoler yang harus dilaksanakan yakni sambutan tuan rumah Uskup Larantuka, Mgr.Frans Kopong Kung dan Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden.

Perayaan Ekaristi Pembukaan Perpas XII Regio Nusra, dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr.Frans Kopong Kung sebagai selebran utama didampingi para Uskup se-Nusra dan para Vikjen serta imam dari setiap Keuskupan.

Sambutan pertama, Uskup Larantuka. Mengawali sambutannya, Mgr. Frans mengatakan, “Saya tidak mempunyai sekapur sirih, juga tidak mempunyai arak, namun saya ingin menyapa para bapak Uskup dan para peserta Perpas Regio Nusra, selamat datang di Keuskupan Larantuka.

Sambutan Uskup Larantuka , Mgr. Frans Kopong Kung.

Selain itu saya juga menyapa para Undangan dari Forkopinda Kabupaten Florens Timur yang berkesempatan hadir dalam perayaan Ekaristi ini, khususnya bapak Bupati Flores Timur dan Bapak Ketua DPRD Flores Timur”.

Mgr. Frans mengakui bahwa dalam mempersiapkan Perpas ini ada kecemasan akibat erupsinya dua gungung berapi (ile Lewotobi dan ile Lewotolok), namun saat ini mereka tenang, dan mereka seolah hadir di Perpas ini. Erupsi kedua gunung tersebut membuat perhatian dan pelayanan banyak tercurah untuk penanganan dampak erupsi.

Sebenarya Perpas ini merupakan pertemuan tiga tahunan para Uskup se-Regio Gerejawi Nusa Tenggara. Namun Uskup tidak berjalan sendiri, melainkan berjalan bersama umat. Karena itu bersama Uskup, ada juga utusan umat dari delapan Keuskupan yang bergabung dalam Regio Nusra, termasuk Keuskupan Denpasar.

Dijelaskan oleh Mgr.Frans, bahwa dalam Gerejawi Nusra, ada 2 Keuskupan Agung yakni Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Agung Kupang. Keuskupan Agung Ende, meliputi Keuskupan: Larantuka, Maumere, Ruteng, Labuan Bajo dan Denpasar. Sedangkan Keuskupan Agung Kupang meliputi Keuskupan: Weetebula dan Keuskupan Atambua.

Disampaikan Mgr Frans, bahwa pada Perpas XII Regio Nusra ini akan hadir juga Gubenur NTT, DITTIDSIBER BARESKRIM POLRI, Keuskupan Transit : Keuskupan Pangkalpinang, dihadiri oleh Romo Paskalis. Keuskupan tujuan : Keuskupan Kinabalu dihadiri oleh Fr.Ambrose Atang dan bapak Yohanes Solo, Keuskupan  Keningau dihadiri oleh Fr.Wilfried James dan Keuskupan Sandakan dihadiri oleh Fr.Stanley Natakim.

Selain itu akan hadir juga BP3MI NTT,  Brigjen Pol.Dayan Viktor Imanuel Blegur, SK.MH, M.Han., dan  Komisi Kerawam KWI, BapakYanuar Nugroho.

Sambutan kedua, Uskup Agung Ende. Mgr. Paul Budi Kleden mengawali sambutannya dengan memuji  Uskup Larantuka, Mgr. Frans,  yang meskipun tidak punya sekapur sirih dan juga tidak punya arak, tetapi beliau punya kebijaksanaan yang mampu menenangkan kedua gunung yang sedang aktif erupsi.

Sambutan Uskup Agung Ende, Mgr.Dr.Paul Budi Kleden,SVD.

Mgr. Budi Kleden mengatakan, tahun 2019 di Atambua diadakan Perpas XI dengan tema, “Gereja Nusra Peduli Migran Perantau”. Enam tahun kemudian yakni tahun 2025 ini, kita mengadakan Perpas XII, dengan tema: “Gereja Berwajah Migran,Berziarah Dalam Harapan: Mencari Praksis Pastoral”.

Mgr, Budi Kleden menjelaskan bahwa ada banyak persoalan menyangkut Migran Perantau. Migran perantau memerlukan tanggapan kita sebagai Gereja. Kita harus memperhatikan persoalan praksis pastoral menyangkut perekonomian, masalah keluarga dan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kesejahteraan umat manusia.

Uskup Agung Ende, Mgr.Dr. Paul Budi Kleden saat membuka Perpas Regio Nusra dengan Pemukulan gong.

Dalam Yubileum  2025 ini, Mgr.Budi Kleden mengingatkan agar perlu memperhatikan keluarga Migran perantau yang terdampak akibat erupsi ile Lewotobi dan juga ile Lewotolok. Kita semua juga adalah Gereja yang berwajah Migran Perantau.

Karena itu, “jadilah Gereja Migran Perantau seperti pelita yang terus memancarkan terang dalam kehidupaan yang penuh dengan kegelapan dan penderitaan”, pesan  Mgr. Budi Kleden mengakhiri sambutannya. ***

Peliput : Blasius Naya Manuk

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button