LINTAS PAROKI

KABAR SUKACINTA KAMI

Praya-Kalau Opa Romo (RD. Barto Bere, Pastor Paroki St. Yohanes Pemandi Praya-Red) sudah sisir rambut klimis, rapi, sisir gaya belakang tempo 80-an, berarti akan ada acara besar, ya, betul.

Minggu kedua Paskah, Monsinyur Silvester San (Uskup Denpasar) berkenan datang dalam rangka kunjungan kanonik ke paroki kami, bersama Romo sekretaris RD Agustinus Sugiarto.

Nah..lengkap kan, umat sudah selesai misa jam 9 pagi dan Monsinyur mendarat persis jam 8.30 pagi. Martin Harianja, Ketua Lingkungan sudah standby jemput di Bandara, akhirnya jam 9.15 pagi, puji Tuhan, Monsinyur sudah tiba di Gereja Santo Yohanes Pemandi di Komplek IPDN, menyapa umat dengan senyum khas beliau.

 

Karena paroki kami tidak mempunyai aula yang representatif, Ibu-Ibu dengan sigap menata gereja dengan sebaik mungkin, setelah doa pembuka oleh Bu Ria Fernandes, Frater Rio Bara memulai  acara dan kegiatan kunjungan Kanonik pun berlangsung.

Praya-Selong, Paroki Paling Kecil sekaligus Unik

Setelah sapaan kasih Opa Bartho kepada Monsinyur, sekretaris Paroki Jon Fernandes melaporkan kegiatan paroki yang telah dilaksanakan dan sedang berjalan.

Disampaikan kepada Monsiyur, paroki ini paling kecil (dari jumlah umat) sekaligus unik. Umat yang mendiami Paroki Santo Yohanes Pemandi Praya-Selong tinggal di 2 Kabupaten, yakni Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur dengan jumlah umat 142 Jiwa, jarak yang membentang ini menjadi tantangan dan keunikan tersendiri bagi paroki ini.

Perlu kami kemukakan bahwa sejak peristiwa september 1998, tidak ada lagi bangunan gereja milik paroki, namun paroki ini memiliki 3 bangunan gereja yang dapat digunakan umat untuk melaksanakan ekaristi, yakni Gereja Santo Yohanes Pembaptis Komplek IPDN Praya, Gereja Oikumene Bait Allah Komplek Polres Lombok Timur dan Gereja Santo Mikael Komplek Kompi Bantuan TNI AD Pringgabaya.

Pembagian perayaan Ekaristi adalah pada Minggu pertama tiap bulan, Pastor Paroki akan mempersembahkan misa di Praya, minggu kedua akan mempersembahkan misa di Selong dan minggu ketiga mempersembahkan misa di Pringgabaya.

Sedangkan pada minggu yang bersamaan, Pastor dari Paroki Mataram atau Paroki Ampenan membantu mempersembahkan misa di Praya atau bahkan terkadang sampai ujung timur pulau Lombok, yakni Pringgabaya. Pada perayaan-perayaan penting karena keterbatasan Imam, maka Ekaristi akan selalu dilaksanakan di Praya.

Selain itu, masalah sosial yang muncul adalah kemiskinan dan kesenjangan yang disebabkan oleh sebagian besar umat paroki adalah para pendatang yang mencari kerja di wilayah ini. Para pemuda pendatang ini sebagian besar berprofesi sebagai freelancer penagih hutang pada Bank Perkreditan Rakyat, tinggal berpindah-pindah tempat di lingkungan mayoritas, sebagai kawanan kecil, mereka juga memerlukan pendampingan sehingga tidak terjadi “lompat pagar”.

Program pembinaan Iman bagi anak, remaja dan dewasa yang telah dilaksanakan adalah pembinaan Sekami, sedangkan untuk dewasa melaksanakan pembelajaran agama yang bertempat di masing-masing gereja atau tempat lain (biasanya di pastoran atau rumah Ketua KBG/Stasi).

Khusus untuk pembinaan iman, tenaga katekis dan frater sangat berperan penting, saat ini pelayanan katekis dilaksanakan oleh Stefanus Rengga dan Frater F. Evander Bara. Sejak 3 Tahun terakhir 3 orang sudah melaksanakan Baptis, 10 orang sudah menerima Komuni pertama dan 13 orang sudah menerima Krisma.

Pasca Dialog Kebangsaan

Setelah Keuskupan Denpasar bekerjasama dengan paroki dan FKUB Kabupaten Lombok Tengah yang bertajuk Temu Dialog Kebangsaan “Merawat Toleransi dan Kerukunan Dalam Kebersamaan,“ Mei 2024 yang dihadiri oleh Bupati Lombok Tengah, para pejabat setempat, tokoh agama juga tokoh masyarakat, ada harapan baru bagi umat untuk memiliki gereja antas nama Paroki-Keuskupan dengan akan dibangunnya Destinasi Wisata Religi di Kota Praya. Hal ini sejalan pula dengan dikembangkannya destinasi wisata internasional Mandalika oleh pemerintah Pusat.

Harapan Umat

Melalui kunjungan Monsinyur San, beberapa harapan telah disampaikan diantaranya adalah bantuan untuk renovasi Pastoran Praya. Umat sekalian juga berterima kasih kepada Para Pastor Paroki Mataram dan Ampenan yang dengan sukacinta membantu pelayanan misa di paroki ini serta berterimakasih atas program-program PSE dari Keusupan Denpasar yang telah menyentuh umat paroki.

Tanggapan Uskup

Patutlah kami bersyukur dengan kegembalaan Monsiyur San, mengapresiasi Opa Bartho dengan kesulitan tingkat pastoral dan juga ketabahan umat sebagai kawanan kecil di Lombok Tengah sekaligus Lombok Timur, jadi imannya pasti militan, di banggakan, jadi “Jangan takut.”

Seperti cara hidup rasul jaman awal (opa Romo tersenyum), resistensi terhadap pembangunan rumah ibadah akan selalu ada, tapi tentunya adalah harapan tidak akan mengecewakan dan Tuhan Allah sendiri yang memberi pertumbuhan.

Ditambahkan pula oleh Romo Agus bahwa kiranya segala jenis transaksi keuangan dan data aset wajib dilaporkan kepada Keuskupan dan terdokumentasi dengan baik. Akhirnya acara kunjungan kanonik Monsinyur berakhir pukul 12.00 dan dilanjutkan santap siang bersama di Pasturan Praya, kebersamaan yang menggembirakan, What a wonderful life !*

Penulis: Happy
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button