Sarasehan Lintas Lingkungan di Ampenan Dorong Makin Banyak Umat Terlibat dalam Kehidupan Gereja

AMPENAN — Kehidupan Gereja tidak dapat hanya bertumpu pada umat yang selama ini aktif. Tantangan memperluas partisipasi umat menjadi salah satu refleksi utama dalam Sarasehan Lintas Lingkungan Paroki Santo Antonius Padua Ampenan yang diikuti 90 peserta dari sembilan lingkungan, di Pelataran Trengganis, Karang Bayan, Lingsar, Selasa (25/8/2026).
Sarasehan yang diikuti para Ketua Lingkungan, Ketua Komunitas Basis Gerejawi (KBG), serta pengurus inti dari sembilan lingkungan tersebut menjadi ruang untuk merefleksikan kembali panggilan pelayanan, memperkuat komunikasi dan persaudaraan, sekaligus mencari langkah agar semakin banyak umat mengambil bagian dalam kehidupan menggereja.
Sementara itu, panitia telah lebih dahulu berada di lokasi untuk mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan. Seksi acara menyiapkan susunan kegiatan, seksi perlengkapan menata tempat serta memasang backdrop dan layar LCD untuk presentasi. Tim KOMSOS Paroki Ampenan juga mempersiapkan perangkat dokumentasi dan melakukan live streaming sepanjang kegiatan, sehingga seluruh rangkaian sarasehan dapat terdokumentasikan dan diikuti secara daring.
Ketua Panitia, Aleksius Suhardi, mengajak peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan semangat kebersamaan. Ia berharap pengalaman selama sarasehan tidak berhenti sebagai perjumpaan sesaat, tetapi menghasilkan semangat baru yang dibawa kembali ke lingkungan dan KBG masing-masing.

“Semoga kita datang dengan semangat kebersamaan dan pulang membawa semangat yang baru untuk melayani. Kita ingin semakin solid, semakin solider, dan semakin kuat dalam bekerja sama sebagai satu keluarga di Paroki Santo Antonius Padua Ampenan,” katanya.
Kegiatan dibuka oleh Pater Iron, SVD. Ia mengajak peserta melihat sarasehan bukan sekadar agenda bersama, melainkan kesempatan mengalami pembaruan melalui perjumpaan, refleksi, dan kebersamaan.

Menurut Pater Iron, berbagai tantangan pelayanan akan lebih ringan apabila dihadapi bersama. Karena itu, perjumpaan lintas lingkungan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang lebih kuat dalam kehidupan menggereja.
Pelayanan Adalah Panggilan, Bukan Sekadar Jabatan
Dalam sesi utama bertema “Fungsionaris Pastoral Dipanggil untuk Melayani dan Menghadirkan Kristus”, Pater Iron menegaskan bahwa menjadi ketua lingkungan, ketua KBG, bendahara, maupun pelayan Gereja lainnya bukan terutama soal jabatan atau kedudukan, melainkan panggilan untuk ambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Panggilan tersebut menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kelelahan, perbedaan karakter, konflik, perubahan zaman, perkembangan teknologi, hingga persoalan kaderisasi. Karena itu, pelayanan perlu berakar pada doa, kerendahan hati, kemampuan mendengarkan, dan kemauan untuk terus belajar.
Para fungsionaris pastoral juga dipanggil menjadi wajah Kristus di tengah komunitas dengan menjadi “jembatan, bukan tembok”—membuka jalan bagi perjumpaan, membangun komunikasi, dan merangkul umat dalam kehidupan bersama.
Iman Menjadi Dasar Kehidupan Menggereja
Pater Adi Manek, SVD, melalui materi “Berakar dalam Iman, Kuat dalam Hidup Menggereja”, mengajak peserta memahami iman bukan sekadar identitas atau aktivitas keagamaan, tetapi dasar kehidupan yang diwujudkan dalam relasi dengan Allah dan sesama.

Belajar dari Abraham dan kehidupan jemaat perdana, peserta diajak menyadari bahwa iman tidak dapat dipisahkan dari kehidupan komunitas. Pater Adi juga mengajak umat menjadi “penyembuh yang terluka” dengan berani hadir, mendengarkan, merawat, dan membantu sesama yang mengalami berbagai persoalan.
Sementara itu, Pater Iron membekali peserta mengenai pentingnya komunikasi dalam kehidupan menggereja. Komunikasi, menurutnya, bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi menjadi sarana menghadirkan kasih, membangun kebersamaan, dan menjaga persatuan umat.
Para pelayan umat diajak membangun komunikasi yang sehat melalui kasih, kejujuran, keterbukaan, dan kemampuan mendengarkan. Penggunaan media sosial pun perlu dilakukan secara bijaksana agar informasi yang dibagikan tidak memperbesar konflik, tetapi membangun harapan dan persaudaraan.
Kesehatan dan Kaum Muda Juga Menjadi Perhatian
Pembekalan juga mencakup kesehatan dan keterlibatan kaum muda. Suster Angela, SSpS, melalui materi “Tubuh dalam Sudut Pandang Kesehatan dan Gaya Hidup”, mengajak peserta menjaga tubuh sebagai anugerah dan titipan Tuhan melalui pola hidup sehat, makanan bergizi, kecukupan air, istirahat, dan olahraga.

Ia juga menekankan pentingnya kesehatan mental serta mengajak Orang Muda Katolik (OMK) mengambil bagian aktif dalam kehidupan Gereja melalui pendalaman iman, doa bersama, pelayanan liturgi, aksi sosial, dan berbagai kegiatan Gereja lainnya.
Selain pembinaan, peserta makan siang bersama dan mengikuti mini games yang melatih kerja sama, komunikasi, serta kemampuan mencari solusi bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan video singkat oleh beberapa kelompok sebagai ruang untuk mengembangkan kreativitas dan kekompakan.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pelayanan Gereja membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menjalankan program. Pelayanan juga membutuhkan relasi, komunikasi, keterbukaan, dan kesediaan untuk bekerja bersama.
Gereja Hidup, tetapi Partisipasi Umat Belum Merata
Bagi peserta, pengalaman tersebut menjadi semakin bermakna karena menyentuh kenyataan kehidupan Gereja sehari-hari. Salah seorang peserta, Aris Salubara, menilai sarasehan memberikan pengalaman yang relevan dengan kehidupan umat di paroki.
“Kegiatannya hidup, materi yang diberikan mantap dan mengedukasi. Apa yang dipaparkan oleh narasumber sesuai dengan kenyataan di paroki. Games-nya juga seru, membuat kita semakin kompak dan menyadari bahwa kita saling membutuhkan,” ungkap Aris.

Namun, Aris melihat masih ada tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama, terutama terkait partisipasi umat. “Selama ini gereja memang hidup, tetapi yang hadir dan terlibat masih orang-orang itu saja. Masih ada umat lain yang belum mau melibatkan diri dalam berbagai kegiatan gereja. Ini menjadi tantangan bagi kita bersama untuk membangun kesadaran bahwa kehidupan gereja adalah tanggung jawab semua umat,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu refleksi penting dari sarasehan. Penguatan para pengurus lingkungan tidak cukup hanya diarahkan pada kemampuan menjalankan program, tetapi juga pada kemampuan membuka ruang bagi semakin banyak umat untuk terlibat.

Partisipasi umat tidak hanya berarti hadir dalam kegiatan, tetapi juga menemukan tempat untuk menyumbangkan waktu, kemampuan, perhatian, dan talenta bagi kehidupan Gereja. Karena itu, para pengurus lingkungan dan KBG diharapkan mampu menjadi penghubung yang mengajak, merangkul, dan memberi ruang bagi umat yang selama ini belum aktif.

Sarasehan Lintas Lingkungan ditutup dengan foto bersama dan doa pulang. Perjumpaan sembilan lingkungan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk membawa semangat pelayanan kembali ke tengah umat—berakar dalam iman, berjalan dalam persaudaraan, dan menghadirkan Kristus dengan membuka ruang bagi semakin banyak umat untuk ambil bagian dalam kehidupan Gereja. *
Penulis: AnthonyLaziale_KomsosAmpenan
Editor: Hiro/KomsosKD



